
Sam menjadi salah tingkah saat dihadapkan hanya berdua dengan Marco, ia masih belum terbiasa. Kemarin mungkin dirinya tidak akan merasa takut dan secanggung ini, karena Rymi entah akan berhasil ia miliki atau tidak, jadi baginya Marco tidak memiliki pengaruh apapun.
Namun saat ini, sayangnya pria menyeramkan itu adalah calon mertuanya.
"Ada-ada saja Rymi itu, memang mencari masalah sepetinya." gerutu Marco.
Tak lama datanglah Ayaz dan Rymi, serta Yaren yang tampak ragu-ragu menghampiri.
"Kenapa? Merasa perlu menjelaskan sesuatu?" sindir Marco.
Aya maju menghadap Marco, "Cucumu sedang butuh perhatian khusus!" ucap Ayaz.
Tadi saat Yaren menanyakan bagaimana padanya, Ayaz terpaksa harus menyelesaikan masalah yang dibuat oleh istrinya itu, mau tidak mau kini ialah yang akan menghadap Marco dan memberikan penjelasan. Setelah sebelumnya di kamar tadi dirinya, Yaren dan Rymi membahas bagaimana caranya supaya Marco bisa memaklumi.
Dari penjelasan yang tidak masuk akal itu juga Ayaz bisa membaca bahwa apa yang sedang menjadi keinginan paling terbesar Rymi saat ini hanyalah tipu daya, adiknya itu mengandalkan kehamilan supaya bisa mengerjai Marco, Ayaz ingin menanyakan untuk apa Rymi melakukannya, namun ia pikir nanti saja setelah keinginan Rymi terwujud. Ayaz yakin Rymi pasti mempunyai alasan mengapa bisa menginginkan hal demikian, seperti balas dendam misalnya, karena selama ini ia juga tau bagaimana Marco menyuruhnya ini dan itu.
"Apa maksudmu?"
"Rymi sedang mengidam!"
"Heh, mengidam? Maksudnya mengidamkan sesuatu?"
"Ya, kurang lebih seperti itu!" Ayaz duduk di sofa, ia menyilangkan kakinya santai. Matanya menyuruh Yaren untuk duduk di sebelahnya, Yaren yang melihat pergerakan mata Ayaz pun menurut.
"Dia ingin menggigit tanganmu, bagaimana bisa, itu tidak masuk akal?"
__ADS_1
"Orang hamil memang spesial, apa kau tidak merasakannya? Itulah kasih sayang yang ditunjukkannya cucumu pada kakeknya..."
"No! Grandpa, jangan panggil kakek... Aku tidak suka!" koreksi Marco, bahkan ia sudah menyiapkan panggilan untuk anak Rymi memanggilnya.
"Apa hubungannya kasih sayang dengan Mommynya yang ingin menggigit tanganku? Mengapa tidak menggigit tanganmu saja sebagai tumbal?" protes Marco.
"Karena Rymi merasakan kalau dia menginginkan tanganmu!" jawab Ayaz singkat.
"Aahhhh, bagaimana bisa? Tidak-tidak, berikan aku satu alasan yang masuk akal, ada-ada saja mengidam apanya?"
"Bukankah bayi itu adalah hasil perbuatan Rym dan Samudra, suruh saja Rym menggigit tangan Samudra, mengapa harus aku?" Marco nyatanya belum bisa menerima, baginya mengapa harus dirinya.
"Daddy..." rengek Rymi melancarkan aktingnya, ia bahkan sudah terisak. Tidak bisa dibiarkan, kalau tidak adanya tangisan mungkin balas dendamnya tidak akan bisa terealisasikan.
Yaren berdiri dan mengusap bahu Rymi, ia yang tidak mengetahui kalau Rymi sedang berakting pun jadi merasa sangat kasihan, ia pikir mungkinkah Rymi benar-benar menginginkannya, bisa saja kan? Menurut cerita yang dirinya pernah dengar seputar orang mengidam, permintaan ibu hamil itu memang suka ada-ada saja dan biasanya memang aneh.
"Sayang, apa kau benar-benar menginginkannya?" tanya Sam, ia juga sama seperti Yaren berpikir Rymi memang sangat menginginkan hal itu, meski tidak masuk akal namun otak waras Sam dipaksanya untuk mengerti.
"Hiks hiks, benar... Aku sangat menginginkannya... Hiks hiks..." ucap Rymi sembari masih terisak.
"Daddy..." seru Yaren memberanikan diri. Ia tidak tega dengan Rymi.
"Hemmm, jangan bilang kau menyuruhku untuk rela saja di gigit olehnya!" Marco menatap Yaren curiga, "Rym, sebenarnya kau kenapa? Mengapa bisa punya keinginan gila semacam itu? Aaiissshhh..." Marco tampak memijit pangkal hidungnya, kepalanya mulai pening, ia frustasi.
"Hiks hiks... Daddy..."
__ADS_1
Marco memegangi kepalanya, ia menanyakan lagi pada Yaren, "Yaren, apa benar kalau permintaan orang hamil itu memang harus selalu dituruti?" tanyanya cepat.
Yaren mengangguk, untuk menjelaskan rasanya ia tidak akan sanggup, jadi tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain memberikan anggukan.
"Haaahhh..." Marco menghempaskan napasnya berat, perlahan menggelengkan kepalanya, lalu memejamkan matanya dan berucap, "Oke! Demi cucuku, aku turuti permintaan titisan drakula ini!"
Marco menarik napasnya dalam, ingin sekali ia marah, namun sayangnya ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Mata Rymi berbinar mendengar persetujuan Marco, benar kan air mata buayanya ini memang sangat efektif, akhirnya sebentar lagi ia bisa merealisasikan balas dendamnya.
"Aaaaa... Terimakasih Daddy, kau yang terbaik!" ucap Rymi girang, melepaskan diri dari Sam dan langsung saja beralih memeluk Marco.
"Hemmm..." tanggapan singkat Marco, seolah dirinya menyetujui itu dengan sangat terpaksa.
"Tapi Daddy, sebenarnya aku bukan hanya menginginkan tanganmu..." ucap Rymi, ia sepertinya akan semakin tidak tahu diri.
"Apa maksudmu?" Marco menatap curiga putrinya itu.
"Hehe... Aku sebenarnya aku..."
"Daddy, sebenarnya aku juga ingin sekalian mencoret-coret wajahmu dan juga menarik rambutmu itu, bisa kan Daddy?"
"Pfffttt..." Ayaz tidak bisa lagi menahan tawanya kala mendengar itu, kali ini ia benar-benar yakin, Rymi melakukan itu benar-benar karena ingin balas dendam.
"Rymi..." geram Marco. Dadanya naik turun kala mendengar permintaan tambahan yang diajukan Rymi.
__ADS_1
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...