Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ayaz, kali ini kau benar-benar terancam!


__ADS_3

"Karena Ayaz adalah putra kandungku!" ucap Marco, ada rasa lega saat dirinya sudah bisa mengatakan itu di hadapan orang lain, ia tidak perlu memendamnya lagi.


"Jadi, mulai sekarang panggil aku Daddy, seperti Rym memanggilku, Ayaz juga... Aku tidak mau lagi kau memanggilku Bung, atau Tuan!" tegas Marco.


Rymi tampak tersenyum, satu masalah baginya sudah terselesaikan, tinggal masalah-masalah berikutnya saja yang pastinya akan mereka bahas di sini nantinya.


Yah benar, kedatangan Jovan ke sini juga untuk membahas bagaimana kelanjutan kasus Ali Yarkan. Jovan sudah benar-benar terlibat jadi mau tidak mau dirinya juga harus ikut menanggung pertanggungjawabannya.


Dan, siapa yang ingin mengakui meski itu adalah tindakan baik sekalipun, tidak... Tidak ada siapapun yang ingin mengakui di hadapan polisi kalau mereka bersalah, begitu pun Jovan.


"Apa kau sudah tau?" tanya Yaren, ia menatap Ayaz penuh tanya.


"Ekhhmm!" Ayaz tidak berniat menjawab, ia lebih memilih menetralkan perasaannya. Canggung, ini sangat canggung baginya, namun sebisa mungkin ia menahan semua itu supaya tetap terlihat tenang.


"Dia sudah tau!"


Rymi yang menjawab, Yaren mengalihkan pandangannya ke arah Rymi. Wanita itu, sepertinya benar-benar menyatu dengan Ayaz, buktinya Rymi mengetahui semuanya.


"Dan Kakak?" kali ini Yaren menanyakan pada Jovan.


Jovan tersenyum dengan wajah yang serba salah, lalu pelan ia mengangguk. "Aku tidak bisa gegabah mengatakan rahasia orang lain!" sahut Jovan membela diri.


"Ya ya, mungkin hanya aku yang tidak mengetahui apapun di sini!" ucap Yaren, dirinya hanya bercanda mengatakan itu, sebenarnya ia sungguh senang, baginya Marco adalah sosok Ayah yang baik. Dari saat pertama kali saat Yaren bertemu dengan Marco, pria paruh baya itu terlihat sangat peduli dengan Ayaz, padahal dirinya hanya mengetahui kalau Ayaz dan Marco hanyalah memiliki hubungan sebagai seorang Bos dan anak buah.


"Aku hanya tidak punya waktu yang tepat untuk mengatakannya!" Ayaz memakai jurus Marco, beralasan untuk menjawab keluhan Yaren, padahal yang sebenarnya ia juga tidak tau harus mengatakan apa, merangkai kata-kata untuk mengatakan pada Yaren bahwa Marco adalah Ayahnya saja ia tidak bisa.


"Baiklah!" ucap Yaren, "Tidak apa! Aku sungguh senang mendengar berita ini, itu artinya aku benar-benar mempunyai mertua sekarang!" lanjutnya.


"Terimakasih sudah mendampingi Ayaz." ucap Marco.


Yaren tersenyum manis, ia mengangguk.


Kemudian mereka berbincang santai, hanya Marco, Rymi, Jovan dan Yaren saja yang tampak asik berbincang, sedang Ayaz pria itu hanya diam saja menyimak tanpa suara.


Kadang sesekali mengangguk atau menggeleng seperti orang bisu.

__ADS_1


Di tengah-tengah perbicangan, Marco mengisyaratkan Rymi untuk membawa Yaren keluar, mereka akan membahas suatu hal dan Marco tidak bisa terlalu terbuka pada Yaren.


Rymi mengerti, mereka memang sudah merencanakan itu, "Yaren, apa kau mau ikut denganku?" tanyanya.


"Kemana?" tanya Yaren.


"Aku ingin mencari sesuatu di supermarket, apa kau tidak keberatan jika menemaniku?"


"Aku? Kenapa harus keberatan? Ayaz, apa boleh aku ikut dengan Rymi?" tanyanya pada Ayaz.


Ayaz mengangguk, "Pergilah!" kemudian Ayaz mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, sebuah kartu berwarna hitam yang akan ia berikan pada Yaren. "Belilah, apapun yang kau mau!"


Yaren bergetar melihat kartu itu, dirinya tidak pernah memilikinya meski keluarganya mampu, Raisa selalu menjadi yang terdepan dan pertama.


"Emmhh," Yaren tampak ragu.


"Ambillah, jika kau ingin sesuatu dan tidak bisa membayarnya maka dia akan membayarkanmu, dan aku akan berhutang padanya, aku tidak mau!" ucap Ayaz menyindir Rymi.


Rymi mengerucutkan bibirnya, "Tidak tau malu!" ucapnya pelan, namun masih bisa di dengar Ayaz.


"Dia itu rentenir!" lanjut Ayaz, "Jadi ambillah!"


"Hei sialan!" Rymi tersinggung, memangnya sejak kapan ia menjadi rentenir, yah meskipun ia memang pernah beberapa kali bercanda menagih hutang-hutang Ayaz padanya, tapi ia benar-benar tidak pernah serius.


"Apa?" tantang Ayaz.


"Jangan dengarkan dia Yaren, dia itu tidak tau terimakasih, dasar!" geram Rymi.


"Ambil saja Yaren, kalau aku jadi kamu, aku akan dengan senang hati menerima sanjungan itu, anggap saja tunjangan buat istri!" kali ini Marco, ia melihat keraguan Yaren jadi ia ingin meyakinkan dengan sedikit mengompori.


"Iya..." Akhirnya, Yaren menerima kartu itu, "Sebentar Rymi, aku akan ambil tas dulu!" ucap Yaren.


Rymi mengangguk, ia tidak ada masalah dengan Yaren.


Setelah kepergian Yaren ke kamar, Rymi dengan sigap kakinya menendang tulang kering Ayaz, "Dugg!"

__ADS_1


"Awwhh!"


"Enak?" ledek Rymi.


"Sakit, dasar gila!" ucap Ayaz dengan sedikit rintihan.


"Makanya jangan suka sembarangan ngatain orang!" ucap Rymi.


"Aku kan bicara sebenarnya!" sahut Ayaz.


"Kalau gitu ayo, sini bayar semuanya!" tantang Rymi, "Heran sama ini manusia, dia yang ngutang dia juga yang nggak tau diri!" kesalnya.


"Emang..."


"Sudah, sudah... Malu, kalian itu sudah resmi jadi saudara malah semakin giat berantemnya, bukannya tambah akur!" lerai Marco. Ia semakin heran melihat kelakuan kedua anaknya itu, yang semakin hari semakin sulit diatur. Perasaan pas menjadi anak didikannya, hanya Rymi yang memang agak sedikit gila, tapi mengapa sepertinya Ayaz menjadi ketularan.


Lalu keduanya saling mendelik tajam, Rymi jelas saja melayangkan aura permusuhan, betapa malunya ia di hadapan Yaren tadi, hilang sudah citranya sebagai wanita yang baik hati gara-gara Ayaz.


Yaren sudah kembali, ia melihat semua orang saling diam, tentu saja ia kebingungan.


"Ada apa?" tanyanya.


Ayaz maupun Rymi tidak menjawab, namun tidak lagi melayangkan tatapan permusuhan, keduanya sama-sama ingin menjaga citra mereka masing-masing di hadapan Yaren.


"Tidak ada apa-apa, kalau ingin pergi pulanglah sebelum jam dua belas, Rym... Jaga Yaren!" ucap Marco, pria paruh baya itu benar-benar bisa membaca situasi.


"Ok Dad!" sahut Rymi.


Lalu Rymi dan Yaren berpamitan pergi ke luar, hari sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, masih ada waktu beberapa jam pikir Rymi, setidaknya dengan waktu sesingkat itu Jovan, Ayaz dan Marco bisa mencari jalan keluar untuk masalah mereka dengan aman. Kasus Ali Yarkan, harus segera menemui penyelesaian, sampai kini sudah semakin banyak orang terlibat, hal itu tidak bisa di biarkan begitu saja.


Ayaz dan Jovan saling pandang, mereka sudah duduk kembali di sofa, mulai akan membahas bagaimana kelanjutan kasus Ali Yarkan yang terakhir kalinya mereka bisa meloloskan diri. Namun, jangan dulu bernapas lega, itu tidak semudah yang mereka bayangkan.


"Aku dengar dari Rym, Amla mulai membantu keluarga Ali Yarkan? Ayaz, kali ini kau benar-benar terancam!" ucap Marco, membuka rapat mereka.


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2