
"Ada apa?" tanya Yaren, ia menatap Ayaz dengan menyelidik, saat ini keduanya sedang berada di mobil menuju pulang.
"Tidak apa!" sahut Ayaz.
Perlukah ia memberitahu Yaren praduganya?
"Kau melihat hasil menggambar anak itu, apa yang dia gambar?" tanya Yaren lagi.
Ayaz menoleh, "Mentalnya terguncang!" jawab Ayaz.
"Benar kan, aku juga berpikiran begitu, aahhh kasihan sekali dia!" ucap Yaren.
"Aku akan mengurusnya, besok pagi-pagi sekali aku akan melihatnya lagi di Panti." Ayaz berpikiran untuk meminta obat dari Marco, namun jika diberikan pada anak-anak apa tidak berbahaya, pikirnya.
"Kau benar-benar peduli!" ucap Yaren senang.
Ayaznya memang benar-benar berubah, sudah tidak semenakutkan dulu, atau mungkin dirinyalah yang sudah semakin terbiasa akan Ayaz. Entahlah, yang jelas kedekatan ini malah semakin membuat Yaren yakin, Ayaz adalah yang terbaik untuknya.
"Sebenarnya, kira-kira apa yang terjadi dengan anak itu?" tanya Yaren lagi.
Hening, Ayaz belum menanggapi, ia masih fokus menyetir.
"Orang tuanya berpisah!" jawab Ayaz tiba-tiba, menjawab saat mobilnya berhenti di lampu merah. Dengan tanpa menatap mata Yaren ia berucap, terbesit rasa kasihan terhadap anak laki-laki tadi.
"Apa?" tanya Yaren, dia juga sempat termenung, saat Ayaz bicara begitu, ia jadi tidak siap menanggapi.
"Anak laki-laki itu!"
"Oohhh, lalu, mengapa bisa sampai seperti itu, jujur saja saat aku melihatnya pertama kali yang tidak bisa berinteraksi dengan siapapun tadi, aku berpikir mungkinkah anak itu mengalami trauma?"
"Bisa jadi!" sahut Ayaz.
"Kasihan sekali dia, lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Yaren.
"Untuk saat ini aku juga tidak tau, aku ingin melihat perkembangannya dulu."
"Ayaz, apa kau pernah menghadapi anak atau orang seperti dia, kelihatannya kau cukup banyak tau!"
"Mengapa memangnya?"
"Tidak apa, hemmm... Aku hanya salut saja padamu." aku Yaren.
Ayaz menoleh, menyunggingkan senyumnya, lalu mengambil tangan Yaren dan kemudian mengusapnya pelan. "Beberapa kali!" jawab Ayaz.
__ADS_1
"Benarkah?" Yaren antusias sekali mendengar jawaban Ayaz.
Ayaz mengangguk, "Kondisi itu pernah beberapa kali aku temukan."
Andai kau tau Yaren, bahkan suamimu ini pernah hampir gila karena selalu bermimpi buruk, terimakasih sudah menjadi obat penenangku sayang...
"Benarkah? Apa pekerjaanmu dan Rymi hal seperti itu biasa kalian temukan?"
Ayaz tersenyum lagi, sembari mulai kembali merayapkan mobilnya karena lampu sudah berganti hijau.
"Kau kenapa sepertinya sangat ingin tau?"
"Eh? Tidak tidak, jangan salah paham, aku bukannya ingin mengurusimu, tapi aku hanya penasaran saja."
"Ekkhmmm!" Ayaz berdehem, saat Yaren terlihat antusias begitu, kadar cantiknya malah bertambah dan Ayaz selalu saja ingin menyentuh bibir itu. "Bagaimana kalau nanti kita bicarakan di kamar, mungkin bercerita sambil mencari keringat sepertinya akan menyenangkan." goda Ayaz.
"Bercerita sambil mencari keringat? Memangnya kita mau apa di kamar? Bersih-bersih?" tanya Yaren tidak mengerti.
"Yah, bersih-bersih setelah kita..."
"Wah ternyata semenjak tinggal di rumah Daddy Marco, kau sudah banyak berubah ya, sampai tugas bersih-bersih pun kau lakukan juga." potong Yaren.
"Haaahhh!" Ayaz menghela napasnya berat, Yaren ini kadang polosnya suka kelewatan, "Maksudku, kita bisa bercerita sambil bercinta!" jelas Ayaz dengan sangat detil, jangan sampai penjelasannya kali ini Yaren masih juga tidak mengerti.
Namun seperdetik kemudian, "Haahhh, kau bilang apa?" tanyanya terdengar panik.
"Bercinta, Ber-cin-ta! Kau terlihat antusias sekali tadi sayang." goda Ayaz lagi.
"Aku... Antusias?" Yaren tercekat.
Ayaz mengangguk teratur, bahkan wajahnya sengaja ia buat menggemaskan, "Kau mau kaaannn?" tanya Ayaz menekankan.
Sudah kewajibannya melakukan hubungan suami istri, harus melayani sang suami dengan sepenuh hati, tapi percayalah setiap kali melakukannya hal yang kadang masih saja membuat Yaren mengeluh adalah karena ukuran si perkasa Ayaz yang menurutnya lumayan.
Namun, pada akhirnya Yaren mengangguk juga, mau menolak seperti apa, Ayaz adalah suaminya.
"Hemmm, baiklah... Sepertinya malam ini akan menyenangkan." gumam Ayaz.
Lalu, sengaja ia memutar balik mobilnya, saat mereka lewat tadi sebenarnya ada salah satu hotel mewah milik Ayaz yang tidak Yaren ketahui. Sepertinya Ayaz ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang istri. Mendengar Yaren yang menyetujui ajakannya, tentu saja menurutnya harus segera direalisasikan.
"Ayaz kita mau ke mana?" tanya Yaren kebingungan karena Ayaz memutar balik lagi mobilnya.
"Hari ini kita tidak usah pulang ke rumah Marco." sahut Ayaz.
__ADS_1
"Apa? Tapi kita mau ke mana?" tanya Yaren lagi.
"Bersenang-senang!" Ayaz menatap suka Yaren, ia mengerlingkan matanya genit, menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
Yaren pasrah saja, Ayaz selalu saja begitu kalau di tanya, tidak langsung tepat pada jawabannya.
...***...
Rymi uring-uringan, Sam tidak lagi menghubunginya, setelah beberapa panggilan Sam yang tadi sempat dibiarkannya, kali ini bahkan dia sangat menunggu panggilan telepon itu lagi seperti orang gila.
"Apa hanya segitu usahamu?" Rymi memaki ponselnya yang seolah sengaja ia letakkan di meja.
"Cih!"
"Tidak! Aku bukan menunggu telepon darinya, aku hanya... Hanya..." Rymi sepetinya sedang kesulitan melanjutkan kata-katanya, karena sebenarnya ia juga tidak tau, hanya apa yang akan dijadikannya sebagai alasan.
"Dia itu! Aisshhh..." geram Rymi lagi.
Wanita itu masuk ke kamarnya, meninggalkan ponselnya di ruang tamu, isi kepalanya adalah semoga saja Sam nanti menelponnya lagi dan dia tidak mengetahui itu, sekali lagi ingin menerapkan jurus tarik ulurnya, namun entahlah untuk kali ini akan berhasil atau tidak..
Sayangnya, perkataan bertolak belakang dengan apa yang ada di hatinya, "Haaahhh! Tarik napas Rym, yak... Hembuskan! Fiuuhhh..."
Lalu dengan semangat empat lima ia sedikit berlari kecil menuju ruang tamu lagi, padahal tidak kurang dari lima menit ia meninggalkan ponselnya itu.
Semoga ada, semoga ada...
Menunggu panggilan dari Sam sudah seperti menunggu pengumuman lotre, mendebarkan dan betapa kecewanya Rymi saat ponselnya tidak menampilkan apa yang dirinya harapkan.
Segala umpatan nama binatang serasa di ujung lidah, ia membayangkan wajah Samudra yang saat ini tengah dihajar olehnya.
Sedang yang tengah ditunggu kabarnya,
Sam begitu pusing kala mendapat tekanan dari ayah angkatnya, Tuan Donulai menugaskannya untuk lebih tegas dan harus bisa membawa Ayaz untuk menjadi pewaris kerajaan bisnisnya.
Kepalanya sakit memikirkan bagaimana caranya. Ia memang dekat dengan Ayaz, namun ia juga adalah saksi perjalanan sahabatnya itu, dan ia juga tidak bisa memaksa jika Ayaz mengatakan tidak, karena ia sungguh tau apa yang saat ini tengah Ayaz rasakan.
"Apa yang harus aku lakukan!" gumamnya.
Donulai mulai memaksanya, memperlihatkan kekuasaannya. Sam menjadi tidak percaya diri, dalam diamnya kadang terlintas ucapan Marco yang memperingatinya, namun berapa kali juga ia menepis itu.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1