
Sia-sia, semua itu hanya sia-sia. Amla menggeram frustasi kala tidak bisa menemukan siapa pengawal yang menemani Dale waktu itu.
Tapi Amla pikir, mungkin juga pengawal itu memang sudah tidak berada di rumahnya, mengingat malam itu siapa tau hidupnya juga diambang kemalangan.
Semoga saja pengawal itu tidak memiliki pikiran untuk membeberkan semua yang terjadi, karena kalau sampai ada pemikiran semacam itu tamatlah riwayatnya.
Menyekap seseorang bertahun-tahun, ia tidak bisa membayangkan hukuman seperti apa yang akan diterimanya, mana suaminya itu sudah lebih dulu meninggalkannya, meninggalkan tanggung jawab yang cukup berat baginya ini. Benar-benar berat jika mereka sampai ketahuan.
"Kiranya apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada salah satu orang kepercayaannya. Orang itu lebih tua darinya, termasuk orang yang sudah begitu lama bekerja di kediaman Huculak, bahkan orang kepercayaannya itu sudah bekerja di sini semenjak Sian berumur dua tahun.
"Apa Nyonya bertanya pada saya?" tanya seseorang itu meragu.
"Memangnya di sini ada siapa lagi selain kau dan aku? Dasar tidak berguna!" umpatnya penuh kemarahan.
Amla memang seperti itu, wajar saja sembilan puluh persen dari pengawal di kediaman Huculak sangat tidak menyukainya, sifatnya yang angkuh dan sombong membuat semua orang di kediaman itu seakan terpaksa melayaninya.
Namun, meski begitu selama bertahun-tahun mereka tidak pernah melayangkan protes, apa lagi mereka melihat Tuan Sian mereka begitu menyayangi Amla yang adalah Nyonya di rumah itu, rumah tempat mereka bernaung menggantungkan hidup, jadilah mereka harus menerima itu semua, cacian dan makian adalah makanan sehari-hari mereka, Amla tidak pernah peduli kalau perkataan dan tindakannya membuat semua orang merasakan kesakitan hati.
"Sudahlah, bertanya padamu kadang hanya membuatmu tambah pusing."
Dari kejauhan, Ilham melihat perangai Amla, melihat Amla yang tidak pernah sekalipun peduli akan orang-orang sepertinya, membuatnya semakin yakin untuk berkhianat dan melakukan pemberontakan.
Maafkan saya Tuan, seumur hidup saya pasti akan selalu setia pada Tuan, tapi tidak dengan wanita itu.
Saya hanya mengkhianatinya, Tuan masih selalu berada di hati saya. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan hati Tuan.
Dulu, berkat Sian lah dia bisa melakukan operasi donor ginjal untuk Ibunya, saat ia sudah akan menyerah karena tidak bisa melakukan apapun untuk kesembuhan Ibunya, pertemuan tidak sengajanya dengan Sian hari itu tidak akan pernah dirinya lupakan.
Sian memberikan harapan itu, Sian berjanji akan membiayai operasi itu, ringannya tangan Sian membuatnya berjanji tidak akan pernah melupakan kebaikan pria paruh baya itu.
Saat itu dirinya masih lajang, Sian menawarkannya pekerjaan dan dikatakan akan melakukan serangkaian proses untuk benar-benar menjadi seorang pengawal di rumah utama yang megah ini. Tanpa paksaan dan malah Ilham begitu berterimakasih, dirinya langsung saja menyetujui ajakan bekerja yang ditawarkan Sian itu.
Begitu banyak cerita dari para pengawal lainnya, Tuan mereka itu memang terkenal akan kemurahan hatinya, hingga bagaimanapun meski Sian sudah dinyatakan mati sekalipun, mereka semua tentunya pasti akan selalu setia pada satu Tuan saja.
__ADS_1
Ilham masih memperhatikan apa yang dilakukan Amla, terlihat dari kejauhan wanita itu membentak seroang pelayan wanita, setiap hari pasti ada saja kejadian semacam ini. Mungkin ada yang kurang dari hidup Amla jika sehari saja wanita itu tidak marah-marah.
...***...
Ayaz meneteskan air matanya kala melihat seorang anak laki-laki berumuran tujuh tahun yang terlihat begitu kurus, berbeda dari anak lainnya yang terlihat begitu berisi.
"Ada apa dengan dia?" tanya Ayaz berbisik pada Yaren.
Bukan apa, anak laki-laki itu sungguh mirip dengannya waktu kecil, sangat kurus dan tidak terawat.
"Kenapa?" tanya Yaren.
"Dia terlihat sangat kurus!"
"Kata Ibu Panti, anak itu baru beberapa hari berada di sini, salah satu pengurus panti menemukannya tengah tertidur tidak jauh dari gang depan sana saat subuh, saat ditanya anak itu selalu saja berbicara tidak nyambung, makanya saat ini dia sedang dalam perawatan." jawab Yaren. Ia juga turut prihatin melihat kondisi menyedihkan anak itu, dan juga bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi.
"Apa?" Ayaz tidak percaya, apa yang baru saja dirinya dengar seperti ia bisa menebak apa yang terjadi.
Ayaz mendekati anak itu, ia lalu menatapnya dengan tatapan tajam, sontak saja anak itu menjerit histeris... "Jangan... Pergi, jangan mendekat!"
Ibu Panti langsung saja mendekat, dan memegangi tubuh anak itu, serta menenangkannya mengatakan kalau tidak akan terjadi apapun.
"Apa dia pernah mengigau?" tanya Ayaz.
Ibu Panti itu mengangguk, "Beberapa hari kemarin dia selalu mengatakan hal yang sama, berteriak seperti itu, seolah ada orang yang akan menyakitinya."
"Apa Ibu sudah memeriksakan tubuhnya?"
"Kalau hasil rongent kemarin mengatakan kalau tubuhnya baik-baik saja, tidak terdapat tindak kekerasan sama sekali."
"Kalau ke psikolog?" tanya Ayaz lagi.
"Kalau ke psikolog, dugaan sementara katanya karena kekerasan, mentalnya sudah terganggu." lanjut Ibu Panti, sembari memeluk, dan mengusap punggung anak laki-laki itu.
__ADS_1
"Ulurkan tangannya?" pinta Ayaz.
Namun karena anak laki-laki itu masih takut, tangannya enggan untuk di bawa ke arah Ayaz.
"Jangan takut Nak, Kakak ini hanya akan melihat tanganmu sebentar!" ucap Ibu Panti.
Yaren yang melihat itu jelas saja menyimak, apa lagi melihat Ayaz yang sepertinya begitu peduli, ia ingin melihat apa yang akan Ayaz lakukan.
"Ayo!" bujuk Ayaz, wajahnya sudah berubah menjadi ramah, sejujurnya tidak ada niatan untuknya membuat takut anak laki-laki itu, ia hanya ingin memastikan sesuatu, dan dugaannya kali ini jika saja benar maka ia merasa harus menolong anak itu.
Apa lagi, anak itu dari segi tubuhnya begitu mirip dengannya saat kecil, kurus dan tidak terawat. Hanya wajah saja yang berbeda.
"Ayo adik kecil..." Yaren mendekat, ia mengambil tangan anak laki-laki itu dan dengan sangat pelan membawanya menuju Ayaz.
Anak itu memberanikan diri mendekat, meski Ayaz tau semua itu mungkin sulit sekali anak itu tahan.
"Apa aku bisa mengetahui namamu?" tanya Ayaz ramah.
"Jangan takut, kau bisa berbagi denganku!"
Anak laki-laki itu masih diam, namun matanya mulai sedikit berani menatap wajah Ayaz.
"Siapa?"
"Kau bisa menuliskannya? Jangan bercerita jika kau tidak mau, kau bisa menuliskan namanya, atau mencoret-coret di..." Ayaz menjeda ucapannya. "Beri aku kertas kosong!" pinta Ayaz pada Ibu Panti itu.
Ibu Panti langsung saja mengambil beberapa kertas kosong, barang kali Ayaz benar-benar bisa membantunya.
"Di sini, luapkan emosimu di sini, kau bisa mempercayaiku!" ucap Ayaz sembari memberikan satu lembar kertas kosong dan sebuah pensil untuk anak laki-laki yang sekilas seperti gambaran dirinya waktu kecil itu.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1