Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ah Samudra, kau membuatku gila!


__ADS_3

"Aku harus memastikan, siapa, siapa pengawal itu? Seharusnya ia ikut mati dengan Dale, jika pun Erra diselamatkan oleh orang lain, tapi seharusnya pengawal itu pastilah ikut mati." Amla kesal sendiri, ia tidak bisa berpikir, bagaimana bisa keadaan menjadi begitu pelik semacam ini.


"Suaranya, benar, suara dan bentuk tubuhnya yang tidak begitu berisi, aku harus menemukannya."


Amla keluar dari ruang kerjanya, ia berteriak dengan tidak sabar, "Hei kau!" serunya pada salah satu orang kepercayaannya yang menunggu di luar.


Orang kepercayaannya yang dipanggil itu pun segera datang, dengan wajah yang siap sedia melakukan apa saja yang Amla perintahkan.


"Ya Nyonya!" sahutnya saat sudah menghadap.


"Aku ingin kau mengumpulkan semua pengawal, penjaga juga, aku akan mencari tahu sendiri apakah ada pengawal yang sedang kucari!" perintah Amla.


"Baik Nyonya."


Gegas orang kepercayaannya itu menekan bel untuk membuat semua orang di kediaman Sian itu berkumpul layaknya sedang apel sekolahan.


Lalu, ia memberitahukan menggunakan microphone bahwa hanya pengawal saja yang diperintahkan untuk apel.


Semua pengawal langsung saja menuju aula terbuka di kediaman Sian. Mereka bertanya-tanya untuk apa lagi mereka dikumpulkan, bukannya belum sampai satu jam mereka baru saja dibubarkan.


Amla turun saat semua pengawal sudah berkumpul, ia lalu semakin mendekat pada barisan rapi para pengawal di rumahnya. Suara dari pengawal yang dicarinya masih bisa dirinya kenali jika ia memeriksanya dengan teliti, dan juga postur tubuh pengawal itu yang tidak terlalu berisi, bukankah seharusnya ia bisa dengan mudah mengenalinya.


"Kau! Coba bicara!" titahnya pada satu pengawal di barisan paling depan pojok kanan.


Pengawal itu sedikit kebingungan, bicara? Harus bicara apa dirinya?


"Bicara apa saja, aku ingin mendengar suaramu!" lanjut Amla.


"Baik Nyonya!" ucap pengawal itu.


Mendengar itu, Amla langsung saja menarik kesimpulan, bukan ini pengawal yang dirinya cari.


"Dan Kau!" beralih ke pengawal lainnya di samping.


"Baik Nyonya!"


Bukan juga, Amla menghela napasnya, pengawal yang sudah berkumpul mungkin berkisar sekitar tujuh puluh orang, hari sudah beranjak sore namun matahari masih saja setia menyengat bumi. Amla tidak terbiasa dengan kondisi ini.


"Kau lagi!" ucapnya beralih lagi.


"Ya Nyonya!" ucap pengawal tegas.


"Bukan juga!" gumam Amla.


"Kau!"


"Ya Nyonya!"

__ADS_1


"Kau!


"Ya Nyonya!"


"Kau!"


"Ya Nyonya!"


Amla merasa putus asa, sialnya juga malam itu ia seolah tidak peduli pada siapa dirinya berbicara, dan sialnya karena malam itu saat ia menyerahkan Erra, kejadian itu berlangsung di aula ini, jadi cctv yang berada paling dekat pun tidak ada yang menjangkau aula sebesar itu.


"Kau!"


"Ya Nyonya!"


...***...


"Apa kau mau ikut denganku?" tanya Ayaz, saat ini ia dan Yaren baru saja ingin keluar dari lahan kebun agroponik Marco yang berada di taman belakang.


"Ke mana?" tanya Yaren, ia sudah sedikit bisa melupakan dugaannya tadi, mungkin Ayaz memang tidak mendengarnya, pikir Yaren.


"Ke mana saja, aku hanya ingin keluar rumah." ucap Ayaz.


"Hemmm, benarkah, apa aku bisa menyarankan suatu tempat?" tanya Yaren.


"Ada apa? Apa ada suatu tempat yang ingin kau kunjugi?"


"Ya, apa kau mau menemaniku?"


"Katakan, di mana tempat itu?"


"Panti asuhan Muara Kasih!" jawab Yaren.


"Panti Asuhan?" heran Ayaz, mengapa ke panti asuhan, apa Yaren pernah tinggal di panti asuhan, pikir Ayaz.


"Ya, Panti Asuhan!" Yaren mengulang jawabannya lagi dengan senyum merekah, "Ayaz, apa kau punya uang?" tanya Yaren, meski dirinya tau kalau suaminya itu tidak mungkin tidak punya uang, Sona Blue Hotel saja adalah milik suaminya, jadi mana mungkin Ayaz adalah pemuda yang kere.


"Untuk?"


"Iihh, masa tidak mengerti, jika kita akan mengunjungi panti asuhan atau tempat semacam itu, yah jelas saja harus membawa beberapa bingkisan, anggap saja sebagai hadiah untuk anak-anak di sana, dan juga kita kan memang harus berbagi!" jelas Yaren.


"Memangnya kau pernah ke sana?" tanya Ayaz menyelidik.


"Sering, Cemir itu sebelum dia tau kalau dia adalah adiknya Kak Jovan kan, dia juga anak panti itu!" jelas Yaren lagi.


"Aaaa, begitu ya!" Ayaz tampak berpikir, sepertinya ia mengingat sesuatu, "Cemir, hemmm... Aku ingat, bukankah dia juga adalah temanmu yang kau ceritakan..." Ayaz tersadar, ia tidak jadi melanjutkan ceritanya.


"Ya, tapi akhirnya dia menemukan keluarganya." sambung Yaren langsung. Ayaz kira Yaren akan bersedih mendengar pertanyaannya yang takut menyinggung itu. Namun syukurlah tidak terjadi apapun, Ayaz takut sekali melukai hati Yaren, meski dengan embel-embel ketidaksengajaan.

__ADS_1


"Jadi, apa kau punya uang?" tanya Yaren lagi.


"Hei, memangnya kau kira aku ini miskin?" sahut Ayaz, ia sedikit memberengut kesal menyempurnakan akting tidak terimanya.


"Ayaz, bukan begitu..."


"Sudahlah Yaren, aku hanya bercanda, ayo... Kita membeli apa saja, kau yang memilih, hari ini adalah harimu!"


"Lagi pula, kau juga susah kuberikan kartu tanpa batas itu kan, apa kau tidak senang menggunakannya?"


"Ayaz, kau ini!" Yaren mencubit gemas perut Ayaz, namun yang dicubit bukannya kesakitan malah geli yang ia rasakan.


"Hahahaha..."


...***...


Sam sudah sampai di markas Marco, markas itu tampak sepi, namun masih dijaga ketat oleh orang yang memang penjaga markas itu.


"Apa Nona Rymi pernah ke sini baru-baru ini?" tanya Sam pada penjaga itu.


"Tidak!" sahut penjaga itu, "Apa Tuan ingin melihat orang tua Tuan, Nona Rymi mengatakan Tuan boleh masuk jika memang ingin berkunjung?" lanjutnya.


"Aku akan menghubunginya." sahut Sam.


Lalu, ia dengan cepat menghubungi Rymi, mengajak wanita itu untuk segera bertemu.


Sedang di seberang sana,


Setelah sekian purnama, akhirnya Rymi bisa melihat lagi nama yang menghubunginya kali ini di ponselnya. Sungguh demi apapun, tanpa Rymi sadari sebenarnya ia mulai merindukan Sam.


Rymi ingin mengangkatnya langsung, namun gerakan tangannya itu terhenti kala gengsi mulai menghasutnya.


"Apa aku tidak terlalu buru-buru?" gumam Rymi bertanya pada dirinya sendiri.


Rymi membiarkan panggilan itu, sembari matanya terus saja menatap latar di ponselnya. Namanya masih sama, 'Rangga Donulai' karena ia mengenal Sam dengan nama itu pertama kalinya.


Sudah panggilan ke dua, namun Rymi belum ada niatan untuk menjawab panggilan telepon dari Sam.


Jurus tarik ulur ini, sepertinya menyenangkan juga. Sedikit bermain-main rasanya tidak apa kan.


"Benar, selama dia di Itali tak sekalipun pernah menelponku, awas saja kau, akan aku buat kau terus saja mencariku!" Rymi bergumam lagi, ia berbicara sendirian, sembari bibir mungilnya mulai membentuk bulan sabit, percayalah ada sesuatu yang rasanya ingin meledak di dadanya. Mepetup-letup dan sepertinya sulit sekali mengkondisikannya.


"Ah Samudra, kau membuatku gila!"


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...

__ADS_1


__ADS_2