Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Gadis malang.


__ADS_3

Apa kau bercanda? Aku pikir hari pertama kita adalah saat Bapak mencoba mendekatiku, sayang sekali... Aku sepertinya sedikit kecewa!


Sam merenungkan kenangan singkatnya bersama Rymi, lalu matanya menangkap lagi wanita yang sedang duduk santai di sofa itu, sama sekali tidak berperasaan! Apa pengakuan cintanya waktu itu hanya permainan? Dan berkencan? Kebohongan apa yang sebenarnya, mengatakan kisah mereka telah dimulai, apa Rymi sengaja mempermainkannya? Sam begitu kecewa, namun tidak bisa dirinya pungkiri, ia cukup senang akan kehadiran Rymi di sini.


Dia yang pertama menciumku, aku bahkan sudah tidur dengannya, tapi dia sama sekali tidak peduli, ini gila!


"Kau tidak berniat untuk pergi?" tanya Sam, mulai berbasa-basi lagi.


Rymi menoleh ke arah Sam, dahinya berkerut, "Aku cukup amanah!" jawabnya asal.


"Apa hubunganmu dengan Ayaz?" Sam sebenarnya tidak ingin menanyakan ini, waktu itu ia sudah mendengar jawabannya dari Ayaz, tapi dia masih penasaran bagaimana jawaban dari Rymi.


"Aku? Dengan 'Sialan' itu?" tanya ulang Rymi.


"Ayaz? Mengapa kau memanggilnya begitu?"


"Heh!" sudut bibir Rymi tertarik, "Memang dia pantas dipanggil begitu!" jawab Rymi.


"Kau pasti banyak mengetahui tentang Ayaz!"


"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Rymi langsung.


"Hubunganmu, hubungan kalian?"


"Apa aku harus menjelaskannya?" tanya Rymi lagi.


"Jika bagimu tidak masalah?"


Rymi mengambil bantal sofa, merentangkan tangannya yang penat, lalu menepuk-nepuk bantal itu untuk menyangga kepalanya, ia ingin mencari posisi yang nyaman untuk berbincang.


"Dia, orang kepercayaan Daddy!" jawab Rymi.


"Benarkah?" tanya Sam, namun kepalanya mengangguk teratur.


"Apa untungnya aku berbohong!" dengus Rymi.


"Emm, benar juga, lalu... Kau menganggap Ayaz sebagai apa?"


Rymi tampak kebingungan untuk menjawab, karena sebenarnya ia pun juga tidak tau apa dia bagi Ayaz dan apa Ayaz baginya.


Kebingungan itu membuat hening yang berkelanjutan.


...***...


"Jadi... Apa masalahnya?" tanya Dokter Amri, menatap gadis yang sepertinya mulai tidak nyaman berada di dekatnya.


Hari ini ia menepati janji untuk menemui gadis itu, Nil namanya, Dokter Amri selalu saja teringat akan wajah menggemaskan gadis itu,

__ADS_1


"Tidak, bukan begitu Pak Dokter!" Nil menarik kursinya untuk lebih maju, sikunya berpapasan dengan meja, ia canggung.


"Kau lucu sekali." ucap Dokter Amri tiba-tiba. Pipi gadis itu memerah, Dokter Amri semakin gemas dibuatnya.


"Aku... Pak Dokter, bisakah kita berkencan?" ucap Nil cepat, dari kemarin dia ingin menanyakan itu namun belum juga punya cukup nyali.


Dokter Amri terperangah, seketika hanya ada keheningan yang hinggap diantara keduanya.


Sudut mata Nil berkerut, menggigit bibir bawahnya, seketika rasa malu menyeruak diantara wajahnya. Keadaan macam apa ini? Nil melirik dokter Amri, mungkin masih terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakannya.


"Maafkan aku Pak Dokter, abaikan saja, anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun!" ucap Nil lagi, dia tidak mau membuat Dokter Amri kecewa, biarlah dirinya tahan saja kehendaknya itu.


"Kau serius?" tanya Dokter Amri, berhasil membuat guratan di dahi Nil lagi.


"Apa?"


"Ajakanmu tadi!"


"Apa, Pak Dokter akan marah?" tanya Nil.


"Apa kau tidak keberatan?" tanya balik Dokter Amri, senyum terlepas dari bibirnya, apa dia sudah gila, ingin mengencani gadis belia?


"Pak Dokter bercanda? Bagaimana bisa aku keberatan? Tidak tidak, apa itu artinya, Pak Dokter menerima tawaranku?" tanya Nil memastikan.


Dokter Amri mengangguk, hanya berkencan saja, tidak ada salahnya kan.


Mata Nil membulat, benarkah ini, benarkah Pak Dokternya benar-benar setuju untuk berkencan dengannya.


"Kapan Pak Dokter ada waktu?" tanya Nil antusias.


"Minggu ini aku free!" jawab dokter Amri.


Sungguh demi apapun, ia harus berterimakasih pada dunia yang mengapa tiba-tiba sangat berpihak padanya.


Nil mengangguk pasti, minggu ini akan menjadi hari yang menyenangkan untuknya.


...***...


Malam beranjak naik, namun Yaren masih betah duduk di ruang tamu, menunggui kepulangan Ayaz.


Tadi ia sudah menelpon Jovan, menanyakan apa suaminya sedang bersama kakaknya itu, atau minimal apa Kakaknya itu pernah bertemu Ayaz hari ini. Namun, Jovan mengatakan tidak pernah bertemu Ayaz hari ini, dan jawaban itu berhasil membuat Yaren begitu cemas.


Ayaz pergi pagi-pagi sekali, sampai jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam pun, Ayaz tidak juga pulang ke rumah.


Padahal waktu kemarin, mereka sudah saling bertukar nomor ponsel, Yaren sedikit menggerutu kala Ayaz tidak juga mengangkat panggilan telepon darinya, apa lagi membalas pesan, mengapa Ayaz begitu sulit mengabarinya. Sebenarnya ada di mana suaminya itu.


"Dia memang suka semaunya, seharusnya kau tidak sehawatir ini Yaren!" gerutu Yaren lagi.

__ADS_1


Ting tong!


Suara bel berbunyi, Yaren dengan sigap langsung saja bergegas menuju pintu, ia sudah lama menantikan kepulangan Ayaz.


Ceklek, pintu dibuka, Yaren tampak kecewa kala mendapati seseorang yang datang bukanlah suaminya.


"Apa kau istrinya Ayaz?" tanya seseorang itu.


Yaren mengangguk cepat, gurat khawatir terlihat jelas di wajahnya.


"Ayaz dikabarkan kecelakaan, dan dia sedang dibawa ke rumah sakit, aku temannya, kami mau ke rumah sakit, apa kau akan ikut?" tanya seseorang itu.


"Kecelakaan?" tanya Yaren, kakinya melemas mendengar kabar itu.


"Iya, apa kau mau ikut dengan kami ke rumah sakit, jika tidak..."


"Ya, baiklah aku akan ikut denganmu!" jawab Yaren langsung. Yaren bergegas menuju kamar, ia mengambil jaketnya dan beberapa lembar uang tunai, tidak lupa ponsel untuknya mengabari Jovan di jalan nanti.


"Ayaz... Sesuatu terjadi padanya, oh ya Tuhan!" panik Yaren.


Yaren mengangguk pada pria yang menyebut dirinya teman Ayaz itu, mengisyaratkan kalau ia sudah siap.


Yaren dengan langkah cepat menuju mobil pria itu, di dalam mobil ada juga seorang pria lainnya, Yaren sedikit meringis mengingat dia hanya wanita sendiri yang berada di mobil itu.


"Bagaimana bisa Ayaz kecelakaan?" tanya Yaren langsung.


"Dia..."


"Bugh!" Yaren merasakan benda keras menghantam kepala belakangnya, kepalanya tiba-tiba saja sakit tak tertahankan, pelan matanya pun tertutup, Yaren pingsan.


"Setelah ini, entah Ayaz masih bisa tertawa atau tidak, yang jelas, nyawa harus dibayar dengan nyawa."


"Kau yakin Ayaz tidak akan membunuh Tuan?"


"Belum, mengingat apa yang pernah dilakukan Tuan Besar dulu pada anak itu, Ayaz pasti ingin menyiksa Tuan Besar sebelum membunuhnya."


"Akan kita apakan dia?" tanya seseorang yang tadinya mengaku sebagai teman Ayaz tadi.


"Gadis malang, kau harus menikah dengannya lalu mengalami penderitaan ini, sayang sekali!"


"Bawa dia ke rumah belakang Tuan!" ucap seseorang itu pada orang di balik kemudi.


"Baik Bos!"


Mobil pun melaju, Yaren masih meringkuk tidak sadarkan diri, karena panik dirinya benar-benar lupa, bahwa Ayaz pernah berpesan padanya untuk jangan pernah membukakan pintu.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2