
"Berani kau menunjukkan wajahmu?" mata itu menatap nyalang seseorang, sayang sekali dirinya harus berurusan dengan orang yang seharusnya ia hindari.
"Ayaz! Bagaimanapun dia adalah adikku."
"Heh!" sudut bibir itu tertarik, "Kau berkata ingin melindunginya bukan?"
"Yah, tapi bukankah benar, bagaimanapun kebenarannya, kau bisa berharap lebih padaku."
"Kau pikir aku tidak cukup kuat untuk melindunginya?"
"Setidaknya, semoga hal buruk tidak terjadi."
"Kau!" Ayaz menggeram, kelemahannya hanya satu, hanya masalah waktu. Mungkin dia punya kekuatan, namun entah nanti dia punya cukup waktu atau tidak.
"Aku yakin, Argantara bukan masalah lagi baginya, tapi jika kau sampai tertangkap, Yaren tidak akan bisa menerima dengan mudah."
"Heh, kau tau apa? Bahkan adikmu itu tidak mencintaiku?" keluh Ayaz, matanya menatap jurang di bawah sana, sengaja bertemu dengan salah satu keluarga Yaren di tempat seperti itu, memudahkannya untuk melenyapkan pria tidak tau diri itu jika saja berani berbuat masalah.
"Bagaimana perkembangan Argantara?" tanya Ayaz lagi.
"Kau maunya seperti apa? Kehancuran?"
"Katakan saja."
"Dia masih menanyai siapa ayah dari bayi yang dikandung Raisa, aku juga sudah menemukan ayah kandung Raisa, kau mau melakukan sesuatu?"
"Tahan saja dia! Akan kita keluarkan saat waktunya sudah tiba."
"Kita? Bukankah itu artinya?"
"Aku menyuruhmu bekerja sialan, jangan terlalu banyak berharap, dasar baperan!"
Seseorang itu mendengus kesal, padahal dirinya cukup kaya jika dibandingkan dengan Ayaz, dan juga dia adalah kakak ipar bagi pria menyebalkan itu, tapi Ayaz sama sekali tidak menghormatinya, kalau saja bukan karena Yaren, mungkin dia tidak akan menahan semua ini.
"Kemarin malam, temanmu mengundang Sian, mereka lebih dulu bertindak sepertinya."
"Ya, aku juga tau mengenai hal itu."
"Lalu?"
__ADS_1
"Biarkan saja, aku masih menunggu perintah Marco, Rymi mengabarkan dia baru saja keluar dari rumah sakit, apa aku harus tega saja mendesaknya?"
"Kau percaya dengan Marco?"
"Mau bagaimana lagi, dia satu-satunya orang yang kutemukan saat aku begitu terpuruk, anggap saja budi dibalas budi."
"Oh, dramatis sekali kehidupan Tuan Ayaz ini" ejek seseorang itu.
"Jika Yaren mengetahui dia punya saudara se-Ibu, kau juga pasti akan mengalami hal yang tak kalah dramatis juga dalam hidupmu." ucap Ayaz.
"Yah, aku siap menjelaskannya, dengan tangis haru, aku yakin Yaren akan mengerti dan mau menerima kami."
"Semoga saja."
"Sian?" tanya pria itu lagi.
"Kau selidiki lagi dia, aku juga harus mengumpulkan bukti kejahatannya, nyawa harus dibayar dengan nyawa." Ayaz menggeram, tangannya mengepal, saat matanya terpejam bayangan Sian yang menyiksanya langsung saja muncul bagai reka adegan di sebuah film.
...***...
"Apa maksudnya Merve?" Sam benar-benar tidak mengerti, mengapa secepat ini pujaan hatinya pergi, bahkan kisahnya saja belum dimulai.
"Sepertinya aku benar-benar harus memberitahukan perihal kejadian malam kemarin." ancam Sam.
Rymi menggelengkan kepalanya pelan, menatap Sam dengan nyalang dan berkata, "Bapak pikir saya bodoh, Bapak tidak akan bisa membodohi saya hanya dengan masalah itu, sebaiknya Bapak lupakan saja jika Bapak tidak mau menanggung akibatnya." sinis Rymi.
"Hei! Apa aku baru saja diancam?" tanya Sam, tak kalah menatap Rymi dengan remehnya.
"Saya bukanlah orang yang mudah untuk ditindak, jika anda benar-benar melakukannya, jangan salahkan saya jika Bapak harus menerima kenyataan bahwa saya bukanlah orang baik." tegas Rymi kemudian berlalu pergi.
"Merve!" seru Sam lagi, Rymi berhenti, menunggu apa lagi yang akan dikatakannya.
"Kau benar-benar tidak peduli jika aku mengatakannya." tanya Sam, syarat akan ancaman.
"Mau bagaimana lagi? Bapak punya mulut yang hanya bisa dijaga oleh Bapak sendiri, saya tidak bisa menahannya, jika menurut Bapak perlu untuk melakukan hal menjijikan seperti itu, saya tidak akan mencegah, lakukan saja!"
"Kau!"
"Kalau perlu, jika Bapak tidak punya malu, Bapak juga bisa menuliskan beberapa artikel tentang Presdir DN Company yang kemarin malam telah diperjakai oleh saya, bukankah itu adalah hal yang sangat hebat, berita itu pasti akan menjadi trending topik yang tidak akan ada habisnya, dan kira-kira... Menurut Bapak, siapa yang akan paling dirugikan di sini?"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Rymi benar-benar pergi, meninggalkan Sam dengan wajah masamnya, wajah Sam memerah, sejurus karena malu, dan juga marah.
"Sial!" umpat Sam.
...***...
"Apa Ayaz ada di rumah?" tanya Marco, setelah dari mengunjungi Rymi, pria paruh baya itu langsung saja menemui Ayaz. Matahari sudah hampir tepat berada di atas kepalanya, Marco menebak biasanya Ayaz pasti akan makan siang di rumah.
"Ayaz? Dia belum kembali?" jawab Yaren. Awalnya, wanita itu tidak mau membukakan pintu, namun setelah dilihat, dia seperti pernah mengenal pria yang kini berada di hadapannya ini, jadi Yaren penasaran ada apa.
Marco berpikir sejenak, lalu berkata, "Apa aku boleh menunggunya, duduk di sini?" tanya Marco. Menunjuk sebuah kursi yang berada di teras rumah.
"Ah, silakan Tuan." ucap Yaren, pria paruh baya ini tampak sopan, dan menurut Yaren tidak ada yang perlu ditakutkan.
Yaren berbalik masuk ke dalam rumah, membuatkan minum dan membawa sedikit camilan untuk menemani Marco menunggui Ayaz.
Ayaz baru saja sampai dari menemui seseorang yang dipercayainya sebagai mata-mata, ketika hendak memarkirkan motornya ia melihat Marco sudah duduk santai di teras rumahnya.
Ayaz membuka helmnya, mengkerutkan kening melihat ekspresi wajah Marco yang baginya tidak biasa.
"Ada apa?" tanya Ayaz.
Marco sedikit gugup, namun ia mencoba menetralkan perasaan canggungnya, berusaha bersikap biasa saja di hadapan seseorang yang entah mengapa ia yakini sebagai putranya.
Mengapa aku baru menyadari, saat kita berhadapan seperti ini, bahkan ternyata kau adalah gambaran diriku. Wajah itu, tubuh itu, persis seperti saat aku mengencani Ibumu, mengapa, kau begitu mirip denganku, membuat aku yakin bahwa kita memang terikat, kau... Apa benar kau anakku! Hadiah dari Nindiku!
"Ada apa?" tanya Ayaz sekali lagi membuyarkan lamunan Marco.
"Tidak, aku ke sini hanya membicarakan masalah pekerjaan." jawab Marco dusta.
"Wah wah wah, Tuan Marco Arash, apa benar yang baru saja aku dengar?" tanya Ayaz tidak percaya. Seorang Marco Arash, mau repot-repot datang menemuinya sejauh ini, apalagi dalam keadaan yang baru saja keluar dari rumah sakit akibat kecelakaan, baru selesai operasi pula. Apa saat kecelakaan kemarin, kepala pria tua ini terbentur kemudian otaknya sedikit tergeser? pikir Ayaz, dia tertawa renyah membayangkan hal itu.
"Apa tidak boleh?" tanya Marco.
"Boleh, memangnya siapa yang berani mencegahnya?" Ayaz tidak bisa lagi menahan tawanya, biarkanlah jika Marco tersinggung, menurutnya itu urusan belakangan.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1