
"Kau sepertinya tidak senang Rym?" tanya Marco menatap sinis putrinya itu.
"Katakan saja Dad!" ucap Rymi, wanita itu datang dan harus mendengarkan apapun yang akan dikatakan Daddynya untuk melanjutkan misi mereka yang sempat tertunda.
"Oke!"
"Tapi, sebelumnya... Untuk apa kau menemui Ayaz?" selidik Marco.
"Apa ada hal yang lebih menyakitkan lagi dari sebuah perpisahan?" sahut Rymi, meski tidak ingin menjadi anak pembangkang namun mengapa rasanya sulit sekali menerima sikap semena-mena Marco.
"Hemmm, begitu!" Marco mengangguk pelan, ditatapnya wajah Rymi, seperti ada kekesalan tergambar di sana.
"Sayang sekali, kita harus memiliki kedekatan seperti ini."
"Aku sama sekali tidak menyesal, jangan sangkutpautkan ini semua dengan hubungan Ayah dan anak."
"Kalau kau bertemu orang tua kandungmu suatu hari nanti, apa kiranya... Kau juga akan meninggalkanku?" tanya Marco.
"Dad!" pekik Rymi mulai tidak sabar.
"Sebelum itu terjadi, apa mungkin lebih baik aku membunuhmu?" ancam Marco.
"Apa bedanya aku dengan budakmu? Yang akan mati di tanganmu saat segalanya tidak sesuai rencanamu!" sindir Rymi.
"Rym!" teriak Marco.
"Daddy tau, kebahagiaanku, rasa sayang ini untuk orang tua bajingan sepertimu, menafkahi anaknya dengan semua uang haram itu, aku selalu mengabaikannya, sama seperti yang Ayaz lakukan, aku maklum, karena selama ini bagiku Daddy hanya mencoba bertahan hidup!" berang Rymi, wanita itu naik pitam.
"Kau... Harus menyadari, dengan siapa kau bicara!" ucap Marco, Rymi nampaknya berhasil memancing kemarahannya.
"Bahkan, jika hari ini kau membunuhku, sungguh aku tidak apa. Bagaimana bisa aku menolak kehendak Daddyku? Sekalipun aku harus memberikan nyawaku untuknya bukan." air mata Rymi menangis mengatakan itu.
Sungguh, mengapa Daddynya itu tidak bisa merelakan satu misi ini saja, supaya Daddynya tidak membenci Ayaz, dan supaya Ayaz tetap bersama mereka.
"Aku tidak menyuruhmu datang untuk kau melayangkan antipatimu." Marco mencengkram rahang Rymi kuat, pria paruh baya itu menatap tidak suka pada anak angkatnya itu. "Kau harus membawa Rangga Donulai ke dalam hidupmu, kau harus bisa menguasai pemikirannya." ucap Marco memerintah.
"Aku... Bukankah di sini aku tidak diberikan pilihan untuk menolak, jadi Tuan... Seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan itu." sindir Rymi terbata-bata karena rahangnya masih diapit keras oleh jari jari Ayahnya.
"Kurang ajar..." umpat Marco, "Plakkk!" sebuah tamparan mendarat di pipi Rymi hingga membuat pipi Rymi memerah.
__ADS_1
"Ini adalah kali ke dua Daddy menamparku, mengapa Dad? MENGAPA TIDAK KAU JADIKAN AKU BUDAKMU SAJA, AGAR AKU TIDAK PERNAH MERAGUKAN KASIH SAYANGMU, MENGAPA???" teriak Rymi, kali ini ia sungguh kecewa dengan Ayahnya.
"Aku bahkan begitu bersyukur bisa diselamatkan oleh iblis sepertimu, tapi Iblis bahkan tidak akan pernah peduli akan sesamanya, persis seperti yang sedang aku alami saat ini." Rymi tersenyum miris.
"Kau!" Marco menggeram, diambilnya sebuah guci hias yang tergeletak di meja, mengarahkan itu pada Rymi dan Rymi yakin jika Marco benar-benar tega padanya, malam ini mungkin dia akan mati.
"Pranggg..."
...***...
"Biarkan seperti ini saja." ucap Ayaz, pria itu sedang memeluk istrinya erat, hal itu semata-mata dirinya lakukan hanya untuk menenangkan diri.
Karena dengan berpelukan seperti itu, Ayaz bisa merasakan kenyamanan, sejenak melupakan beban pikirannya.
"Ayaz..." seru Yaren.
Ayaz hendak mengenang Rymi, sudut matanya mengeluarkan bulir bening kala mengingat gadis yang sudah diakuinya sebagai adik itu.
Mengapa? Mengapa Marco sejahat itu padanya dan Rymi?
"Jika... kau berpisah dari seseorang yang sangat berarti di hidupmu, dan dipaksakan keadaan untuk saling membenci meski kau tidak ingin melakukannya sekalipun, apakah rasanya sakit?" tanya Ayaz lirih.
"Bagaimana kau menghadapinya jika tidak sengaja bertemu? Apa kau masih bisa menyapanya?"
"Aku akan tetap tersenyum untuknya, aku akan melakukan hal yang paling mungkin untuk menghargai sebuah hubunganku dengannya, seperti... Cukup mengingat bagaimana sifat-sifat baiknya saja." jawab Yaren, wanita itu menepuk pelan punggung suaminya. Mengapa Yaren merasakan Ayaz tengah bersedih saat ini, apa Ayaz memang baru saja mengalami sebuah perpisahan dengan seseorang.
"Aku selalu saja bertengkar dengannya, aku tidak yakin dia punya hal baik yang bisa kuingat." lirih Ayaz.
Apa kekasihnya selingkuh? Mengkhianatinya, dan Ayaz sedang mencoba membenci wanita itu, apa hubungan mereka baru saja kandas?
Yah, kandas karena selalu saja bertengkar, aku yakin itu. Hemmm aku sungguh tidak apa Ayaz, lebih baik kau melepaskanku saja.
Tapi, mengapa rasanya sakit...
Yaren menyimpulkan asumsinya. Mungkinkah Ayaz punya seorang kekasih diluar sana, hingga kadang selalu datang dan pergi semaunya saja saat bersamanya.
"Apa sekarang kau sedang bersedih?" tanya Yaren hati-hati.
"Yaren..." seru Ayaz.
__ADS_1
"Ya!"
"Apa... Apa kau akan marah jika aku memikirkan wanita lain?" tanya Ayaz. Pria itu melepaskan pelukannya, ia ingin melihat bagaimana tanggapan Yaren.
"Apa aku harus menjawabnya?" tanya balik Yaren.
"Aku tidak berharap..."Ayaz menjeda ucapannya, karena tiba-tiba dirinya ingat suatu hal, "Haaahh! Sudahlah, lupakan saja!" sahut Ayaz.
Bodohnya, dirinya yang menanyakan itu, Ayaz tidak yakin dirinya bisa kuat saat Yaren mengatakan 'tidak' sebagai jawabannya. Hal itu akan semakin menyakiti hatinya, mendengar Yaren tidak akan marah jika dirinya memikirkan wanita lain? Ayaz berpikir, Yaren belum mencintainya, menanyakan itu sekarang bukanlah hal yang menyenangkan untuk suasana hati Ayaz.
Namun tanpa Ayaz sadari pertanyaannya tadi bahkan sudah lebih dulu menyakiti hati Yaren.
Dia, benar-benar membicarakan wanita lain, bahkan dengan tanpa bersalah meminta pendapatku, jelas saja di sini... Kau lah orang ke tiganya Yaren, kau pendatang di sini, jangan pernah berharap banyak akan hubunganmu dan Ayaz, jika tidak ingin sakit... Jika kau tidak ingin menanggung kesakitan yang lebih... Maka bersikaplah selayaknya teman ranjang, kau hanya perlu malayaninya, kau pasti bisa melakukannya meski tanpa cinta.
Mulai hari ini, jangan pernah kau pupuk lagi rasa itu, semua itu akan sangat memalukan jika Ayaz sampai mengetahuinya.
Kedua insan yang sebenarnya memiliki rasa yang sama itu sejenak larut dalam pikiran masing-masing.
"Kau... Sudah makan?" tanya Ayaz berbasa-basi, kini keduanya terlibat kecanggungan.
"Sudah!" jawab Yaren.
Hening...
Mengapa dia tidak menanyaiku balik, tanya apakah aku sudah makan atau belum? Lalu siapkan makanan untuk suaminya!
Cih, dasar! Mengapa dia ini kaku sekali?
"Aku akan makan sebentar!" ucap Ayaz memutus kecanggungan itu. Berinisiatif sendiri, karena jika menunggu Yaren yang menawarinya makan, mungkin itu tidak akan terjadi.
"Ah, iya!" sahut Yaren seadanya.
Ayaz bergegas keluar kamar, dirinya ingin menumpaskan kekesalannya terhadap Yaren dengan makan yang banyak, dan juga pedas... Yah pedas, Ayaz benar-benar kesal dibuat Yaren yang tidak peka.
"Dasar nggak peka!" umpat Ayaz saat dirinya sudah berada di dapur.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!...
__ADS_1