Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Bisakah aku mengenalimu lebih jauh?


__ADS_3

"Sebenarnya kita mau ke mana Ayaz?" tanya Yaren, wanita itu tampak bingung karena sudah lumayan jauh mereka pergi namun mobil yang mereka kendarai juga belum berhenti.


"Kita akan mencari rumah!" jawab Ayaz.


"Mencari rumah? Apa maksudnya?"


Tidak ada jawaban dari Ayaz, pemuda itu lebih memilih menatap jalanan saja.


Yaren juga bingung kala Ayaz meninggalkan hotel tidak memakai mobil yang kemarin dirinya tumpangi dan malah menyetop taksi, namun Yaren terlalu takut untuk sekedar bertanya.


"Kau kenapa?" tanya Ayaz melihat Yaren yang sepertinya sedang kebingungan.


"Tidak apa?"


"Yaren, jika kita tinggal di rumah yang sederhana dan juga jauh dari kota, apa kau mau?" tanya Ayaz, matanya menatap mata Yaren intens.


Jika kau ingin hidup tenang, maka jadilah penurut.


"Tidak apa, aku akan ikut apapun maumu!" jawab Yaren. Meski rasanya ia ingin sekali hidup di kota yang ramai ini, supaya akses ke manapun bisa lebih mudah.


Aku tidak bisa membahayakan nyawamu Yaren, kasus Ali Yarkan saja mungkin akan kembali di buka, lalu setelahnya mungkin aku akan kembali menjadi buron.


Aku tidak bisa lagi menggantungkan keselamatanku pada Marco, pada akhirnya aku harus menyelamatkan diriku sendiri.


"Terimakasih ya!" ucap Ayaz lagi.


"Eh!" Yaren tersentak, sungguh hal yang jarang sekali seorang Ayaz mengucapkan terimakasih, apa lagi untuknya. Namun, pelan Yaren mengangguk.


Mobil kemudian melaju meninggalkan kota, Ayaz sudah mendapatkan rumah, meski sederhana namun Ayaz rasa rumah yang akan dirinya tinggali dengan Yaren masih cukup nyaman.


"Apa kita akan tinggal sangat jauh?" tanya Yaren.


"Lihat saja nanti."


...***...


"Berapa nomor ponselmu?" tanya Sam, saat ini dirinya dan si sekretaris sedang berada di mobil menuju cafe Green untuk menghadiri pertemuan bisnis.


"Nomor saya?" tanya ulang Rymi.


"Iya, bagaimana aku bisa menghubungimu jika di luar kantor?"


"Apa harus Pak?" tanya Rymi lagi. Kalau saja kemarin saat Ayaz dan dirinya masih menjalankan misi, mungkin dirinya akan sangat senang hati dimintai nomor telepon oleh targetnya ini, namun bagai sudah pupus harapan, melihat Bosnya saja Rymi selalu saja membayangkan Ayaz.


Sementara Sam, pria itu cukup kaget akan respon yang sekretarisnya berikan, apa maksudnya menanyakan perihal keharusan.

__ADS_1


"Ya, jika kamu merasa saya ini Bos kamu!" sindir Sam.


"Baik Pak!"


Kemudian Rymi menyebutkan nomor ponselnya.


"Kau tinggal di mana?" tanya Sam lagi.


"Di jalan XX" dusta Rymi. Perihal rumah, dirinya tidak akan pernah jujur, siapapun yang menanyakan jika orang itu baru dikenalnya dan Rymi merasa tidak terlalu penting, maka wanita itu tidak akan mau memberikan alamat rumah aslinya.


"Oh!"


"Merve, apa boleh jika ada waktu senggang saya berkunjung." tanya Sam.


"Tidak boleh!" jawab cepat Rymi.


"Kenapa?" heran Sam, bukannya seorang Bos bisa melakukan apa saja, dan juga kebanyakan bawahan selalu berharap Bosnya akan mengunjungi mereka, namun mengapa dengan Merve malah sebaliknya, pikir Sam.


"Eh, maksud saya, anda tidak boleh berkunjung jika sendirian, saya tinggal sendiri di rumah, jadi saya tidak bisa menerima tamu laki-laki meskipun anda Bos saya." jawab Rymi, lagi-lagi dirinya harus berdusta.


Kenapa juga si Rangga malah nanyain pertanyaan nggak penting kayak gini, apa bagusnya coba datengin rumah bawahan.


"Merve, apa kamu ada acara minggu ini?" tanya Sam hati-hati setelah melihat reaksi sekretarisnya tadi yang sepertinya dilanda kecanggungan.


"Iya, saya ada acara!" jawab Rymi, seolah sudah tau maksud dan tujuan Bosnya, dia tidak mau memberikan harapan palsu.


"Acara apa?" selidik Sam.


"Apa Bapak harus mengetahui kegiatan saya diluar kantor juga?" tanya Rymi, nada bicaranya mulai ketus, tidak taukah Rangga kalau hari ini dirinya sungguh berusaha untuk tetap bersikap profesional, karena yang sebenarnya Rymi sungguh malas untuk melanjutkan pekerjaannya ini.


"Oh iya dong, kamu kan sekretaris saya, saya harus tau kamu di mana akhir pekan ini." jawab Sam asal.


"Harus mengetahui? Saya rasa, anda sangat pengertian Pak, tapi maaf saya tidak berniat lembur di akhir pekan." tolak Rymi langsung.


"Merve, apa yang kamu pikirkan tentang saya?" tanya Sam lagi, berbicara berdua dengan sekretarisnya seperti ini, mengapa baginya sangat mengasikkan meski sekretarisnya itu sudah berapa kali mendelik tajam ke arahnya.


"Tentang Bapak? Kenapa?"


"Apa yang sepertinya membuat kamu tidak menyukai saya?" tanya Sam langsung ke intinya.


"Saya menyukai Bapak sebagai seorang atasan yang bersikap ramah pada bawahannya." sahut Rymi tidak ingin membuat Bosnya itu salah paham.


"Apa kamu tidak menyukai saya?" tanya Sam lagi, dirinya begitu penasaran.


"Hal semacam itu, tidak akan mungkin pernah saya lakukan." sahut Rymi.

__ADS_1


"Tapi mengapa saya melihat kamu seperti tidak nyaman berada di dekat saya?"


"Nyaman atau tidaknya itu saya yang merasakan, bukan mata Bapak yang melihat."


"Lalu apa yang kamu rasakan saat dekat dengan saya?"


"Saya mencoba untuk selalu bersikap profesional dalam bekerja." jawab Rymi.


"Merve!" tegas Sam.


"Iya Pak!"


Sam membuang muka, jika dulu banyak sekali wanita di kantornya yang menyatakan menyukainya dan akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, namun kali ini, Sam harus merasakan bagaimana rasanya mengejar seorang wanita.


"Saya menyukaimu, katakanlah ini terlalu dini, tapi setidaknya apakah kita bisa berteman, biarkan perasaan ini berkembang seiring kita lebih sering bersama." ucap Sam tiba-tiba.


Hening,


Rymi tidak tau harus menjawab apa, pernyataan cinta dari seorang pria bukan hanya satu dua kali dirinya dengar, namun kali ini mengapa rasanya Rymi tidak tega menyakiti Rangga, apakah karena Rangga adalah seseorang yang berharga bagi Ayaz.


"Terimakasih sudah menyukai saya." sahut Rymi.


"Saya menyukai kamu sebagai wanita, maaf jika saya membuatmu tidak nyaman." ucap Sam lagi.


"Bapak tidak seharusnya menyukai bawahan seperti saya." tolak halus Rymi.


"Kenapa? Bukankah selalu dikatakan bahwa cinta tidak pernah salah."


"Bapak hanya mengenali saya sebagai seorang sekretaris, dan biarkanlah tetap seperti itu saja."


"Itu berarti, kau tidak memberikan aku kesempatan?" tanya Sam.


"Sebaiknya Bapak jangan berharap lebih pada saya, saya takut mengecewakan Bapak!" ucap Rymi pada akhirnya.


"Apa kau sudah punya seseorang yang mengisi hatimu?" tanya Sam.


"Saya tidak bisa mengatakan iya ataupun tidak, karena saya juga tidak mengerti tentang hal semacam itu."


"Lalu?"


"Bapak bisa berteman dengan saya, tapi sebaiknya jangan berharap banyak pada saya." lagi-lagi Rymi melayangkan penolakannya.


"Kalau begitu, bisakah aku mengenalimu lebih jauh?" ucap Sam.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2