Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Tutup mulut kalian.


__ADS_3

Pagi itu, Amla dikejutkan dengan viralnya pemberitaan media tentangnya. Bagaimana bisa apa yang terjadi di villa lama keluarga Huculak kemarin bisa disiarkan secara langsung di sosial media? Ia begitu geram dan pagi ini ia sudah bertekad untuk menuntut pihak penyidik yang dianggapnya paling mungkin menyiarkan proses penyidikan tersebut.


Kemarin seharian ia tidak melihat ponselnya, jadi ia tidak menyadari kalau dirinya sudah viral di jagat maya, anehnya mengapa banyaknya netizen yang berkomentar kalau dirinyalah yang membunuh suaminya, bukankah penyidikan kemarin adalah serangkaian proses penyidikan kasus kematian Dale Adrie.


Amla benar-benar merasa dirugikan, kepalanya mulai pening, kasus yang dihadapi olehnya kali ini semakin pelik. Awalnya hanya kasus hilangnya sang suami berikut dengan kematian pengawal yang ditugaskannya, kemudian berlanjut dengan kematian Sian yang sedang menunggu hasil otopsi. Dan sayangnya Amla tidak tahu apa yang akan terjadi lagi setelahnya.


Amla menebak apakah ini semua adalah perbuatan Ayaz? Tapi mengapa Ayaz sama sekali tidak bisa dilibatkan dalam kasus ini, bahkan dirinya tahu Ayaz lah yang telah menculik Sian, suaminya. Namun mengapa sama sekali tidak terdengar nama Ayaz sebanyak kasus ini diselidiki?


Apakah Ayaz sudah merancangnya dengan sedemikian rupa? Ya Amla mulai menyadari itu, kini Ayaz bukanlah lawan yang bisa diremehkan, saat ini pria itu benar-benar telah mengibarkan bendera perang padanya.


Banyaknya makian yang dilayangkan oleh publik membuat Amla menjadi kalang kabut, pagi ini setidaknya sudah lima perusahaan yang membatalkan kerjasama pada perusahaan suaminya dan juga ada beberapa investor yang menarik sahamnya, namanya Amla Grace Huculak kini benar-benar menjadi buruk dipandang negaranya, sebutan sebagai wanita kejam pembunuh suaminya pun tersemat begitu banyak publik membullynya.


Amla benar-benar pening, kakinya dengan cepat mengambil botol obat dari laci nakas di kamarnya, tangannya mulai mencari-cari obat penenang yang kadang dikonsumsinya saat menghadapi beberapa masalah. Namun tanpa sengaja tangannya meraba sebuah botol obat yang tampak asing, Amla rasa ia tidak pernah mengkonsumsi obat lain selain obat yang biasanya ia konsumsi.


Ia mengambil botol obat itu, namun saat ia ingin membukanya tiba-tiba saja terdengar suara keributan dari luar.


"Nyonya Amla, keluar!"

__ADS_1


"Nyonya Amla, anda harus bertanggung jawab, berikan pengertian kepada kami, bisakah anda menjelaskan apa yang terjadi di villa kemarin, berikan pengertian pada kami, katakan bahwa anda tidak sekejam itu, katakan!"


"Tuan Sian begitu baik memperlakukan anda sebagai Nyonya di rumah ini, tapi inikah balasan anda? Nyonya Amla keluar! Anda harus bertanggung jawab!"


"Nyonya Amla keluar! Anda harus menjelaskan semuanya di hadapan kami yang bahkan sudah lebih lama mengabdi pada Tuan Sian dari pada kehadiran anda di sini!"


"Anda harus mempertanggungjawabkan perbuatan anda, Tuan Sian berhak menemui damai di kematiannya, Tuan Sian berhak beristirahat dengan tenang."


Amla melepaskan kembali botol obat itu, ia memegangi kepalanya, tidak cukup oleh pemberitaan di media tentang betapa buruknya ia, dan kali ini para pekerja di rumahnya juga turut memakinya.


"Hentikan, aku bukan pelakunya, bukan aku pelakunya."


Amla benar-benar tidak mengerti, mengapa semua orang berkomentar mengatakan kalau ialah yang membunuh suaminya, padahal hasil otopsi Sian saja belum keluar.


Dan juga hanya karena sebuah ruangan yang mencurigakan itu, menurutnya tidak ada hubungannya dengan Sian, lalu kenapa orang-orang menuduhnya?


"Hentikan itu!" titah Amla berteriak pada anak buahnya. Beberapa anak buahnya itu pun bergegas untuk membubarkan kerumunan yang sudah seperti gerombolan demonstran itu. Namun sayangnya karena jumlah pelayan yang bekerja di kediaman Sian memang cukup banyak, hal itu menyebabkan anak buah Amla tampak kualahan menghentikan mereka.

__ADS_1


"Dasar tidak berguna, hentikan itu, kubilang HENTIKAN!!!"


Amla yang merasa sudah tidak dihormati itu pun segera mengambil pistol yang tersimpan di lemari kamarnya, kesabarannya hampir habis jadi ia keluar dari kamarnya dan menemui kerumunan itu.


"Katakan, siapapun dari kalian yang berani mengancamku, meneriakiku, maka kuanggap kalian sudah siap mati!" ancamnya dengan menodongkan pistol pada kerumunan itu.


"Aku tidak main-main, dan dengarkan baik-baik... Aku tidak akan menjelaskan apapun pada kalian, karena aku merasa aku tidak melakukannya!"


"Katakan, siapa yang berani meneriakiku?" tantang Amla.


Para pelayan itu mundur, mereka pernah melihat tuan mereka menembakkan pistol itu pada salah satu pengawal yang berkhianat dan itu sangat menakutkan. Dan kali ini, Amla. Istri dari Tuannya itu adalah wanita yang begitu kejam, tidak akan merasa segan jika hanya untuk menembaki mereka satu persatu.


"Tutup mulut kalian dan kembali bekerja, seharusnya kalian masih bersyukur karena aku masih memiliki kemurahan hati, jangan pernah berkhianat padaku, atau aku tidak akan segan-segan menghabisi kalian semua!" ancam Amla.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...

__ADS_1


__ADS_2