Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Menikmati waktu yang mungkin saja masih tersisa.


__ADS_3

"Bersyukurlah! Karena kebaikan anak tirimu lah maka kau bisa memilih jalan kematianmu sendiri, karena jika aku jadi Yaren, aku tidak akan sebodoh itu melepaskan kalian, akan aku buat kalian menangis darah, dan berharap mati adalah jalan yang lebih baik dari pada setiap detik menjalani hidup." ucap Rymi, jika menurut perintah, seharusnya Wana dan Raisa mendapatkan siksaan di markas mereka ini, namun tidak jadi karena beberapa menit yang lalu Ayaz membatalkan rencana dan memilih untuk melepaskan saja tawanan mereka ini.


"Cih!" decih Raisa, "Katakan pada Yaren, aku tidak butuh kemuliaan hatinya, aku tidak butuh!"


"Sampai saat ini pun kau masih tidak tau diri!" berang Rymi.


"Bukan urusanmu!"


Wana diam saja, wanita itu sebenarnya juga masih benci terhadap Yaren, namun isi kepalanya lebih tertarik memikirkan bagaimana nanti dirinya harus hidup setelah kehancuran ini.


Rymi mendekat, tangannya langsung saja terulur mencengkram erat rahang Raisa, "Sampah sepertimu, memang seharusnya dimusnahkan... Sangat tidak berguna!"


"Baik, aku ingin lihat, bagaimana kau menjalani hidup setiap harinya, kah berharap keluarga Suryono akan membantumu? Bahkan memilih menikahimu saja adalah kesalahan, bagaimana bisa mereka berlapang dada menerima pernikahan konyol kalian ini?"


"Si...aalan...." kutuk Raisa, dengan terengah.


"Apa kau merasa cantik dengan wajahmu ini? Bagaimana jika aku memberikan sedikit lukisan di sini?" jari telunjuk Rymi menoel sedikit pipi Raisa.


Raisa menggeleng, "Jangan berani melakukan apapun!" geramnya.


"Kenapa tidak?" tanya Rymi.


Raisa begitu ketakutan, sebenarnya tangan dan kakinya bebas tanpa terikat apapun, namun entah mengapa dirinya memang merasa wanita gila di hadapannya ini benar-benar menakutkan.


"Kau mau apa?" teriak Wana. Ia tersadar dari lamunannya, melihat Raisa yang begitu takut ia pun angkat bicara untuk menanyakan.


"Kau mau melihatnya?" tanya Rymi.


"Jangan berani kau apakan dia!"


"Aisshhh, mengapa kalian masih saja berpikir kalian adalah orang kaya, bisa meninggikan suara, menggertak, berteriak seperti itu, seharusnya kalian pelan-pelan berlatih bagaimana menjadi gelandangan?"


"Kurang ajar, mulutmu itu, kau tidak tau sedang bicara pada siapa?"


"Apa kau masih berpikir kau punya kakuasaan? Bahkan pengemis di jalanan saja mungkin saat ini berani saja meneriakimu, apa kau belum sadar juga dari mimpimu?"


"Kau bilang, Yaren sudah melepaskan kami, kau tidak perlu lagi ikut campur!" berang Wana.


"Apa kah baru saja dengan senang hati menerima kabaikan kakak iparku?" tanya Rymi tergelak.


"Kakak ipar?" Raisa terkejut saat Rymi mengatakan Yaren adalah Kakak iparnya.


"Hahahaha, kau terkejut? Biar ku beri tau, karena ada satu fakta lagi yang akan membuatmu lebih tidak percaya? Kau mau dengar?"


"Bukan hal penting, siapapun kau, siapa Yaren dan siapa suaminya, bagiku tidak penting." acuh Raisa.

__ADS_1


"Kau yakin?"


"Tapi sayangnya, orang yang tidak penting ini nyatanya bisa menghancurkan hidupmu dalam sekejap!"


"Sialan!"


"Sebenarnya apa maumu?"


Raisa dan Wana memberang bersamaan.


"Tidak ada? Karena Yaren sudah melarangku! Bukankah sudah kukatakan!"


"Kalau begitu lepaskan kami!" ucap Wana.


"Melepaskan kalian? Memangnya aku mengikat kalian? Tidak kan! Pintu juga tidak dikunci. Kalian saja yang masih betah berlama-lama di sini." sahut Rymi santai.


Mata Wana membulat, segampang itu. Mengapa juga tidak mereka lakukan sedari tadi.


Brakkk...


Pintu, dibuka.


Raisa menatap siapa yang datang, matanya berbinar karena menurutnya ada secercah harapan.


...***...


Mata Yaren menatap suaminya dengan haru, akhirnya suaminya bisa luluh juga, keras hati suaminya ternyata masih mempunyai sedikit rasa peduli, setidaknya terhadapnya.


"Terima kasih Ayaz..." ucap Yaren.


"Semua ini gara-gara kau, lain kali tidak akan aku turuti lagi."


"Aku yakin kau tidak sekejam itu."


"Kau percaya diri sekali!" ledek Ayaz.


"Setidaknya dari pada berputus asa." sahut Yaren.


Keduanya berpelukan, Yaren lega setidaknya Ayaz tidak melakukan apapun lagi untuk membalas dendam, tapi semua yang terjadi hari ini tentunya akan berkepanjangan, dan Yaren tidak bisa mencegah itu terjadi.


Lagipun, setelah ini, dirinya benar-benar akan berpisah dari Papanya, Argantara.


"Ayaz, bolehkah aku memohon permintaan lagu, satu kali lagi!" tanya Yaren dengan penuh harap.


Ayaz mengurai pelukannya, ia menatap Yaren heran, permohonan apa lagi pikirnya.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi takut?" tanya Ayaz.


"Kau ini!" Yaren mencubit gemas dada bidang suaminya.


"Awww!" rintih Ayaz, meski bukan sakit yang dirinya dapatkan melainkan geli.


"Ayaz... Aku, aku ingin meminta, bisakah aku... Bisakah aku, menemui Papa sebelum kita benar-benar meninggalkannya, dia juga belum bangun bukan?" tanya Yaren.


"Kenapa kau ingin menemuinya?" tanya Ayaz langsung.


"Terakhir kalinya! Aku janji!" sahut Yaren.


"Aku tanya, untuk apa kau menemuinya?"


"Ayaz..."


"Aissshhh, apa aku harus mengalah lagi, bukannya kau tau aku tidak menyukai ini?"


Yaren tampak sendu. Sudahlah tidak apa, jika Ayaz tidak mengizinkannya ia juga tidak bisa berbuat banyak, ia juga mengerti Ayaz melakukan ini demi dirinya.


Seorang anak harus berpisah dari orang tua, namun dirinya juga harus menimbang orang tua seperti apa yang pantas untuk dipertahankan, dan orang tua mana yang pantas untuk ditinggalkan. Selama ini bahkan, Yaren telah merendahkan dirinya sendiri demi sang Papa tercinta, namun apa, Papanya sama sekali tidak pernah menghargainya. Kejadian demi kejadian yang membawanya menjadi semakin terpuruk membuatnya pelan-pelan menyadari bahwa kehadirannya di keluarga itu memang tidak pernah dianggap.


"Kalau begitu... Bisakah kita pulang, aku tidak ingin berlama-lama di sini lagi." ucap Yaren lagi. Ia mengubah permintaannya.


Benar, berlama-lama di sini, sepertinya memang kurang baik untuk hatinya. Semakin lama, semakin menyakiti.


"Pergilah!" ucap Ayaz.


Yaren mendongak, ia menatap heran suaminya, jawaban itu untuk pertanyaannya yang mana.


"Pergilah menemuinya!" lanjut Ayaz.


Yaren tampak bersemangat, senyum yang menjadi candu bagi Ayaz itu terbit dari bibir Yaren, "Terimakasih Ayaz..." Yaren kembali memeluk suaminya erat.


Kemudian ia langsung saja menuju ruang rawat Papanya, ia akan menemui Papanya untuk yang terakhir kalinya.


Ayaz hanya bisa terdiam, melihat punggung Yaren yang semakin menjauh, lalu hilang dibalik pintu ruang rawat Argantara.


"Maafkan aku Yaren, aku terpaksa melakukan ini, karena Argantara juga tidak bisa diharapkan jika suatu hari nanti kau harus kehilanganku, aku lebih percaya kau berada di tangan Jovan dari pada Argantara, dia bisa memberimu pengertian karena dia cukup tau siapa diriku yang sebenarnya, tapi jika Argantara... Dia tidak akan melakukan itu, aku tidak bisa membiarkanmu terhasut lagi olehnya."


"Karena diriku ini bukanlah orang baik, sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku bukanlah orang baik, jadi jika kita sudah seperti ini, aku mohon jangan salahkan aku jika aku begitu egois."


"Aku... Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, meski aku tau, kita mungkin saja akan berpisah cepat ataupun lambat, tapi... Aku hanya ingin menikmatinya, menikmati waktu yang mungkin saja masih tersisa."


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2