
Dua puluh delapan tahun silam,
Aku mengaguminya, dia seseorang yang dengan beraninya mengibarkan bendera perang antara hati dan pemikiranku.
Setiap kali aku tidak ingin melihatnya, namun setiap kali itu juga aku semakin ingin menemuinya.
Saat aku menghindar, tak jarang setelahnya aku bahkan mencari-cari cara untuk mendapatkan perhatiannya.
Aku, tidak pernah segila ini saat menyukai seseorang.
Wanita itu, penuh kelembutan, rumahnya di ujung sana, aku memanggilnya tuan putri waktu itu.
Tapi, tentu saja panggilan itu hanya berani aku ucapkan dalam hatiku, untuk menyapanya saja aku tidak berani.
Dia menggemaskan, seperti apel merah entah mengapa wajahnya selalu saja menarik perhatianku.
Matanya bulat, parasnya sampai kini begitu sulit aku lupakan. Dan setiap kali aku mengingatnya, meski ada kebencian, tak jarang pula aku tersenyum sendiri memikirkan bagaimana menggemaskannya dia.
Hari itu, aku berhasil berkenalan dengannya, ah tidak tidak, lebih tepatnya dia duluan yang menyapa, mengajakku berkenalan, menanyakan siapa namaku. Dia mengatakan ingin menjadi temanku? Gila, memangnya dia siapa?
Jangan salah paham, maksudku... Memangnya dia siapa, mau berteman dengan orang yang tidak berpunya sepertiku? Rasanya aneh saja, harusnya aku senang kan bisa berteman dengan orang kaya, namun bagiku tidak... Hari-hari setelahnya harus aku lalui dengan siksaan.
Bukan siksa fisik, melainkan hati... Yah, karena apa? Aku yang seorang preman ini rasanya sangat menyedihkan dengan gilanya berharap dia menjadi kekasihku. Telah lancang, beraninya menyukai seorang putri. Kami, bukankah aku dan dia sungguh bagaikan langit dan bumi.
Aku terus saja berusaha menahan perasaanku, meski aku ingin sekali memeluknya saat dia tepat berada di sampingku. Saat itu, dia selalu bercerita, bahwa dia menyukai seseorang dan berharap banyak dengan pria itu. Sungguh gila, dengan tidak tau malunya aku bahkan cemburu.
Rasa apa ini, tolong jangan biarkan ini semakin berlarut, kami berbeda, dan aku sadar dia tidak akan bisa ku gapai.
Kuputuskan untuk menahannya lagi, aku mencoba untuk menjadi pendengar yang setia, meski rasanya sakit bagai dadaku teriris dengan sengaja.
"Apa kau menyukai seseorang?" tanya Nindi.
"Hah?"
Marco menatap kakinya yang menjuntai, tidak berani mendongak menatap lawan bicaranya.
Hari itu tidak biasa, Nindi tampak berantakan, penampilannya tidak menggambarkan kalau dia adalah putri dari pengusaha ternama negeri ini.
__ADS_1
"Iya? Aku sudah mengatakan kalau aku sedang menyukai seseorang, kalau kamu? Apa ada wanita yang kau sukai?" tanya Nindi lagi, memperjelas maksud perkataannya.
"Tidak ada?" jawab Marco cepat. Tidak mau terlihat lebih menyedihkan lagi di hadapan Nindi.
"Hemm, begitu ya? Sepertinya sulit juga mendekatinya?" kata Nindi, ia turun dari drum tempat dirinya duduk, merentangkan tangannya seolah hal itu cukup bekerja untuk menghilangkan penat.
"Aku bahkan, rela menjadi lain dari diriku hanya untuk menarik perhatiannya." keluh Nindi.
"Kalau dia menyukaimu, mengapa kau harus menjadi lain dari dirimu? Aku rasa dia yang mencintai dengan tulus akan bisa menerima bagaimanapun dirimu."
Dan lagi pula, kau sudah melebihi sempurna, apa iya ada orang yang tidak menyukaimu.
"Ah begitukah?" Nindi menatap Marco, mencari keseriusan di wajah itu.
Sementara Marco, spontan saja dirinya menjadi salah tingkah karena tatapan mata Nindi.
"Iii iyaa." gagap Marco.
Nindi tersenyum manis, "Aku ingin membuat dia jatuh cinta padaku? Apa kau bisa membantu?" tanya Nindi.
Aku, kenapa harus aku, hei wanita... Kau sudah gila, mendengarnya saja sudah amat menyiksa.
"Karena kau adalah orang yang paling tepat untuk membantuku!" jawab Nindi.
"Apa kau tidak mau?" tatapan yang bagai anak kucing, namun Marco tau, kata-kata itu bagai sebuah ancaman siap terjang.
Dengan terpaksa Marco mengangguk dan berkata, "Tidak banyak yang bisa aku lakukan, tapi akan aku coba."
"Aahh, benarkan! Kau memang orang yang tepat."
Saat itu, dia tampak begitu girang mendengar aku yang setuju untuk membantunya, tanpa diriku tau itu adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan di seumur hidupku, sebab itu juga aku dan dia harus berpisah, dan lebih sakitnya aku harus menerima kenyataan bahwa lagi-lagi status sosial kami sungguh adalah masalah yang amat berat. Kemudian, aku dipaksa harus sadar diri dan dengan berat hati merelakan.
Hari itu, aku mulai membantunya, dia bertanya apa yang pria sukai, dia tidak memberikan clue tentang sifat ataupun fisik dari orang yang disukainya, Nindi selalu saja bilang apapun yang diriku rasakan mengenai seorang wanita, aku harus mengatakannya.
Aku harus tertarik dengan wanita seperti apa, apa yang tidak kusukai mengenai wanita, bagaimana mengambil sikap, kencan yang terbaik seperti apa, dan lagi dia menanyakan bagaimana jika wanita yang menyatakan cinta terlebih dahulu, bagaimana tanggapanku.
"Sebenarnya siapa? Apa aku mengenalnya? Dia pasti dari keluarga kaya, kau tidak bisa seolah berandai denganku, aku dan pria yang kau sukai itu sudah jelas berbeda." ucapku, sembari menahan kesal, tapi jelas saja tidak bisa aku tunjukkan pada tuan putri di hadapanku ini.
__ADS_1
"Eemm, dia biasa saja, tidak kaya, tapi hidupnya berkecukupan, kau tau... Aku benar-benar menyukainya." Nindi tersenyum dengan semangat. Kiranya, saat itu sudah satu minggu aku membantunya. Lebih tepatnya bukan bantuan, mungkin semacam rasa tidak ikhlas namun harus dilakukan.
"Sudahlah, siapa memangnya yang tidak menyukaimu?" dengusku.
"Tapi, dia bilang tidak... Eh, dia belum menolakku sih, tapi aku pernah bertanya padanya."
"Tanya apa?"
"Tentang wanita yang disukainya, dia bilang tidak ada."
"Hemm, apa kalian dekat?"
"Aku rasa cukup dekat, tidak, aku salah... Sangat dekat."
"Apa itu teman masa kecilmu?"
"Bukan!"
"Siapa?"
"Emmm... Kalau aku bilang, aku takut dia tau bagaimana perasaanku, dan dia menjauh." Nindi tampak murung, aku tidak sanggup melihatnya, jangan ada yang berani membuat Nindiku sedih. Sekalipun itu aku, aku sungguh tidak menyukainya.
"Tidak apa, hanya denganku, aku bisa jaga rahasia. Tapi kalau kau tidak mau bilang, aku tidak akan memaksa."
"Belum saatnya, kalau sudah saatnya nanti kamu pasti tau." kata Nindi.
"Hemm, sebegitu spesialnya." rasa iri menyeruak di hati, bagaimanapun membicarakan orang lain yang disukai orang yang kita sukai, heh cinta segitiga ini rasanya begitu pahit.
"Tapi, aku tidak yakin dia menyukai hal yang sama denganku, maafkan aku jika ini tidak berhasil."
"Kau sudah bekerja keras, aku juga akan bekerja keras untuk hal ini, semoga dia benar-benar menyukaiku." ucap Nindi dengan semangat.
Miris sekali, saat itu, aku hanya bisa menatap senyumnya, dan saat itu juga aku merasa, dekat bukan berarti sudah mengetahui banyak, karena aku sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaan Nindi saat itu. Entah aku yang terlalu bodoh, atau karena kenyataannya kami berbeda.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1