Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Apa kau pernah jatuh cinta?


__ADS_3

Ayaz melangkah keluar dari rumah Keluarga Donulai, pikirannya terus saja tertuju pada Sam. Bagaimana bisa dirinya melakukan semua itu pada orang yang selama ini selalu ia nantikan kehadirannya.


Mulai melajukan mobilnya, tidak ada tujuan lain selain rumah Marco, namun Ayaz juga tidak bisa berbuat apapun. Dia tau misi ini sangat penting bagi Marco, kekayaan Donulai akan membuat pria gila harta itu berpuas hati jika bisa menguasainya. Satu perusahaan saja sudah membuatnya tajir tak terkalahkan.


Mobil Ayaz, meski tujuannya adalah rumah Marco, namun entah kenapa malah menuju hotel tempatnya dan Yaren tinggali. Ayaz merasa ingin melihat wanita itu, sesak di dadanya membutuhkan perhatian dan dia berharap Yaren bisa memberikannya.


...***...


Tok tok tok,


Yaren tersadar dari lamunannya, setelah tadi berhasil meminta salah satu waiters hotel untuk meminjamkannya charger ponsel, Yaren masih menunggui daya ponselnya penuh, dia melanjutkan lamunannya tentang pernikahannya dan Ayaz. Pria itu bahkan meninggalkannya tanpa permisi.


Gegas Yaren membukakan pintu, kali saja si waiters tadi mau mengambil balik charger ponselnya.


Ceklek,


"Ayaz!" kagetnya. Tiba-tiba, yang sedang dilamunkan malah sudah berada di hadapannya.


"Kenapa? Apa yang sedang kau lakukan? Melihatku datang begini kau nampak terkejut seperti melihat setan!" sindir Ayaz.


"Ti tidak, aku hanya, aku hanya sedang menunggumu juga!" jawab Yaren asal, dirinya tidak menemukan jawaban yang tepat sehingga menjadi asal bicara saja.


"Benarkah?" tanya Ayaz penuh selidik.


"Ii iya, kau ke mana saja?" tanya Yaren.


"Aku?" Ayaz masuk lalu tangannya dengan sigap menutup pintu, langkahnya mendekat menghampiri Yaren. "Kau sepertinya bertambah perhatian sejak kita sudah melakukannya semalam!" goda Ayaz.


"Bukan begitu Ayaz. Maksudku, saat aku terbangun tadi, kau sudah tidak berada di sampingku, aku tidak tau kau ke mana, jadi..."


"Jadi..." potong Ayaz langsung, matanya mengerling genit, "Jadi, istriku, apa kau sedang merindukan suamimu?" Ayaz seolah puas sekali bisa menggoda Yaren. Lihatlah, wajah Yaren bahkan bersemu merah saat dia menanyakan itu.


Yaren tertunduk malu, bagaimanapun dirinya tidak begitu merindukan Ayaz, lebih tepatnya kesal. Dan sekarang Ayaz menggodanya, bertambah lagi kekesalannya.


"Kau wangi sekali!" goda Ayaz, masalah yang sedang dirinya hadapi baginya cukup berat, jadi bisakah dia bermanja dengan sang istri, untuk bisa membawanya dalam ketenangan, meski itu tidak bisa merubah apapun.


Ayaz langsung saja memeluk Yaren dan membawa Yaren ke atas ranjang. "Duduklah di sana!" titah Ayaz, menyuruh Yaren duduk bersandarkan kepala ranjang.


Yaren menurut, meski dirinya lagi-lagi bingung, sejak semalam hingga kini Ayaz begitu lembut memperlakukannya, apa Ayaz benar sudah berubah? Tidak Yaren, kau jangan mudah tertipu oleh bajingan sepertinya! Batinnya juga secara bersamaan menolak.


Ayaz lalu berbaring dengan kepalanya berbantalkan pangkuan Yaren, "Tolong elus-elus rambutku!" perintah Ayaz.


Yaren bertambah bingung, apa ini? Apakah seorang bajingan sepeti Ayaz masih bisa bersikap manja seperti ini, atau lebih tepatnya masih memerlukan perlakuan seperti ini?

__ADS_1


Ayaz merasakan ketenangan saat tangan Yaren mulai mengelus manja membelai rambutnya.


Apa seperti ini rasanya punya teman hidup? Saat kita menghadapi suatu masalah seperti ini, aku bisa menenangkan diriku hanya dengan berdekatan dengannya?


Ayaz bergelut dengan pemikirannya, sesekali melirik Yaren yang nampak termenung namun tangannya tetap bekerja sesuai perintah.


"Apa kau bahagia Yaren?" tanya Ayaz tiba-tiba.


"Eh!" Yaren langsung saja tersadar dari lamunannya, "Kenapa?" tanyanya memastikan kalau Ayaz benar menanyakan sesuatu padanya tadi.


"Apa yang kau pikirkan? Apa ada yang lebih menarik dari pada memikirkanku?" tanya Ayaz.


"Bukan, aku sedikit... Emmm, apa tadi kau bertanya sesuatu?" tanya balik Yaren.


"Haaahh!" Ayaz menghela napasnya. "Memangnya apa yang sedang kau pikirkan saat ini hingga kau tidak mendengarkanku? Coba katakan, ceritakan padaku!" tanya Ayaz.


"Aku, sebenarnya aku memikirkan, kau dari mana saja tadi?" tanya Yaren lembut, takut saja kalau menyinggung suaminya.


Namun diluar dugaan, Ayaz malah tersenyum memperlihatkan sedikit deret giginya, "Apa kau sedang mengintrogasiku?"


"Ayaz..."


"Aku bekerja!" jawab Ayaz langsung.


"Ah..."


Membuat Yaren mematung akan tingkah spontan suaminya itu, keyakinannya menjadi sedikit goyah... Apa Ayaz sedang berubah menjadi orang baik?" batinnya menanyakan.


"Tadi aku bertanya, apa kau bahagia?" tanya ulang Ayaz tentang pertanyaannya tadi.


"Bahagia?" heran Yaren.


"Hidup bersamaku?" tanya Ayaz lagi.


"Eehhh. Ya... Aku bahagia!" jawab Yaren dusta.


"Mengapa aku melihat keraguan dari wajah ini?" tanya Ayaz, tangannya membelai lembut pipi Yaren.


Yaren tersentak, bagaimanapun dia tidak begitu ahli dalam memperagakan bahasa tubuh, jadi wajar saja jika yang terlihat kini malah tidak sesuai harapan Ayaz.


"Yaren!" seru Ayaz. Pria itu kembali merebahkan dirinya di pangkuan sang istri, mengambil tangan Yaren kemudian diletakkannya lagi di atas kepalanya, menyuruh Yaren untuk kembali membelai rambutnya.


"Yaren!" panggilnya lagi.

__ADS_1


"Ya!" sahut Yaren.


"Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Ayaz langsung.


Mengapa dia menanyakan itu? Apa dia sedang jatuh cinta saat ini?


"Mengapa?"


"Maksudnya?" tanya Ayaz lagi, mengapa pertanyaannya harus dijawab dengan pertanyaan lagi.


"Mengapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" tanya Yaren memperjelas.


"Tidak apa? Aku hanya ingin tau saja!" jawab Ayaz.


"Apa dengan melihat orang yang kita cintai, perasaan kita yang sedang tidak karuan sebab suatu masalah akan bisa diredam, dengan melihat wajahnya saja membuat perasaan kita menjadi lebih tenang, apa jika kau sedang jatuh cinta kau juga merasakan hal yang sama?"


"Hemmm, aku rasa masuk akal juga!" jawab Yaren.


"Lalu, apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Ayaz lagi.


"Entahlah!" jawab Yaren, ada sedikit keraguan akan jawabannya itu.


"Kenapa begitu?" heran Ayaz, mengapa jawabannya harus begitu, mengapa tidak dijawab saja 'pernah' atau 'belum pernah'.


"Ya karena aku tidak tau..."


"Kau ini!" kesal Ayaz. Kemudian hening.


"Yaren, apa kau merindukan Ibumu?" tanya Ayaz lagi memecah keheningan.


Yaren menunduk melihat wajah Ayaz, sedikit berbeda... Ayaz yang sedang ditatapnya kini seperti bukanlah Ayaz yang biasanya.


"Yah, kadang-kadang!" jawab Yaren.


Yaren nampak bingung, apa sebenarnya yang sedang terjadi pada Ayaz, tangannya masih mengusap lembut rambut yang mulai gondrong itu, mengapa Ayaz tiba-tiba menanyakan Ibunya?


"Kenapa memangnya?" tanya Yaren.


Namun tidak ada jawaban, karena setelah Yaren lihat, suaminya itu sudah terlelap di pangkuannya.


Bukankah manis sekali, kami seperti sepasang suami istri yang begitu akur, aku juga bingung akan perubahannya hari ini.


Yaren menyunggingkan senyumnya, bagaimanapun meski dirinya belum mencintai Ayaz namun besar harapannya untuk pernikahannya dan Ayaz, Yaren mempunyai prinsip untuk menikah satu kali seumur hidup, Ayaz telah menyelamatkan hidupnya, meski dengan cara yang kadang gila dan benci bahkan bersarang di benaknya tentang Ayaz, namun dirinya juga tidak akan mudah untuk berpisah dari Ayaz.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2