
Gubrakkkk!
Mata Ayaz melotot tidak percaya, Ekspektasi yang dipikiran Ayaz tiba-tiba saja buyar, menghilang bersama udara yang kian tidak bagus untuk pernapasannya. Apa Yaren sedang mengujinya?
"Kau... Bercanda?" tanya Ayaz, matanya meneliti seberapa serius Yaren mengatakan itu.
Yaren menggeleng cepat, 'ingin pizza' sepertinya juga tidak terlalu buruk, yah meskipun tidak terlalu masuk akal namun jujur saja hanya kata itu yang hinggap di pemikirannya saat ingin menjawab cepat.
"Kita di Itali, dan aku ingin memakan itu di negara yang memang tempat asalnya, maafkan aku!" ucap Yaren mencoba ekspresi terbaik untuk meyakinkan Ayaz, ia menunduk.
Ayaz mengangguk, lebih tepatnya terpaksa mengangguk, tersenyum samar sedang mencoba percaya.
"Itu mudah saja!" ucapnya setuju.
Lalu keduanya keluar untuk mencari restoran pizza terdekat.
Yaren menjadi salah tingkah, namun tampak juga menikmati kebohongannya. Pizza, yah itu alasan yang lumayan.
...***...
"Aku menemukannya!" ucap Kate, ia berhasil menemukan keberadaan pria yang bernama Dean Aries di salah satu kota di negara asing yang sedang dirinya sambangi ini.
Jauh-jauh ia pergi ke negara ini, hanya untuk menyelamatkan nama suaminya, ia tidak bisa membiarkan kemalangan dan ketidakadilan berpihak pada keluarganya.
Pertama anaknya jelas-jelas di bunuh, lalu Tuhan seolah belum cukup mengujinya, suaminya malah dijadikan tersangka utama, ia benar-benar tidak bisa mempercayai itu, apa lagi harus menerima yang begitu konyol baginya, seorang ayah kandung membunuh putranya sendiri, apa sudah gila?
Seseorang yang menjadi sopirnya itu gegas melajukan mobilnya cepat, ia juga sudah lama bekerja dengan keluarga Yarkan, sebagai seseorang yang setia apapun juga akan dirinya lakukan.
"Nyonya, semoga masalah ini segera menemui titik terang, semoga orang yang kita temui ini bisa memberikan kesaksian!" tukas sopirnya yang tampak prihatin.
Kate mengangguk, "Semoga saja!" sahutnya penuh harap.
__ADS_1
Keduanya tak lama sampai pada sebuah pedesaan, namun tempat itu cukup asri, udaranya juga masih segar mungkin karena agak jauh dari kota.
Kate turun dari mobil, matanya mengedar pada setiap sudut rumah yang terlihat, ia hanya diberikan petunjuk bahwa memang ada seseorang pria yang bernama Dean Aries di desa ini dan juga hanya mengandalkan sebuah foto di kartu identitas yang diberikan oleh Amla Huculak waktu itu, itupun dengan latar hitam putih.
"Nyonya, apa kita harus berpencar?" tanya si sopir.
Kate tampak berpikir, ada lebih baiknya jika mereka berpencar, desa ini kemungkinan sangat luas. Tapi Kate juga tidak yakin apakah semua penduduk di desa ini bisa mengerti bahasa Inggris, karena jujur saja Kate tidak bisa berbicara dengan menggunakan bahasa asing di negara ini.
Sopirnya juga lumayan mahir berbahasa Inggris, jika untuk itu ia tidak terlalu khawatir.
"Kita cari bersama saja!" putusnya kemudian.
Sopir itu mengangguk, lalu mereka keduanya mulai menyusuri desa. Kate melihat ada beberapa anak muda yang sedang berbincang di sebuah kedai, Kate terlihat tidak sabar untuk menghampiri.
"Excuse me, can I ask you something?"
Kate bertanya pada salah satu pemuda itu, namun balasan yang dilayangkan tampak seperti kebingungan dengan tengkuk yang digaruk padahal mungkin sama sekali tidak gatal.
Kate merasa ada secercah harapan saat ada yang mengerti apa yang dirinya katakan.
Lalu ia bertanya lagi, "Can we talk? I want to ask about this village!"
"Won't be long, there are some things I want to know!" lanjut Kate.
Pria pemilik kedai itu mengangguk setuju, lalu ia mempersilahkan Kate untuk duduk di salah satu kursi pelanggan.
Mereka terlihat berbincang santai, pria pemilik kedai itu memberikan beberapa jamuan untuk menemani perbincangan mereka.
...***...
Marco sampai di hotel, namun Ayaz tidak bisa di hubungi, pintu kamarnya juga tidak dibuka saat Marco beberapa kali mengetuk. Entah ada atau tidaknya manusia di dalam sana Marco tidak tau, karena seseorang bisa menjadi gila tiba-tiba kalau sudah dimabuk cinta.
__ADS_1
Hidup sendirian saat bagai liburan begini rasanya sungguh sepi, ia memang sering berkeliling dunia, hal seperti ini sebenarnya biasa baginya, namun dulunya semua itu ia lakukan karena pekerjaan. Dan dia menjadi sangat sibuk tanpa pernah merasa kesepian.
Saat ini, Marco bahkan tidak tau harus melalukan apa.
Marco menghubungi Rymi, namun beberapa kali panggilan anak gadisnya itu juga tidak mengangkat teleponnya, apakah ini derita? Derita karena memutuskan menjadi bujang tua?
Marco masuk ke dalam kamar hotelnya, setidaknya berendam di bathtub dengan sedikit menambahkan aromaterapi mungkin akan membuat tubuhnya menjadi lebih rileks, dan juga hal itu setidaknya bisa membunuh waktu untuknya.
Marco membuka atasannya, saat melihat mantelnya ia teringat lagi akan pelukan tiba-tiba yang dilayangkan gadis gila tadi.
Marco melihat ke arah mantel yang sedang dipegangnya itu lekat, tangan gadis itu masuk ke dalam mantelnya, memeluknya erat seolah mereka memang memiliki hubungan yang istimewa. Pria itu bergidik ngeri.
Tidak pernah ada yang berani melakukan hal itu padanya setelah kepergian Nindi, Marco selalu membentengi hatinya dari seorang wanita, bahkan selama ini wanita di klub malam saja tidak diberikan izin semacam itu, entahlah kalau dirinya dalam keadaan benar-benar tidak sadar.
"Menggelikan!" umpatnya.
Lalu ia membuang mantel seharga 2 juta USD itu ke tempat sampah, berikut dengan kaos yang dirinya kenakan.
Marco membasuh wajahnya, alis tebal itu tampak semakin garang jika terkena air. Untuk ukuran pria tua, sebenarnya Marco masih bisa dikatakan cukup tampan, pria itu memiliki kharisma tersendiri, anehnya wajah yang ditumbuhi jambang tipis itu malah menggambarkan sosok yang lebih muda dari umurnya.
Tubuh yang masih tegap seolah tak termakan usia, dada bidang itu masih sama seperti dua puluh tujuh tahun yang lalu saat berhasil memikat seorang Nindi Rowans. Tidak banyak perubahan pada diri Marco jika ditilik dari penampilan, namun jika menilai dari pola pikir, entahlah. Kadang pria berusia empat puluh sembilan tahun itu malah mengakui dirinya kurang memahami perasaan seseorang dibandingkan dengan Rymi putri angkatnya.
Terutama saat menyikapi masalah Ayaz, terus terang Marco benar-benar harus berterimakasih dengan Rymi.
Marco mengisi bathup dengan air, lalu menambahkan beberapa tetes aromaterapi, wangi yang dirinya sukai ternyata juga tersedia di sini, itu membuatnya lebih tenang.
Marco bukanlah orang yang mudah menyukai sesuatu, jika dirinya menyukai maka akan terus begitu, tidak bosan, tidak jenuh, selama dirinya hidup dirinya memang selalu menggunakan barang ataupun sesuatu lainnya yang itu-itu saja, contohnya wangi aromaterapi yang dirinya sukai ini, dia selalu menggunakan aroma yang sama, menyukai dan tidak mudah berpaling.
Jadi, begitupun tentang wanita, di hatinya masih bertahta nama Nindi Rowans sebagai kekasih hatinya, meski pada kenyataannya ia mengetahui bahwa Nindi sudah tiada, namun bagi Marco, Nindi tetaplah kekasihnya. Enggan menggantikan ataupun mencari yang baru untuk melupakan masa lalu, yang memang sudah lama, sangat lama, dan cukup lama bertahta di hatinya.
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, bagi-bagi hadiahnya atau Vote! Dukungan kalian sangat berarti bagi author... 🤗🥰...