
Rymi melihat cara Bosnya menjelaskan detil produknya pada Kepala Dinas Kesehatan, sebuah perusahan jika ingin maju maka harus mempekerjakan orang seperti Bosnya ini.
Harus Rymi akui, Bosnya itu memang nyaris sempurna, hanya saja entah mengapa sayang sekali hatinya tidak berlabuh untuk Pak Rangga.
Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum mereka melanjutkan makan siang di Aldy's Restauran, Sam mendekat ke arah sekretarisnya, nampaknya pria itu belum juga menyerah.
"Merve!" seru Sam.
"Ya Pak!"
"Mari kita berteman!" ajak Sam.
"Kita sudah berteman." sahut Rymi.
"Merve, kasih aku kesempatan, bagaimana kalau minggu ini..."
"Saya ada acara Pak." tolak Rymi.
"Acara apa? Katakan, aku bisa mengantarmu, atau ikut denganmu." kekeh Sam.
Rymi menatap canggung wajah serius Bosnya, bisa-bisanya seorang keturunan Donulai menjadi pemaksa seperti ini pikirnya.
"Merve!" seru Sam lagi.
Rymi menoleh, dilihatnya Bos yang tengah menatapnya juga.
"Beri aku kesempatan!" bujuk Sam lagi.
"Saya tidak mau memberikan harapan palsu." sahut Rymi.
"Jika kau belum memiliki kekasih, bukankah tidak masalah jika kita menjadi dekat."
"Tapi saya tidak ingin memiliki kedekatan khusus dengan Bapak."
"Hanya berteman, kau bisa menjauhiku jika aku memang tidak bisa membuatmu tertarik padaku." Sam masih juga tetap pada pendiriannya.
Rymi menghela napasnya berat, "Apa mau Bapak?" tanyanya.
"Kita kencan!" ajak Sam.
"Saya tidak punya waktu."
"Kalau begitu, bisakah kau bersikap tidak seformal ini, bagaimana aku bisa membuatmu tertarik padaku jika kau saja masih belum membuka hati." keluh Sam.
"Saya memang seperti ini." Rymi, wanita itu juga tidak kalah kekeh atas penolakannya.
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika aku mendekatimu tanpa permisi, aku sudah meminta hatimu baik-baik, namun kau tetap tidak bisa memberikan aku kesempatan, kau tau, aku masih punya berbagai cara untuk masuk ke dalam hidupmu meski kau tidak membukakan pintu sekalipun." tantang Sam.
Sam sudah habis sabar sepagi ini dia mencoba mendekati sekretaris yang ditaksirnya itu, namun berapa kali menunjukkan perasaannya tetap saja berujung penolakan, dan Sam tidak akan menyerah semudah itu.
...***...
Marco baru saja bangun dari tidur panjangnya, Rymi bahkan menguncinya di kamar, dia yakin sekali Rymi yang membawanya ke kamar lalu menguncinya. Untung saja Marco mempunyai kunci cadangannya kalau tidak mungkin pria paruh baya itu akan mengeras di kamar.
Pria itu mengingat apa yang telah membuatnya begitu tertekan hingga beralih ke alkohol, dan kemudian rahangnya mengeras karena dirinya sudah ingat apa biang masalahnya.
"Ayaz keparat!" umpatnya.
__ADS_1
Pria itu gegas bersiap untuk menemui anak buahnya itu di hotel, Marco tidak bisa membiarkan Ayaz pergi begitu saja.
Sesampainya di hotel, Marco harus kembali menggeram kala didapatinya Ayaz sudah meninggalkan hotel itu tadi pagi, dan mobil anti peluru miliknya sudah Ayaz titipkan pad pihak hotel, sepertinya Ayaz tau kalau Marco pasti akan mencoba menemuinya.
"Di mana anak itu?" gumam Marco.
Marco menghubungi Ayaz, namun tidak diangkat, segera Marco melacak keberadaan Ayaz lewat aplikasi di ponselnya, namun lagi-lagi dirinya harus menemui jalan buntu. Ayaz, anak buahnya itu tidak bisa terlacak keberadaannya karena ponsel berisi kartu yang biasanya Ayaz gunakan nampaknya sengaja Ayaz tinggalkan di mobil miliknya.
"Oh ****!" umpat Marco.
Marco menggeram frustasi, bagaimana pun Ayaz adalah harta berharganya, terlebih kasus Ali Yarkan sebentar lagi mungkin akan di buka, jika Ayaz sampai tertangkap, Marco tidak bisa menjamin Ayaz akan membebaskannya, Marco tidak bisa mencegah jika Ayaz juga menyebutkan namanya.
"Ayaz..." berangnya.
Marco kembali ke markas, perihal mobil nanti akan dirinya selesaikan, rasanya Marco hanya ingin minum-minum saja untuk sejenak melupakan masalahnya, namun dia sudah berjanji pada Rymi untuk menjaga kesehatannya.
Mengingat anak gadisnya itu, Marco berencana akan mengatakan sesuatu pada Rymi menyangkut misi yang mereka lakukan.
"Di mana?"
^^^"Sedang dalam perjalanan menuju Aldy's Restaurant!"^^^
"Kau sibuk?"
^^^"Daddy tidak apa-apa?"^^^
"Sedikit masih mabuk, tapi tenang saja. Hehe, apa bisa pulang cepat?"
^^^"Akan aku usahakan Dad!"^^^
^^^"Baiklah, mungkin sore nanti aku langsung ke rumah."^^^
"Baiklah gadis kecil!"
^^^"Daddy!"^^^
"Ya!"
^^^"Jangan mabuk lagi."^^^
"Hahahahaha, semoga saja."
Marco langsung saja menutup telponnya, gadis kecilnya mulai cerewet.
"Kali ini apa lagi yang aku katakan saat mabuk, Rym pasti mengetahui sesuatu karena aku yang biasanyanya terus meracau." gumam Marco.
...***...
"Siapa?" tanya Sam saat Rymi sudah menutup telpon.
"Daddy saya Pak!" jawab Rymi jujur.
"Oh, orang tuamu? Apa katanya?" tanya Sam lagi, mencoba akrab meski Rymi tampak tidak senang dengan sikapnya.
"Tidak ada!" singkat Rymi.
"Masa tidak ada?"
__ADS_1
"Haaahh!" Rymi menghela napasnya, "Daddy meminta saya untuk pulang cepat, apa bapak tidak keberatan?" jawab Rymi lagi, kali ini dirinya memang benar-benar jujur, jika Bosnya mengizinkan maka dia akan sangat senang hati.
"Tergantung, jika kamu mau bekerja sama denganku." jawab Sam.
"Bekerja sama seperti apa yang Bapak inginkan?" tanya Rymi.
"Kencan!" bujuk Sam lagi dan lagi.
Cih, mati saja sana, aku lebih baik pulang terlambat.
"Bagaimana?"
"Tidak usah, saya akan menemani Bapak sampai kegiatan Bapak hari ini selesai." tolak Rymi.
"Ya baiklah, aku tidak menawarkan dua kali ya."
Apa sih, dasar gila!
"Mau tidak?"
"Tidak Pak!" jawab Rymi pasti.
Sam nampaknya kecewa karena wanita yang ditaksirnya bahkan tidak mempan disogok seperti itu.
"Daddymu tinggal di kota ini juga?" tanya Sam, mencoba mencari pembahasan lain.
"Iya!" singkat Rymi.
"Kau bilang, kau tinggal sendiri, mengapa?"
"Saya rasa Bapak tidak perlu mengurusi saya sampai sejauh itu."
"Ah iya, maaf! Tapi aku benar-benar ingin tau, jadi gimana ya?" ucap Sam tanpa dosa.
"Jangan mencari tau tentang saya, karena itu sama sekali tidak ada gunanya."
"Menurutmu tidak berguna? Kenapa?"
"Saya bukanlah orang yang pantas Bapak urusi."
"Tapi aku tetap mau ngurusin kamu, apa kamu punya solusi biar aku lebih mudah ngurusin kamu, misalnya membuat kamu tertarik padaku." goda Sam.
"Itu akan berakhir sia-sia."
"Belum juga dicoba, udah bilang gitu aja, ucapan itu adalah doa, jadi bilangnya yang baik-baik dong Merve!" rayu Sam.
Rymi membuang muka, malas sekali harus berdebat dengan orang seperti Bosnya ini, beberapa hari mengenal Rangga Donulai, ternyata pria itu bukanlah pria yang dingin, buktinya saat ini bahkan Rymi malah tak henti-hentinya kesal dibuatnya.
"Merve!" panggil Sam.
"Aku bakal berdoa biar kamu jatuh cinta sama aku!" ucap Sam dengan percaya diri level tinggi.
Rymi melihat ke arah kaca mobil, sialan sekali rasanya dia harus berdua dengan Bosnya ini, dan lebih sialnya lagi mengapa Rymi malah tergelitik dengan doa yang baru saja dinyatakan Bosnya tadi.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1