Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Rencana Marco untuk Yaren dan Ayaz.


__ADS_3

"Apa sudah bermain-mainnya?" sindir Marco dengan tatapan tajam bagai hendak menguliti.


"Hemmm!" sahut Ayaz tidak peduli, awalnya ia hanya ingin melihat Yaren, bagaimana keadaan istrinya itu, namun tiba-tiba ia kepikiran tentang Amla, musuhnya itu tentunya sudah masuk penjara dan sepertinya menjenguk wanita itu untuk memberikan kejutan bukan masalah selama dirinya bisa menjaga privasinya.


Mana tau saat dia sudah pulang ke tempat persembunyiannya dia malah melihat Marco dan Jovan sedang duduk menungguinya.


Apa lagi Marco, tatapan dingin itu seolah sanggup membuatnya membeku.


"Kau tau apa yang kau lakukan? Bisa-bisanya..." Marco membuang muka, ia tidak percaya Ayaz akan seceroboh itu, "Bagaimana jika ada yang melihatmu? Kematianmu itu tentunya akan sia-sia!"


"Aku hanya ingin melihat istriku!" jawab Ayaz beralasan.


"Ya baiklah... Kenapa tidak sekalian saja kau menemuinya, membuatnya histeris akan kedatanganmu!" geram Marco.


"Sudahlah Tuan Marco, ada yang lebih penting, cepat katakan!" lerai Jovan, ia juga benci pada Ayaz, namun mau bagaimana lagi pria itu adalah adik iparnya.


"Ayaz..." seru Marco.


Ayaz mengacuhkan panggilannya, ia muak karena Marco terlalu mengekangnya. Padahal dia kan hanya berjalan-jalan sebentar.


"Yaren hamil!" lanjut Marco, yang kali ini sukses membuat Ayaz menatapnya, wajahnya seakan mencari tau tentang kebenaran yang baru saja terucap dari mulutnya ini

__ADS_1


"Apa? Kau bilang apa?" tanya Ayaz lagi.


"Istrimu hamil!" ujar Marco sejak lagi.


"Lalu, bagaimana dia? Apa dia masih menangis seperti tadi? Apa dia tau kalau dia hamil? Apa dia makan dengan baik? Bagaimana kalian merawatnya? Tidak, aku harus menemuinya!" Ayaz merasakan kesakitan Yaren, tidak bisa dibiarkan terlalu lama, ini benar-benar mendesak.


"Kita ubah rencana!" ucap Marco.


"Apa? Apa lagi? Jangan bilang kau ingin dia menggugurkannya, sialan!" berang Ayaz, Marco adalah orang yang hidup dengan tanpa belas kasih, jadi bukan tidak mungkin ia dengan mudah menyuruhnya melakukan itu.


"Ck, kau ini!" kesal Marco.


"Apa?" tanya cepat Ayaz.


"Tinggallah di rumah hutan!" pinta Marco, ia menatap nanar putranya itu.


"Itu adalah tempat teraman, setidaknya sampai dua atau tiga tahun, saat orang-orang sudah lupa tentang Ayaz Diren!" lanjutnya.


"Apa itu bisa mengamankan aku dan Yaren?" tanya Ayaz, dia bisa saja tinggal di rumah itu, namun jika kematiannya ini terungkap tentu tidak akan baik bagi Yaren.


"Cukup bekerja!" ucap Marco.

__ADS_1


"Rumah hutan?" tanya Jovan.


"Hemmm!" sahut Marco.


"Apa maksud Tuan adikku akan tinggal di hutan?" tanyanya lagi.


"Ya!" singkat Marco.


"Tuan..."


"Aku setuju." sahut Ayaz, bukan masalah baginya, selama ia bisa mengamankan diri, karena mau pergi ke luar negeri pun rasanya tidak mungkin, dia itu penduduk gelap untuk saat ini, jadi tidak akan bisa ke mana-mana. Kecuali dia kembali memalsukan identitas seseorang, tapi jangan lagi. Rasanya Ayaz ingin hidupnya bersih dengan nama yang baru ini.


"Kau bisa pergi bersama Jo, aku dan Rymi akan mengurus keberangkatan Yaren, sekalian juga aku menyuruhnya berbelanja apa saja kiranya yang kau dan Yaren butuhkan di sana untuk persiapan satu bulan kedepan!" ujar Marco.


Ayaz mengangguk, "Jadi, Yaren akan mengetahui kalau aku masih hidup, kita benar-benar mengubah rencana?" tanya Ayaz sekali lagi.


Marco mengiyakan, "Aku tidak sanggup memisahkanmu darinya, dia terlihat begitu menderita!" ujar Marco.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....

__ADS_1


__ADS_2