Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ayaz sudah tiada!


__ADS_3

"Katakan padaku Kakak! Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Yaren tidak sabar, kehadiran Jovan bagai angin segar baginya, ia membutuhkan jawaban, dan berharap Jovan bisa menenangkannya dengan jawaban yang mendatangkan kabar baik.


"Yaren..."


"Apa Kak? Katakan!"


"Ayaz sudah tiada!"


"Deg!"


Yaren menatap wajah Jovan yang terlihat begitu serius saat menjawab itu, matanya enggan berkedip, masih mencoba memahami secara baik-baik tentang jawaban apa yang baru saja keluar dari mulut Jovan.


Setelah tersadar, Yaren menggeleng pelan, ia tersenyum memaksakan diri, "Tidak mungkin, tidak mungkin!"


"Hah, hah hah hahahaha!" tawanya sedikit keras namun hanya ada kepahitan saat mendengar itu.


"Kakak jangan mengatakan hal yang tidak benar, aku tidak akan percaya!"


"Yaren..."


"Aku tidak perlu dikasihani, jika hadirnya Kakak di sini hanya untuk mengasihaniku, maka silakan pergi!" usir Yaren dengan tegasnya.

__ADS_1


"Maafkan aku!"


"Pada awalnya takdir kami memang tidak pernah ada, kami hanya dua orang yang memaksa untuk bersama padahal tidak ada yang menginginkannya!" lirih Yaren.


Ia melihat gambaran dirinya di cermin, sungguh miris, apakah ia harus percaya bahwa Ayaznya sudah tiada.


"Waktu yang diberikan pada kami memang tidak pernah ada!" lanjutnya.


"Sejak hari itu, sejak aku bertemu Ayaz, hidupku berantakan! Aku merasa telah menghancurkan hidupku sendiri saat mengenalnya, tapi... ternyata tidak juga, mengenalnya bukanlah sesuatu yang buruk, dia malah membuatku merasakan bagaimana rasanya di istimewakan, Ayaz bilang mencintaiku sangat sering, sangat keras, berkali-kali, dia tidak lelah mengatakan mencintaiku!"


"Katanya dia akan menemaniku terus-terusan, kami akan membangun sebuah rumah tangga bahagia, ada aku... Dia, dan buah hati kami! Dia sudah setuju, kami sudah sepakat untuk memiliki bayi yang mungil dan lucu!"


"Apa Kakak sedang mengatakan kebohongan? Aku bisa memaklumi, aku akan lebih bahagia jika Kakak mengatakan itu tidak benar!"


"Yaren, maafkan Kakak!"


"Kakak tidak perlu meminta maaf, Ayazku masih hidup, kalian saja yang tidak mengenalinya!"


"Hari demi hari, aku merasakan kebahagiaan, dia membuatku merasakan kebahagiaan setiap hari, setiap waktu, setiap saat berada di dekatnya, aku sering mengalah padanya namun dia selalu menghiburku!"


"Bukankah kami tidak boleh berakhir? Bukankah rasanya kami terlalu awal untuk berpisah?"

__ADS_1


"Ayazku tidak akan meninggalkan aku seperti ini, dia tidak akan meninggalkan aku begitu saja, tanpa perpisahan, tanpa kata-kata manis, tanpa memelukku, aku ingin mendekapnya begitu lama, erat dan sangat erat, hingga aku bisa menahannya untuk pergi!"


"Aku akan menahannya sebisaku, kalau perlu aku berlutut di hadapannya, aku akan mencegahnya untuk pergi, dia tidak bisa meninggalkan aku!"


Jovan mengusap punggung Yaren, mencoba meredam kesedihan yang tengah melanda hati adiknya itu, tangannya dengan sigap membawa Yaren ke dalam pelukan.


"Ikhlaskan!" ucapnya pelan, lalu Jovan merasakan punggung Yaren bergetar, tangis adiknya itu mulai terdengar begitu menyakitkan.


"Hiks hiks... Ayaz... Dia tidak akan pergi Kakak, dia masih hidup... Ayaz, Ayazku pasti akan kembali!"


"Sudah sayang, sudah..." ucap Jovan lagi, ia juga bingung bagaimana caranya menjelaskan pada Yaren.


"Ayaz, pulang sayang, Ayazku... Pulang sayang!" lirih Yaren di sela-sela tangisnya.


Jovan terus saja mendekap Yaren erat, namun ia mengurai dekapannya itu kala mendengar Yaren yang sudah berhenti menangis, disibaknya helai rambut yang menutupi wajah adiknya itu, mata Yaren sudah terpejam, Jovan tau pasti sudah terjadi sesuatu pada adiknya itu.


"Yaren..." Jovan menepuk pipi Yaren pelan, membawa Yaren menuju pembaringan, ia tak berhenti menyerukan nama adiknya itu namun tidak juga sadar dari pingsannya.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....

__ADS_1


__ADS_2