
Ayaz masih menggerutu, pria yang tadi menantangnya memiliki wajah yang menyebalkan, ia tidak habis pikir hanya karena sebuah makanan dengan gilanya pria itu memakinya, mengatakan kalau ia adalah orang kaya sombong yang tidak tahu diri.
Ingin sekali rasanya Ayaz menghajar wajah pria itu hingga babak belur, ia sungguh muak menjadi penyabar.
Tidak! Citranya sedang buruk untuk saat ini, dan untuk itu juga dirinya tidak boleh membuat kesalahan.
Ayaz akhirnya memutuskan mengalah, ia meletakkan sejumlah uang yang ia rasa cukup untuk mengganti kerugian dan kemudian berlalu pergi.
Hari ini, anggap saja adalah hari keberuntungan bagi pria itu, karena jika terkena hari biasanya Ayaz tidak akan membiarkan orang yang dengan beraninya membuat masalah dengannya bisa hidup tenang, apa lagi sampai dirinya yang mengalah seperti ini.
Yah anggap saja pria itu sedang beruntung dan dirinya sedang sial.
Ayaz terus berjalan, ia melewati rumah sakit mewah, tidak sedikitpun niatnya untuk mencari tempat tinggal, Ayaz masih berharap Yaren akan menghubunginya dan kemudian mengatakan Jovan sudah baik-baik saja, hingga ia bisa dengan hati lapang menerima dirinya kembali.
Bagi Ayaz, Jovan adalah satu-satunya keluarga Yaren, entah mengapa Ayaz lebih percaya dengan Jovan di bandingkan dengan Argantara.
"Kau dengar kasus Ali Yarkan? Akhirnya masalah terpecahkan, setelah empat bulan lamanya, tidak disangka menuduh orang lain yang membunuh anaknya, tapi nyatanya dia sendiri yang berbuat."
"Itu adalah hal yang paling menjijikan, sumpah demi apapun di dunia ini aku masih belum percaya bahwa ada seorang Ayah seperti dia."
"Aku juga."
"Tapi, bagaimana bukti itu bisa ditemukan, ini benar-benar hebat, pihak kepolisian benar-benar hebat dalam menangani kasus ini."
"Yah, sedalam-dalamnya dia menyembunyikan bangkai, tentu pada akhirnya akan tercium juga, mungkin waktu kemarin dia masih bisa menyembunyikan bukti kuat itu, tapi akhirnya, kita sudah melihatnya kan!"
"Aahhh, aku lega sekali, akhirnya Ali bisa istirahat dengan tenang."
__ADS_1
"Yah kau benar, selama ini kematiannya selalu begitu banyak yang meributkan, dia pastinya sudah berbahagia pembunuh sebenarnya sudah ditemukan."
"Apa iya ada anak yang berbahagia melihat Ayahnya yang jahat seperti itu, aku yakin sekali meski Ali sudah di surga ia juga tidak sudi punya Ayah seperti Joshe Yarkan."
"Hemmm, benar juga!"
Begitu banyak pembicaraan mengenai kasus Ali Yarkan yang sampai di telinganya sedari tadi, mendengar itu Ayaz malah menjadi tidak yakin bahwa Jovan akan dengan mudah memaafkannya.
...***...
"Merve... Ah maksudku Rymi, aku tidak pernah menyangka akan melakukan hal seperti ini, serius kau... Kau..." Sam mengatakan itu sembari tubuh dan mulutnya sangat bergetar, ia ketakutan.
Baru saja ia melihat pria sopir kepercayaan Amla semalam sudah menjadi mayat, namun kali ini pria itu bersama mobil itu dijatuhkan ke sebuah jurang. Marco dan Rymi memang benar-benar membuat semuanya itu bak kecelakaan berkendara.
"Sudahlah! Jika kau banyak bicara, atau kebodohanmu ini tidak bisa kau jaga baik-baik, kalau sampai peristiwa ini bocor, maka aku tidak akan memaafkanmu!" ancam Rymi.
Sam menggeleng, tidak... Seumur hidup, ini kali pertamanya ia melakukan hal kriminal.
Rymi mendekat, ia tersenyum smirk lalu mensejajarkan posisinya dengan Sam. "Diamlah! Ini akan menjadi rahasia antara kau dan aku!" bisik Rymi pada telinga Sam, dan lalu dengan gilanya wanita itu mengecup singkat telinga Sam yang sudah memerah.
...***...
Sore ini, Wana sangat sibuk sekali, mendandani Raisa bak seorang ratu, hari ini adalah pertemuan keluarganya dengan keluarga Tuan Harun, tentulah mereka harus memiliki kesan baik dalam penyambutan ini.
Ia juga turun tangan dalam memilih menu untuk jamuan makan malamnya, Argantara akan pulang sebentar lagi, pria paruh baya itu juga tidak kalah puasnya.
"Ma... Aku mohon, ini aku benar-benar kayak di jual!" keluh Raisa, ia memohon lagi, barang kali Mamanya akan berubah pikiran dan sedikit memikirkan perasaannya.
__ADS_1
"Raisa!" pekik Wana, matanya melotot menatap garang putrinya yang mulai ia anggap tidak berguna itu, "Nurut aja apa susahnya sih!" ucapnya garang.
"Ma..." Raisa sungguh kesal. Saat seperti ini, hatinya bahkan tidak ada yang memikirkannya.
"Ma, aku akan berusaha deketin Jovan lagi, aku mohon biarkan anak ini lahir dan setelahnya terserah mau diapakan, aku akan deketin Jovan dan merebut kembali hati Jovan, tapi please! Jangan jodohin aku kek gini!" rengek Raisa lagi.
"Raisa, kayaknya kamu kelewat pede deh, memangnya kamu pikir kamu siapa? Sekarang Mama tanya, kenapa kamu bisa putus sama itu pengusaha kaya raya? Kamu pikir dengan kondisi kamu yang udah..." Wana menggantungkan ucapannya, tiba-tiba saja tersadar bahwa ucapannya mungkin akan menyakiti hati Raisa.
"Udah apa?" tantang Raisa.
Wana sedikit merasa tidak nyaman, meski bagaimanapun, meski Raisa hanya dijadikannya sebagai alat untuknya menikmati hidup mewah, tapi jika ia menyinggung hati Raisa terlalu berlebihan, ia juga sedikit banyaknya takut kalau Raisa akan berbuat nekat. Ia takut Raisa akan merusak acara makan malam mereka nanti.
"Ehmm, Raisa... Sebaiknya kamu temui saja keluarga Tuan Harun dengan tenang, dan bersikaplah anggun dan sopan." ucap Wana.
"Aku nggak mau Ma!" tolak Raisa.
"Raisa!" pekik Wana lagi, "Mama tidak mau tau yaaa! Mama bukannya mau keras sama kamu, tapi kamu tau sendiri kan kalau Papa kamu udah bilang 'Iya'! Kamu sadar nggak apa yang udah terjadi sama Yaren, bahkan anak itu nggak berani lagi balik ke rumah ini setelah di usir, jadi jangan coba-ciba melawan Papa kamu!" ucap Wana memberi pengertian, namun lebih tepatnya seperti pemaksaan.
Raisa membuang muka, iya dirinya juga ingat dengan Yaren, kakak tirinya itu memang benar tidak pernah lagi terlihat batang hidungnya setelah diusir dari rumah, apa nasibnya akan seperti itu juga jika ia melawan kehendak Papanya.
Wana menepuk pundaknya perlahan dan berucap, "Lupakan semua tentang Jovan, setelah ini percayalah! Kau hanya perlu menjalani hidup penuh kemewahan saat menjadi istri dari seorang Harun Aji Suryono!" bujuk Wana sebelum ia meninggalkan putrinya itu sendirian di kamar.
Raisa menegang, rasanya ia tidak percaya apa yang pernah terjadi pada Yaren waktu itu, kini secepat itu terjadi juga padanya. Bedanya Yaren berhasil meloloskan diri, dan sekarang dirinya... Entahlah, siapa yang akan menjadi pahlawan kesiangan yang rela menyelamatkan dirinya seperti pria yang menyelamatkan Yaren waktu itu. Adakah?
Bulir air mata itu akhirnya jatuh juga, membasahi riasannya, Raisa tidak peduli baginya pernikahan ini bukanlah kehendaknya. Ia tidak pernah bermimpi akan menjadi seorang istri dari seorang yang sudah tua, meski kaya raya namun dirinya tetap saja rasanya tidak akan sudi.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...