Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Tentu saja!


__ADS_3

"Apa mereka tidak akan datang?" tanya Jovan, segala persiapan sudah dirinya lakukan, tapi pihak kepolisian juga belum menghubungi Ayaz untuk memberitahukan jadwal penyidikan.


"Entahlah!" jawab Ayaz santai, namun tidak dengan hatinya, sampai detik ini dirinya juga belum menerima keputusan dari Yaren, tindakan apa yang akan dilayangkan istrinya itu, akan menuruti kemauannya atau Ayaz mulai meragu, mungkinkah Yaren punya pemikiran untuk membeberkan semuanya pada pihak penyidik.


Yaren bahkan enggan tersenyum manis padanya, Yaren yang dilihatnya selalu saja menghindar.


"Kalian belum selesai?" tanya Jovan, seolah mengetahui arah pandang Ayaz. Saat adiknya itu lewat, Ayaz bahkan melirik Yaren diam-diam.


"Entahlah!" jawaban itu terlontar lagi.


"Haaaahhh! Apa sedang memainkan drama, entah siapa di sini yang kekanak-kanakan!" sindir Jovan.


"Kau benar-benar mau mati!"


Ayaz melirik arlojinya, sudah hampir tengah hari, mungkin pihak penyidik memang tidak akan berkunjung hari ini, tapi setidaknya mereka harus menyampaikan jadwal temu kan, jangan tiba-tiba seenaknya datang.


Yaren begitu menikmati masa-masa menginap di rumah saudaranya itu, apa lagi di dekatnya kali ini ada Cemir, sahabat baiknya semasa masih tinggal di rumah utama keluarga Argantara dulu.


"Beberapa hari kemarin aku mengunjungi panti!" ucap Cemir.


"Oh ya, mengapa tidak membawaku pergi, aku juga kan rindu anak-anak!" sahut Yaren sedikit kecewa, mendengar kata panti asuhan, Yaren tiba-tiba saja ingat akan tempat itu, adalah satu-satunya tempat yang selalu dirinya kunjungi saat pikiran dan hatinya sedang tidak baik-baik saja, perkataan Wana dan Raisa yang selalu saja melampau membuatnya kadang acap kali menangis meratapi nasibnya yang kurang beruntung.


"Emmhh, Yaren, kata pengurus panti, Dokter Amri pernah datang mencariku, apa maksudnya?"


"Mencarimu?" tanya heran Yaren, dokter Amri dan Cemir rasanya tidak terlalu dekat, mengapa dokter Amri harus mencarinya.


"Iya! Apa dia mencarimu?" tanya Cemir, ia sedikit curiga, mungkinkah dokter Amri mencarinya hanya untuk menanyakan keberadaan Yaren, karena ia saja cukup terkejut awalnya karena Yaren yang tiba-tiba saja menghilang dan tidak bisa dihubungi.


"Benarkah? Mengapa dokter Amri harus mencariku?" tanya Yaren bergumam.

__ADS_1


Cemir juga tampak berpikir, rasanya alasan yang paling tepat hanya sebagai sikap peduli antar sesama keluarga. Mungkin begitu.


"Aku tidak punya nomor ponselnya!" ucap Yaren lagi.


"Kau kan tau rumahnya Yaren, kau bisa mengunjunginya kali saja ada yang penting." usul Cemir.


Yaren tampak berpikir, benar juga pikirnya, namun apa tidak apa jika ia mengunjungi pria lain, meski masih ada hubungan darah namun dokter Amri kan juga pria lain, termasuk pria yang halal untuk dinikahi, lain halnya Jovan. Apa pria yang memiliki mata elang sedang duduk di sana itu akan mengizinkannya, hemmm membayangkannya saja Yaren sudah bergidik ngeri.


"Kalau untuk itu, entahlah Cemir, aku sudah menikah rasanya tidak baik jika aku mengunjungi rumah pria lain tanpa seizinnya, kalau dia mengizinkan aku juga akan membawanya ke rumah Dokter Amri, sekalian untuk mengenalkan Ayaz padanya, meski begitu kan, dokter Amri adalah satu-satunya keluarga yang selalu peduli terhadapku dulunya." jawab Yaren.


Cemir mengangguk setuju, namun rasanya ia sedikit ganjal, ada yang aneh tentang Jovan kakaknya itu.


...***...


Ini sudah seminggu lebih, namun Sian juga belum ditemukan, baik hidup ataupun mati. Amla mulai panik, rasanya ia terlalu menganggap gampang seorang Ayaz, tidak menyangka Ayaz benar-benar akan bertindak sejauh ini.


Dia juga tidak bisa menemukan titik terang keberadaan Ayaz, kemarin saat orang suruhannya membakar rumah Ayaz, mereka mengabarkan kalau istrinya Ayaz itu dibawa oleh seorang pria seumuran Sian, Amla menebak pastilah pria itu adalah pria yang sama dengan orang yang menyelamatkan istrinya Ayaz saat ia menculiknya.


Namun sayangnya, orang suruhannya itu malah bisa-bisanya kehilangan jejak. Sungguh tidak berguna umpatnya dalam hati.


Dalam pergulatan batinnya, Amla harus dikejutkan oleh suara sirine mobil kepolisian, sudut bibirnya terangkat itu berarti mungkin sudah ada titik terang mengenai keberadaan suaminya.


Gegas Amla berlari menuju ruangan utama, ia akan menyambut dengan baik pihak kepolisian itu.


Setidaknya ada enam buah mobil kepolisian terparkir sembarang di halaman rumahnya, Amla sedikit terkejut apa itu tidak terlalu berlebihan pikirnya.


"Selamat siang..." sapanya.


"Selamat siang! Apa benar dengan Ibu Amla Grace Huculak?" tanya salah satu pihak kepolisian itu memastikan.

__ADS_1


Amla tampak terkejut, bukankah orang-orang berseragam ini datang ke rumahnya untuk mengabarkan perkembangan pencarian suaminya.


Namun ia mengangguk juga, ia berencana akan meneruskan sandiwaranya. "Ya!" sahutnya, "Apa ada perkembangan tentang bagaimana suamiku?" tanyanya langsung.


"Kami mendapatkan laporan bahwa anda dan Tuan Sian Ammar Huculak telah menyekap sepasang suami istri di ruangan penjara bawah tanah selama tiga tahun lamanya, atas nama Romi Hidayat dan Erra, jadi untuk itu anda selaku pihak yang tertuduh diharapkan bisa bersikap kooperatif dan memberikan izin penuh untuk kami memeriksa ataupun menggeledah kediaman anda." jelas polisi itu menyampaikan maksud tujuan yang sebenarnya.


Amla terkejut, namun ia masih bisa bertahan untuk tidak gemetar, ada apa ini, mengapa tiba-tiba ada laporan semacam itu?


"Apa anda tidak keberatan?" tanya polisi itu sekali lagi.


Amla menatap balik lawan bicaranya, "Saya bisa menuntut balik atas pencemaran nama baik dengan apa yang anda lakukan ini, saya bukan yang tertuduh di sinu, dan lagi pula atas dasar siapa anda bisa melakukannya, laporan siapa itu?" tanya Amla mencoba tenang, namun sepertinya juga sulit.


"Aku!" ucap seseorang, Amla mencari sumber suara, matanya membulat kala melihat seseorang yang begitu dirinya hindari. Mengapa pria itu bisa bertindak demikian, dan juga mengapa pria itu benar-benar menjadi orang kaya seperti cerita karangannya dengan sang suami, apakah dia sedang bermimpi di sore hari.


"Sam!" ucapnya pelan hampir tidak terdengar. Amla benar-benar terkejut.


"Aku yang melaporkannya!" ucap Sam mempertegas lagi jawabannya saat ia sudah berada di dekat Amla.


"Kau, bagaimana bisa kau menuduh tanpa bukti?"


"Buktinya sedang dalam pencarian, karena jika aku bisa menemukan ibuku di salah satu ruangan di rumahmu, entah itu di bawah tanah atau tidak, maka itu akan menjadi bukti kuat kalau kau benar-benar melakukan hal biadab terhadap mereka." ucap Sam marah, ia benar-benar kesulitan mengendalikan emosinya.


"Jadi, jikapun anda memang merasa tidak bersalah, maka tentunya anda tidak akan keberatan jika kami menggeledah rumah ini bukan?"


Amla tersenyum kecut, ia menarik napasnya dalam, "Tentu saja!" sahutnya.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2