Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Memangnya saya peduli?


__ADS_3

Astagah...


Yaren teringat akan sesuatu,


Yah, saat di rumah hutan Yaren melihat dengan jelas kalau wajah Ayaz memang terlibat perihal kasus Ali Yarkan sekitar empat bulan lalu.


Bahkan, wajah pria yang kini menjadi suaminya itu pernah dirinya lihat dalam potongan koran. Mengerikan, apa itu artinya...


“Kenapa? Kau merindukanku?” tanya Ayaz dengan kerlingan matanya, menyadarkan Yaren tentang lamunannya. Yaren tersentak, bahkan seketika ia lupa tadi dirinya menanyakan apa pada Ayaz.


“Ahh, emm... Ya!” kikuk Yaren, bagaimana pun ia tidak seharusnya berada di situasi ini.


“Heh.” Ayaz memiringkan sudut bibirnya, menatap curiga pada Yaren.


“Apa ada yang datang ke rumah hari ini?” tanya Ayaz dingin.


Yaren lebih-lebih tersentak, tidak percaya kalau Ayaz akan menanyakan itu, bagaimana bisa? Maksudnya, mungkinkah Ayaz sudah mengetahui ada seseorang datang.


“Ayaz...” gugup Yaren.


“Kenapa?” tanya Ayaz lagi, kali ini lembut, tidak dingin seperti tadi, Ayaz menyadari nada bicara dan tatapannya pastilah membuat Yaren sedikit ketakutan.


“Emm...”


“Dari nada bicaramu yang menanyakan aku sudah pulang saja, aku sudah bisa mengetahui apa yang tadi terjadi.” Ayaz mendekat pada Yaren, mengikis jarak yang ada, Ayaz bagai hendak menelan Yaren bulat.


“Seseorang datang, dan memberikan sesuatu.” aku Yaren, meski dia merasa harus membicarakan perihal si pemberi hadiah itu pada Ayaz saat waktu santai, namun siapa yang menyangka keadaan mendesaknya untuk selalu siap seperti ini.


“Apa?” tanya Ayaz. Siapa yang telah berani datang ke rumahnya, apa terjadi sesuatu pada istinya itu, Ayaz takut salah satu dari musuhnya mengetahui keberadaanya dan memanfaatkan kepolosan Yaren.


“Sebuah ponsel.” Jawab Yaren.


“Ponsel?” tanya ulang Ayaz.


“Ada di kamar, aku akan mengambilnya.” Yaren meminta izin untuk lepas dari kungkungan Ayaz, hal yang pertama yang dirinya lakukan saat lolos adalah mengelus dadanya, kesehatan jantungnya benar-benar memburuk. Pria itu suka semaunya, kadang bisa membuat hati Yaren berbunga namun ada kalanya juga bagai tertikam pisau tepat di jantungnya. Serangan tiba-tiba itu sama saja seringnya membuat Yaren kelimpungan.

__ADS_1


Yaren mengambil ponsel yang diberikan si pemberi, namun untuk uang serta surat ataupun yang lainnya, Yaren tetap bertekad akan menyembunyikannya sampai ia berkesempatan bisa bertemu lagi dengan pria itu.


“ini.” Yaren memberikan sebuah ponsel beserta kotaknya yang masih terlihat baru itu pada Ayaz, berusaha bersikap biasa saja, atau sedikit risih karena seseorang sudah memberinya, supaya Ayaz bisa mempercayai ekspresi wajahnya.


“Kau sudah bekerja keras.” gumam Ayaz. Meski melakukan trik apapun, tampaknya Ayaz bisa cukup percaya diri, karena menurutnya Yaren begitu lemah tentang cara menipu orang.


“Harus bagaimana?” tanya Yaren, menunjuk ponsel itu, sedikit tidak rela, namun ia harus melakukannya.


“Terserah kau saja!” jawab Ayaz. Melihat sekilas ponsel itu dan lalu membuka fitur-fitur di dalamnya, Ayaz sepertinya mengetahui siapa yang tadi mencoba menemui Yaren.


“Bisanya mencuri, tidak bisa datang menghadapku? Berkata ingin melindungi, cih.” Gumam Ayaz, lalu ia kembali berfokus pada acara tv yang menampilkan live tentang bagaimana proses penyidikan kasus Ali Yarkan.


Yaren sedikit heran mengenai gumaman Ayaz, mencuri? Siapa yang mencuri? Apa orang yang baru saja mengantarkan kado padanya itu? Tapi tidak mungkin kan.


...***...


Rymi masih memandang lekat wajah  Daddynya, salahnya juga yang terlalu senang melihat Marco sudah bangun, dia jadi tidak memperhatikan pergerakan Marco.


“Sudah tidak apa.” ucap dokter itu, seolah menjalarkan sebuah kekuatan besar untuk Rymi.


“Kira-kira, mengapa Daddy saya bisa pingsan tiba-tiba seperti itu Dok?” tanya Rymi penasaran.


“Kondisinya belum stabil, cedera di kepalanya membuat pasien tidak bisa bergerak refleks, jika ingin bangun dari berbaring, diusahakan supaya bisa lebih tenang, jangan langsung tanpa perhitungan, hal ini masih akan terus dirasakan pasien selama cedera di kepalanya masih ada.” Jelas dokter itu.


Rymi mengangguk patuh, dia mengerti dan mengucapkan terima kasih.


Rymi duduk di tepian ranjang, pikirannya mulai berkelana, mengingat percakapannya dengan Marco waktu itu, saat itu Rymi berniat ingin menggoda Marco, mengatakan kalau Daddynya itu begitu mirip dengan Ayaz, dari sifat bahkan parasnya. Tidak disangka, hari ini dirinya menemukan sebuah kebetulan lagi.


“Semoga yang aku pikirkan ini bukan, aku tidak bisa membayangkannya.”


Dalam lamunannya yang masih memandangi wajah Marco, Rymi dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka. Wanita itu langsung saja menoleh, terlihat Sam dengan langkah pasti mendekat ke arahnya.


Rymi memutar bola matanya malas, mau apa lagi pikirnya pria itu menemuinya.


“Merve...” seru Sam.

__ADS_1


“Iya Pak!” sahut Rymi, ia mulai bersikap profesional, menganggap Rangga tidak lebih dari seorang atasannya.


“Kita perlu bicara.” ujar Sam.


“Jika masalah pekerjaan saya siap Pak, namun jika diluar itu, saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan antara kita.” ucap Rymi, dengan pasti ia langsung saja menolak Sam.


“Merve!” berang Sam. “Bagaimana bisa kamu tidak punya hati seperti ini.” Sam menggeleng pelan, Rymi adalah yang terburuk sebanyak ia mengenal wanita.


“Bapak tidak perlu mengatakannya, saya mengakui itu.” ucap Rymi lagi, bukannya marah akan perkataan Sam, namun wanita itu seolah bisa menerima dengan tanpa masalah. Namun wajahnya yang datar membuat Rymi benar-benar sulit ditebak.


“Setelah yang kita lalui, kamu masih bisa bersikap seperti ini, begitu acuh tanpa merasa harus menyelesaikan segalanya.” Rangga setengah gila karena perlakuan Rymi yang begitu tidak peduli padanya. Sedang ia, bagai anak perawan yang sedang mencoba memperjelas statusnya, dan mengingatkan lagi pada Rymi tentang apa yang terjadi dengan mereka berdua.


“Saya sudah menyelesaikannya, saya berharap Bapak tidak mengungkitnya lagi.” ucap Rymi, wanita itu menunduk hormat pada pria tampan yang menjadi atasannya ini.


“Katakan, katakan apa salahku, apa kurangnya aku?”desak Sam.


“Bapak tidak mempunyai kekurangan sedikitpun.” Ucap Rymi lagi, bagai penjilat. Ya, agung-agungkan saja, meski Rymi serasa mau muntah.


“Merve, saya tidak mau tau, saya akan bertanggung-jawab.” Ucap Sam dengan tekad bulatnya.


Rymi memiringkan sudut bibirnya, haruskah Bosnya itu sampai seperti ini, apa sudah gila?


“Tidak akan terjadi apapun pada saya, hentikan kekhawatiran Bapak yang berlebih.” sahut Rymi.


“Tapi...”


“Bapak bisa menjalani hidup normal Bapak, saya bersih dari apapun, sekali lagi, saya berharap apa yang terjadi pada kita semalam, Bapak bisa melupakannya.” Kekeh Rymi. Wanita itu sedang mencoba menahan kesal, mengapa pria gila ini tidak juga mengerti pikirnya.


Sam mendekat, mengikis jarak antaranya dan Rymi. Matanya menatap lekat wanita itu, tidak ada raut kebencian, namun jika adanya kekesalan itu sungguh nyata.


“Kalau kau tidak mau Daddymu mengetahui tentang kita semalam, sebaiknya kau mengikuti apa kemauanku.” ucap Sam dengan seringainya.


Rymi tak kalah, menatap balik Sam dengan tanpa gentar, “Memangnya saya peduli?” ucapnya remeh.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2