
"Wanita itu, wanita itu mengatakan kalau Samudra telah menghabisi semua orang, mereka berkata hanya bisa menggantungkan harapan padaku, dan aku memang harus membunuh Samudra, itu adalah tujuanku, sudah lama aku menantikan hari ini.
"Kau? Membunuh Samudra?" tanya Marco memastikan pendengarannya, mengapa seolah dirinya menemukan hal yang ganjal di sini.
"Siapa kau? Siapa kau sebenarnya?" tanya Marco lagi, mungkin juga penting baginya untuk tau.
"Aku adalah Ayah dari Samudra, dia meninggalkan kami setelah berhasil meraih kesuksesan, dia bahkan mengurung kami selama bertahun-tahun."
"Kami?"
"Ya, aku dan istriku, bagaimana mungkin ada anak setega itu memperlakukan orang tuanya, sungguh tidak tau balas budi."
Marco mengerenyitkan heran, mengapa begitu pelik apa yang baru saja dirinya dengar.
"Kau tau Samudra berada di mana sekarang?" tanya Marco.
"Aku tidak tau, jika yang baru saja aku bunuh bukanlah Samudra, aku tidak tau anak tidak tau diri itu berada di mana saat ini." jawab pria itu.
"Siapa namamu?" tanya Marco.
"Romi, mengapa?"
"Heh!" Marco tersenyum miring, "Apa-apaan ini, anakku bahkan dipermainkan di sini, sebuah nyawanya bagai tidak berarti, keparat!" umpat Marco.
"Kau tau Sian?" tanya Marco lagi.
Romi mengangguk, "Dia adalah salah satu pelayan yang ditugaskan oleh Samudra untuk mengawasi kami di penjara, miris sekali saat seorang anak malah memenjarakan orang tuanya sendiri." jawabnya.
"Cih!" Marco berdecih, "Ini gila, Ayazku harus menderita karena sebuah kesalahpahaman yang sudah dirancang oleh keparat itu, benar-benar mau mati!" tangan Marco mengepal, "Siapa, nama wanita itu?" tanya Marco lagi.
"Dia istrinya Sian, aku tidak menanyakan namanya." jawab Romi.
Mendengar itu Marco bangkit dan langsung saja mencengkram kerah baju Romi dan berkata, "Jangan main-main denganku, katakan siapa namanya, apa benar itu istrinya Sian, jangan sampai aku membunuh orang yang salah sepertimu, kau tau!"
__ADS_1
"Aku bisa bersumpah Tuan, aku sungguh tidak tau namanya, aku tidak pernah bertanya siapa namanya." rasa takut begitu Romi rasakan saat mata Marco menatap nyalang dirinya, pria itu memang tidak bisa disinggung.
Cengkraman itu terlepas juga, Marco langsung meninggalkan Markasnya, ia berjanji ditangannya ini sebentar lagi wanita itu pasti akan berakhir mengenaskan.
"Jaga dia!" titah Marco pada para anak buahnya.
...***...
"Bagaimana keadaannya?" tanya Yaren saat Rymi mengunjungi kamar yang dirinya tempati.
"Aku tidak bisa berbohong jika harus mengatakan Ayaz baik-baik saja, aku bahkan sudah setengah gila memikirkannya." ucap Rymi lirih.
Yaren tersentak, benarkah Ayaz seperti itu?
"Apa aku bisa melihatnya?" tanya Yaren.
"Operasi memang sudah berakhir dan Ayaz sudah berhasil melewati masa kritisnya, tapi... Ayaz membutuhkan donor darah, dan darah Ayaz adalah salah satu darah yang langka. Aasshhh, aku bahkan merasa sangat tidak berguna!" jelas Rymi.
"Apa darahnya?" tanya Yaren.
Yaren mencoba mengingat-ingat, wanita itu sampai memejamkan matanya mencoba berkonsentrasi mengingat siapa yang memiliki darah langka seperti itu. Rasanya, ia memang pernah mendengar seseorang memiliki darah langka yang juga seperti itu dulunya, tapi siapa?
"Kau ingat sesuatu? Aku mohon Yaren, coba ingat ingat terus, siapa orang yang juga memiliki jenis darah seperti itu." gencar Rymi.
"Rym, rasanya aku memang pernah mendengar tentang darah itu, tapi..." Yaren masih mencoba mengingatnya.
Rymi memegang pundak Yaren, "Yakin, ini demi Ayaz, ingatlah, siapa? Meski ke ujung dunia pun akan aku temui orangnya, aku mohon!"
Yaren melihat Rymi yang begitu peduli dengan suaminya, hatinya juga mulai diselimuti rasa cemburu, meski ia menyadari kalau dirinya tidak pantas merasakan hal itu disaat seperti ini, tapi mengapa rasanya begitu sakit saat melihat Rymi memohon dengannya seperti itu.
Yaren mencoba mengabaikan perasaannya, Ayaz sedang berjuang di sana, hentikan pemikiran gila itu, Yaren membatin.
"Rym..." ucap Yaren saat dirinya seperti ingat sesuatu.
__ADS_1
"Bisakah kau membawaku ke SMA Cemerlang, meski kemungkinannya sedikit, tapi apa salahnya kita coba, dulu saat sekolah kami mengadakan donor darah masal, ada satu anak yang ingin mendonorkan darahnya namun tidak disetujui, kalau tidak salah alasannya karena jenis darah dari pria itu termasuk langka, aku juga samar-samar ingat, rasanya memang jenis darahnya RH- AB." jelas Yaren.
Rymi memejamkan matanya, wanita itu langsung saja memeluk Yaren karena dirasanya bagai ada secercah harapan, tidak peduli bagaimana nanti mereka akan mendapatkannya, tapi benar apa yang dikatakan Yaren, apa salahnya di coba terlebih dahulu.
"Terimakasih, terimakasih Yaren!" ucap Rymi. Yaren, entah harus menjawab apa, baginya ini juga sudah menjadi tugasnya untuk menyelamatkan sang suami, tapi mengapa di sini seolah-olah Rymi lah orang yang sangat tepat untuk menggambarkan istrinya Ayaz.
Rymi terlihat lebih lebih peduli pada Ayaz, padahal sebenarnya ia juga tidak kalah peduli. Apa lagi, ia yang diharuskan mematuhi perintah wanita itu untuk tetap tinggal di kamar ini, Yaren merasa terasing, sungguh.
Padahal Yaren ingin sekali menunggui Ayaz, tidak melewatkan sedetikpun kabar dari suaminya itu. Bukan malah dengan gilanya hanya bisa menunggu kabar yang dibawa oleh Rymi seperti ini, mengapa rasanya ada ketidaksesuaian di sini. Namun sekali lagi, Yaren mencoba meneguhkan hatinya, tidak... Ayaz sudah dengan berani menyelamatkannya hingga mengalami hal demikian, Rymi juga, jika ia menyukai Ayaz, mengapa wanita ini dengan berani menyelamatkannya, mengapa tidak membiarkan saja dirinya mati?
Rymi melihat jam dinding, subuh sudah sampai, "Kau bersiaplah, kita akan bersama-sama pergi ke SMA Cemerlang, aku sangat berharap bisa menemukan orang itu." ucap Rymi.
"Tapi Rymi, donor darah masal itu sudah berlangsung sekitar delapan tahun yang lalu, kita harus mencari informasi terkait siswa di delapan tahun yang lalu." ucap Yaren lagi, meski baginya hanya itulah satu-satunya cara, namun ada perasaan tidak yakin dirinya akan bisa mencarinya.
"Serahkan saja padaku!" ucap Rymi menenangkan.
Rymi keluar, ia juga harus bersiap-siap untuk pergi, segala kelengkapan untuk meretas sistem informasi terkait akan dirinya persiapkan, dirinya tidak mau kehilangan kesempatan ini, tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain berusaha sampai titik akhir.
Setelah semuanya beres, Rymi menghubungi Marco, ia akan meminta Marco untuk menjaga Ayaz selama peninggalannya, dan ia juga akan memberitahukan cara yang akan dirinya tempuh untuk mendapatkan darah itu.
"Daddy di mana?"
^^^"Aku baru saja meninggalkan markas, Rym... Apa terjadi sesuatu?"^^^
"Tidak, tapi bisakah Daddy ke sini?"
^^^"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"^^^
"Aku harus pergi bersama Yaren, Yaren mengatakan salah satu siswa satu sekolah dengannya dulu, memiliki darah yang sama dengan Ayaz, tapi sayangnya Yaren tidak mengetahui nama orang itu, aku akan memeriksa datanya dan langsung mencari orang itu begitu aku menemukan informasi terkait."
^^^"Benarkah?"^^^
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...