
"Sejak mengetahui darahku langka, aku memang belum pernah melakukan donor darah, tapi entah mengapa hari ini aku merasa begitu berguna." ucap Dennis setelah langkah kakinya memasuki mansion mewah milik Marco, matanya langsung saja mendapati seorang wanita yang berjarak tidak jauh darinya. Marco mengikuti arah pandangnya.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Marco.
"Rasanya dia mirip teman satu angkatanku." jawab Dennis.
"Bukan mirip, tapi memang benar! Dia mungkin satu angkatan denganmu." ucap Marco.
"Benarkah?"
"Dia..."
"Dia menantuku!" jawab Marco langsung.
"Aku mengetahuinya karena gadis itu dulunya terkenal pendiam, tapi meski begitu dia selalu juara umum, kedua hal itu membuat semua siswa di sekolah itu begitu mudah mengenalinya, apa dia Yaren Motan?" tanya Dennis antusias.
"Benarkah? Apa dia sehebat itu?"
"Iya, boleh aku menyapanya?" tanya Dennis lagi.
"Mungkin dia juga akan menyapamu, sebentar..." langkah kaki Marco mulai mendekati Yaren.
Yaren sedikit terkejut kala Marco kini sudah berada di hadapannya, mengingat pertemuannya dengan Marco waktu itu, Marco begitu menakutkan baginya.
"Dia adalah orang yang mendonorkan darahnya untuk Ayaz, kau bisa menyapanya, atau mengatakan terimakasih mungkin!" ucap Marco.
Yaren tercengang, ditatapnya seorang pria itu, wajahnya seperti ia pernah melihatnya, namun Yaren dengan cepat menarik segala pemikirannya, hal itu tidaklah penting untuk dipikirkan sekarang, harusnya ia segera berterimakasih pada pria itu.
"Terimakasih Tuan, anda menyelamatkan suami saya." ucap Yaren. "Saya sangat berterimakasih, sungguh berterimakasih."
"Tidak apa, tidak apa! Aku senang bisa membantu." ucap Dennis canggung. Wanita ini, sebenarnya adalah idolanya dulu saat masih sekolah di SMA Cemerlang, namun karena Yaren yang begitu pendiam dan terkenal introvert, Dennis merasa tidak punya nyali untuk mendekatinya.
Entah siapa yang bernama Ayaz, seorang lelaki yang dianggapnya beruntung itu, bisa mendapatkan gadis secantik dan sepintar Yaren.
"Sekali lagi, terimakasih Tuan, terimakasih!" ucap Yaren, ia sangat bersyukur, bahkan tubuhnya refleks membungkuk untuk menghormati Dennis.
Dennis mengangguk, "Kita pernah bertemu sebelumnya!" ucapnya, selain ingin menunjukkan siapa dirinya, ia juga ingin mengalihkan pembicaraan supaya Yaren tidak terus menerus mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Ya?" bingung Yaren, Yaren meneliti lagi wajah itu, Yaren rasa memang pernah melihatnya, tapi ia benar-benar tidak bisa mengingat di mana ia bertemu pria itu.
"Di sekolah, SMA Cemerlang, aku juga alumni sekolah itu!" ucap Denis, seolah menjawab kebingungan Yaren.
Yaren mengangguk, apa benar begitu? Pikirnya, "Benarkah?" ucapnya tanpa sadar.
Marco melihat reaksi antar keduanya, sepertinya Yaren bukan wanita yang sembarangan bisa bergaul dengan pria, terlihat sekali canggungnya, dan Yaren seperti tidak nyaman berada di posisi itu, meski orang yang mengajaknya bicara adalah orang yang telah menolong suaminya, sepetinya rumor tentang Yaren yang kurangnya pergaulan memang harus dirinya akui.
"Iya, kita bahkan satu angkatan, cuma memang tidak pernah satu kelas." jawab Dennis lagi.
"Emmhh, oohhh!" Yaren mengangguk lagi, hanya ekspresi seadanya yang bisa dirinya layangkan.
"Apa kau masih ingin menemui putraku?" tanya Marco pada Dennis, ingin memutus perbincangan antara Dennis dan Yaren, ia hanya ingin membiarkan Yaren merasa lebih nyaman.
"Ah iya, tentu!" jawab Dennis sedikit tidak rela.
Sementara Yaren, ia cukup terkejut kala Marco berbicara putranya, apa maksudnya adalah Ayaz, apa Marco baru saja mengatakan Ayaz adalah putranya?
"Sampai jumpa lagi Yaren!" ucap Dennis mengakhiri pertemuan mereka.
Yaren mengangguk saja menanggapi ucapan perpisahan itu.
Marco membawa Dennis pergi ke ruang rawat Ayaz, ternyata di sana juga ada Rymi sedang berbincang santai dengan putranya itu, tampak asik terbukti dari gelak tawa kecil Rymi yang sangat menggemaskan.
Dennis saja hampir tidak percaya, wanita ugal-ugalan itu ternyata suara tawanya begitu manis.
"Hai Bung!" sapa Ayaz saat melihat Marco. Tak lupa dia juga tersenyum hangat pada pria di samping Marco. Ayaz bisa langsung menebak, mungkin pria itu adalah pria yang baru saja diceritakan oleh Rymi, yang telah dibawa paksa oleh wanita itu. Ayaz tiba-tiba tergelak kecil membayangkan betapa bar-barnya wanita gila di sampingnya ini.
Marco mengangguk, sementara Rymi tersenyum kecut saat melihat Dennis, sungguh mengganggu suasana saja batinnya.
"Dia yang mendonorkan darahnya!" ucap Marco. Matanya mengisyaratkan pada Dennis.
Ayaz tersenyum hangat, "Aku berhutang padamu! Jika suatu hari nanti kau membutuhkanku, aku bersedia membalas untukmu." ucap Ayaz, baginya darah yang langka tidak seharusnya diberikan pada sembarang orang, jika orang yang ditatapnya ini sudah berani berbagi darah dengannya, maka bagi Ayaz, dirinya wajib membalas budi. Darah dibayar dengan darah misalnya, atau dengan apapun yang setara dengan kehidupan.
"Kau membuatku tersanjung." tanggap Dennis.
"Aku serius!" ucap Ayaz lagi.
__ADS_1
"Aku akan menghargai itu." Dennis tersenyum untuk itu.
"Ku dengar, kau sedikit diberi kejutan oleh adikku?" tanya Ayaz mencoba mencairkan suasana.
Dennis memandang Rymi, entah mengapa rasa kesalnya tiba-tiba saja lenyap begitu saja. "Sedikit? Whoaaa, kau bercanda?" jawab Dennis, reaksinya seperti kecewa.
"Kau!" geram Rymi.
"Aku bahkan menjadi korban penculikan di sini, haruskah aku singgah ke kantor polisi setelah dari sini?" ucap Dennis bercanda.
"Sebelum kau melangkah keluar dari rumah ini, maka selanjutnya akan kupastikan kau menjadi korban pembunuhan!" geram Rymi. Meski benar ia yang menculik pria itu, tapi Rymi enggan mengakui perbuatannya.
"Rym..." Ayaz memegang lengan wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.
"Dia galak sekali!" ejek Dennis. "Aku bahkan tidak yakin dia adalah putrimu Tuan Marco!" lanjut Dennis lagi menatap ke arah Marco dan Rymi bergantian.
Rymi tersinggung, tempramentnya buruk, mengatakan itu sedikit menyakiti hatinya, tidak taukah Dennis kalau ia memang bukan putri kandung Marco.
"Kau..."
"Bukankah dia istimewa, kadang orang tua juga bisa mempelajari apa yang melenceng dari sifat dalam dirinya, dengan begitu tanpa disadari, dia telah mengajariku banyak hal dan aku cukup senang menjadi ayahnya!" jawab Marco sebelum Rymi bisa melanjutkan ucapannya.
Ayaz mengangguk setuju, begitupun Dennis.
"Kau orang tua yang bijak, seharusnya putrimu bisa belajar ini darimu!" sindir Dennis lagi.
Ayaz tergelak, dalam tawanya ia juga tersenyum miris, ada orang yang dengan berani menyinggung adiknya itu, benar-benar mau mati sepertinya.
Bukankah itu lelucon? Apa aku akan dicap sebagai orang yang tidak tau terimakasih jika aku menghabisinya? Aisshh, dia begitu menyebalkan, bagaimana bisa Daddy seperti akrab dengannya, memang mau mati si Dennis ini!
"Ah iya Tuan, mengenai orang tua dan anak, kedua anakmu ini seperti dua orang yang begitu jelas perbedaannya, harus kuakui putramu ini begitu mirip denganmu!" ucap Dennis tanpa ragu.
"Putra..."
Besambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1