
Ruangan yang sama lagi, mengapa begitu pelik apa yang dirinya lihat ini.
Ayaz begitu penasaran, meski terpikir kalau pintu yang di hadapannya kali ini juga akan menampilkan ruangan yang sama, tapi tubuhnya sudah bergerak leluasa menuju pintu itu.
Ayaz menggeleng pelan, tidak percaya kalau dia akan menemukan ruangan seperti ini, ini adalah ruangan ke lima sejak dari dirinya membuka pintu pertama, mata dan otaknya masih juga tidak bisa mengerti apa yang terjadi.
Tangannya terulur lagi, hingga Ayaz tidak bisa menghitung entah sudah pintu ke berapa dirinya sambangi, ingin dirinya kembali namun langkahnya bahkan sudah teramat jauh. Ayaz hanya berharap pintu-pintu membingungkan ini akan segera menemukan akhirnya.
Ceklek,
Sebuah cahaya putih menyilaukan matanya, Ayaz melindungi matanya dengan satu tangan, ia berpikir mungkinkah yang dibukanya kali ini adalah pintu terakhir, karena dia tidak lagi menemukan ruangan yang sama melainkan cahaya putih menyilaukan.
Ayaz melangkahkan kakinya mendekat, dan benar, ia benar-benar keluar dari ruangan itu, pintu itu benar adalah pintu terakhir.
Ayaz mencoba melawan cahaya itu untuk mencari jalan keluar, ia menemukan sebuah pintu di ujung jalan, Ayaz membawa dirinya menuju ke sana.
Saat pintu terbuka, Ayaz mengedarkan pandangannya, Ayaz takjub, ia bahkan menemukan sebuah gurun yang sangat luas, tidak ada satu pohon ataupun tanaman lainnya yang tumbuh di gurun itu, gurun itu begitu gersang seperti sudah sangat lama tidak tersentuh air.
"Benar-benar tidak bisa dimengerti!"
Ayaz sedikit bingung jika dirinya harus memutuskan untuk berjalan di gurun ini, bahkan luasnya gurun ini pun ia tidak tau, entah akan ada akhirnya atau tidak, Ayaz tidak bisa mengambil resiko untuk itu. Apa lagi, saat ini dirinya juga begitu lelah.
Lama Ayaz berpikir, hingga peluh mulai membasahi tubuhnya, ia butuh air namun entah di mana akan mendapatkan benda berharga itu.
Siapa sangka, gurun itu nyatanya sangat panas, hingga Ayaz bisa mengalami dehidrasi dengan begitu cepat, haus tak tertahankan, Ayaz bahkan mulai mengalami sakit di kepalanya, rasa tidak nyaman itu begitu menyiksanya. Hingga Ayaz tidak sadar, tubuhnya jatuh karena lemas tidak berdaya.
Sementara di bagian lainnya,
Marco berteriak keras dan memerintah, pria itu begitu kalut, memarahi semua orang yang dianggapnya lamban memeriksa putranya.
__ADS_1
Padahal, seluruh orang kepercayaannya yang bertugas di sana sudah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Ayaz.
Entah bagaimana bisa terjadi, saat Marco memasuki ruang perawatan Ayaz, dilihatnya sang anak sudah seperti orang dehidrasi, bulir keringat yang tampak besar membasahi tubuh Ayaz, Marco berteriak meminta bantuan, pria itu sedikit banyaknya juga mengerti tentang medis, namun Ayaz masih belum sadar lalu mengapa bisa terjadi hal semacam itu.
"Apa yang terjadi? Katakan!" teriaknya.
"Tuan, kau mengganggu konsentrasi kami, harap tenang, tim kami sedang berusaha memeriksanya, tolong tenangkan diri Tuan!" ucap Mike, ia sedikit frustasi menghadapi kemarahan Marco.
"Aarrggghh!" erang Marco, tangannya mengepal lalu tanpa sadar ia melayangkan tinjunya pada dinding, ingin sekali ia menghabisi Mike saat itu juga, namun baginya itu tidak akan ada gunanya, Mike harus menyelamatkan putranya, dia butuh orang itu demi memberikan kehidupan untuk Ayaz.
"Lakukan apa saja, periksa, mengapa dia bisa sampai begitu, selamatkan dia, aku mohon!" ucap Marco frustasi.
Tubuhnya bersandar di dinding, kakinya melemas, perlahan tubuhnya luruh juga jatuh ke lantai, sungguh Marco merasa dirinya saat ini bagai orang yang tidak berguna. Bahkan kekayaan dan kekuasaannya saja belum tentu bisa menyelamatkan Ayaz putranya.
...***...
"Kami mohon Pak, hanya ini satu-satunya harapan saya, suami saya sedang bertaruh nyawa di sana, suami saya benar-benar membutuhkan darah itu."
"Jika memang itu niat kalian, baiklah... Silakan pergi ke ruang arsip, di sana ada penjaga, namun donor darah masal itu sudah sangat lama sekali, kalian bisa mencarinya di gudang jika tidak menemukan yang kalian cari." ucap Kepala sekolah itu.
Yaren dan Rymi mengangguk, lalu mereka permisi untuk mengunjungi ruang arsip.
Di ruangan Arsip.
Rymi dan Yaren bersyukur setelah melihat ruangan yang nampak tertata rapi, hal ini tentulah bisa memudahkan keduanya untuk mencari. Apa lagi, dilihat Rymi arsip itu dikelompokkan berdasarkan tahun ajaran, dan lebih beruntung lagi, arsip di ruangan itu masih menyimpan arsip untuk sepuluh tahun yang lalu.
"Saat donor darah itu, kau sudah kelas berapa?" tanya Rymi pada Yaren.
"Kelas dua!" jawab Yaren pasti. Ia benar-benar ingat, saat dirinya kelas dua SMA sekolahnya ini memang pernah mengadakan donor darah masal.
__ADS_1
"Orang yang kau maksud benar satu angkatan denganmu?" tanya Rymi lagi.
"Aku rasa begitu, hanya saja aku tidak tau namanya dan juga tidak tau dia kelas berapa, semoga saja iya!" jawab Yaren, tangannya mengambil satu berkas di lemari dan mulai membukanya.
"Semoga saja."
Rymi menghidupkan salah satu komputer di ruangan itu, berharap dirinya menemukan sesuatu. Meski dirinya tau tindakannya melewati batas namun ia tidak peduli.
"Rym... Kau?"
"Cari saja, aku juga sedang berusaha!" sahut Rymi.
"Kita tidak bisa seperti ini, bagaimana jika ketahuan?" Yaren bertanya lagi, Rymi seolah gampang saja sudah mengotak-atik komputer itu.
"Aku tidak peduli!"
"Rymi, kita mungkin tidak akan diperkenankan berada di sini jika kita berlaku tidak sopan begini!"
"Yaren, lakukan saja apa yang harus kau lakukan, bagiku meski aku harus memakimu untuk aku bisa menyelamatkan Ayaz, maka akan aku lakukan, tidak peduli kau istrinya atau bukan, bagiku selama Ayaz bisa diselamatkan maka akan aku lakukan, apapun itu, yah apapun itu... Jangankan hanya mengotak-atik komputer ini untuk mencari data anak itu, jika kau masih terus melarangku, maka haruskah aku tanya kau sudah melakukan apa untuk menyelamatkan Ayaz? Berlaku tidak sopan? Heh, gila saja."
"Rymi..." bentak Yaren, Rymi menoleh memandang sengit Yaren, entah mengapa ia merasa Yaren adalah salah satu penyebab Ayaz mengalami semuanya, awalnya ia mencoba yakin namun setelah dirinya pikir, jika saja bukan karena kecerobohan Yaren, mungkin Ayaz sudah bahagia membalaskan dendam pada Sian, menyiksa pria jahat itu tanpa ampun, dan bukan malah berakhir seperti ini.
"Aku istrinya! Kau tau, jangan lupa, jangan melewati batas!" bentak Yaren lagi.
Rymi menambah rasa geramnya, "Kau berkata kau istrinya Ayaz di sini? Apa yang aku katakan padamu semalam belum cukup? Ayaz tidak akan bisa bertahan hidup jika kita tidak bisa mendapatkan darah itu segera, kau tau itu artinya? Memuakkan, aku bahkan harus menguatkan hatiku untuk tetap menyukaimu dan mengabaikan kecerobohanmu hingga membuat Ayaz mengalami semua ini!"
"Aku tidak ada apa-apa dengan suamimu, singkirkan rasa cemburumu itu, kami hanya dua orang yang terpaksa harus saling peduli, jangan terlalu berlebihan!" geram Rymi.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...