
Yaren berlari cepat, dirinya tidak mau kehilangan harapan satu-satunya.
Pria paruh baya itu, yang baru saja bertamu ke rumah Ayaz, dia mengikuti pria paruh baya itu yang digadangnya sebagai petunjuk arah menuju persimpangan kota.
Berada setidaknya sekitar lima meter, Yaren mencoba menahan nafasnya yang tersengal akibat mengejar mobil pria paruh baya itu.
Rasanya sudah jauh sekali kaki Yaren melangkah, namun tidak juga sampai ke persimpangan, hutan lebat nan rindang masih saja akrab menyapa di sepanjang jalan.
Tiba-tiba, mobil itu berhenti, Yaren segera bersembunyi di balik semak-semak, dilihatnya pria paruh baya itu keluar dari mobil, mengedarkan pandangan seperti mencari sesuatu.
“Keluar!” pekiknya.
Yaren tersentak, mungkinkah pria paruh baya itu mengetahui kehadirannya.
“Aku akan hitung sampai tiga, kau bisa keluar!” ucap pria tua itu lagi. Yaren menetralkan rasa takutnya, jantungnya kini berdetak lebih kencang, tidak ingin salah menilai seseorang lagi, seperti waktu dirinya menilai Ayaz, Yaren begitu takut jika saja orang itu bukanlah orang baik.
“Aku tidak akan menyakitimu, kau bisa keluar Nona!” serunya lagi.
Yaren bangkit, meski dia tidak begitu yakin, namun sudah kepalang tanggung, meski dirinya tidak keluar pun mungkin orang itu sebentar lagi akan menyeretnya keluar dari persembunyian.
“Heemm, benar saja seorang wanita!” ucapnya sembari menatap Yaren penuh minat. Yaren bergidik ngeri, bagai keluar dari kandang singa lalu tercebur ke kandang buaya, nasibnya lagi-lagi tidak beruntung.
“Kau ingin pergi dari Ayaz?” tanya pria paruh baya itu pada Yaren.
“Iya!” sahut Yaren.
“Masuklah, aku bisa mengantarmu ke persimpangan, atau sebutkan saja tujuanmu, aku akan dengan senang hati mengantar wanita cantik sepertimu!”
“Tidak perlu, kau pergilah!” tegas Yaren.
“Siapa namamu?”
Yaren tidak menjawab, sudut matanya melirik ke arah kanan, mempersiapkan diri untuk pergi dari petaka yang sudah dirinya buat sendiri.
“Apa hubunganmu dengan Tuan Ayaz?” tanyanya lagi.
Pria paruh baya itu mendekat, sementara Yaren menjauh, wanita itu sungguh malang namun siapa lagi yang akan menyelamatkannya kalau bukan dirinya sendiri.
“Jangan mendekat!” hardik Yaren.
Namun pria itu tidak peduli, tetap saja mendekat sembari matanya menatap Yaren penuh naf*u.
“Kau pasti wanitanya Ayaz, hahahaha menarik sekali jika aku bisa mencicipimu!”
__ADS_1
Yaren mundur, dalam pikirannya dirinya pasti akan lebih tersesat jika kabur dari ancaman pria tua ini, namun jika dirinya tidak melarikan diri maka dirinya tidak bisa terima selanjutnya apa yang terjadi. Yaren sudah menerka, pria tua di hadapannya ini tidak punya sama sekali niat baik untuk menolongnya.
“Tuan Ayaz tidak akan sembarangan memilih wanita, dan benar ternyata, terlihat kau yang begitu sempurna.”
Yaren menoleh lagi ke belakang, dan pada akhirnya, wanita itu memilih berlari sekuat tenaga menghindari pria tua itu.
Yaren melihat pria itu mengejarnya, membuat Yaren lebih mempercepat laju larinya.
Tidak peduli lagi dirinya akan tersesat, baginya sebisa mungkin dirinya harus bisa lepas dari segala yang memangsanya.
“Hoshh hoshh,” terdengar suara napas Yaren memburu saat kakinya berhenti berlari, tangannya bertopang pada sebuah pohon, suara degup jantungnya membuat panas di seluruh tubuh.
“Kau tidak akan bisa lari Nona!” suara itu sudah dekat saja, padahal Yaren mungkin hanya berhenti tidak lebih dari lima detik, sungguh Yaren tidak menginginkan hidup seperti ini.
“Tolong Tuan, jangan ganggu saya!” lirihnya berkata meminta dikasihani.
“Aku mengganggumu?”
“Maksud saya biarkan saya sendiri, jangan mendekat, tolong!”
“Aku tidak akan melepaskanmu, ayo kita ke kota, mungkin bersenang-senang denganku bisa meringankan beban pikiranmu!”
“Tidak, tolong, jangan ganggu saya!”
“Bugghhh...” langkah kaki Yaren terpaksa berhenti kala dirinya menabrak sesuatu, benda keras namun memiliki tangan yang kini sudah melingkar di pinggangnya.
“Aaa aayaz!” gagapnya tidak percaya.
“Aku menemukanmu!” ucap Ayaz dengan seringainya.
“Doorrrr!” sebuah timah panas akibat tembakan yang ditujukan Ayaz mendarat tepat di kaki kanan pria paruh baya itu.
“Aarrrgghhh!” erang pria itu.
“Pergi, atau aku habisi kau menjadi tidak berbentuk” ancam Ayaz.
Pria itu mengurungkan niat busuknya pada Yaren, berbalik pergi dengan menggerutu, bagaimana mungkin dirinya terpaksa harus tunduk dan mengalah pada Ayaz.
“Kau berhutang lagi padaku!” ucap Ayaz, matanya menatap remeh Yaren.
Sebelum Yaren menjawab perkataan Ayaz, pria itu sudah menjepit rahang Yaren dengan jari-jarinya.
“Kau akan membayarnya Yaren, siksaan yang pedih, kau akan kesakitan karena sudah berani pergi dariku!”
__ADS_1
“Aaaaa...” Yaren tampak kesakitan.
“Sudah aku katakan, kau akan menjadi budakku. Plak!” sebuah tamparan mendarat di pipi Yaren.
Ayaz menjambak kasar rambut Yaren, menyeret wanita itu untuk berjalan mengikutinya.
“Lepaskan aku Ayaz, lepas!” ronta Yaren, air matanya sudah mulai keluar, karena kesakitan saat rambutnya dijambak, dan juga kesakitan karena hati yang lagi-lagi harus teriris melihat betapa tidak pedulinya Ayaz dengannya.
“Ayaz lepaskan aku, Ayaz aku mohon!” seru Yaren lagi.
Ayaz masih diam, tangannya tidak juga melepas jambakkan di rambut Yaren. Dirinya benar-benar marah, hampir saja pria tua, orang suruhan Marco tadi mendapatkan Yaren kalau saja dirinya tidak segera bertindak.
Ayaz tidak terima, baginya Yaren harus menjadi miliknya, bukan orang lain, lagi pula Ayaz berpikir bahwa Yaren benar masih suci maka dirinya tidak akan rela orang lain merenggut kesucian Yaren.
Harus dirinya, Yaren berhutang padanya, lalu bagaimana bisa seenaknya saja orang lain mau menikmatinya.
“Ayaz, hiks hiks, lepaskan aku!” Yaren tidak berhenti memohon.
“Dasar bajingan, tidak punya hati, tidak punya perasaan, batu, kau kejam, aku mengutukmu Ayaz, aku mengutukmu, aku membencimu di seluruh hidupku!” ucap Yaren lantang, hanya umpatan yang bisa dirinya ucapkan pada Ayaz, mau melawan pun dirinya tidak akan punya cukup tenaga.
“Heh, aku tidak peduli.” Ayaz juga masih tetap pada pendiriannya.
“Ayaz lepaskan aku!” teriak Yaren lagi.
“Brakkk!” Ayaz melepaskan jambakannya, hingga membuat Yaren terjatuh di tanah. Pria itu berjongkok, sudut bibirnya terangkat, dilihatnya Yaren yang tampak begitu menyedihkan.
“Seharusnya kau tidak mengabaikan perkataanku, seharusnya kau tidak bermain-main denganku.” Ucap Ayaz.
“Dasar sinting, pria gila, kau setan, bajingan, iblis berwujud manusia!” umpat Yaren.
“Terus saja, terus saja mengumpatiku, aku ingin lihat apakah dengan mengumpat, maka kau bisa merubah nasibmu?”
“Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa kesalahanku? Apa hanya karena aku ingin ikut denganmu waktu itu lalu kau dengan tega memperlakukan aku begini, apa salahku Ayaz? Aku ingin pergi dari hidupmu, aku mohon lepaskan aku!”
“Aku akan membayar semua hutangku, aku akan lakukan apapun perintahmu asal jangan jadikan aku budak naf*umu, aku mohon, biarkan aku lepas dari hubungan ini.” Yaren terisak, tangis dari wanita yang lemah tidak bisa terhindarkan.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1