
"Kau di sini?" tanya Ayaz mendekat, ia menyapa Jovan dengan sedikit canggung.
"Yaren sedang tidur, aku baru saja selesai menyuapinya makan lalu ia tertidur karena meminum obat." jelas Ayaz tanpa Jovan bertanya.
Marco tersentak, bukankah tadi Ayaz sudah mendengar apa yang tidak sengaja dirinya katakan, tapi mengapa dilihatnya Ayaz seolah bersikap tidak pernah mendengar apapun. Apa Ayaz memang tidak mendengarnya, kalau benar begitu entah Marco harus bersikap tenang atau malah sebaliknya, namun baginya saat ini raut wajah Ayaz benar-benar sulit untuk dibaca.
"Sialan! Bugh bugh!" Jovan melayangkan tinjunya pada Ayaz, ia benar-benar geram atas apa yang terjadi pada Yaren.
"Aku mengaku bersalah!" ucap Ayaz.
"Jovan!" pekik Marco.
"Sudahlah Tuan Marco, ini adalah masalah keluarga, Jovan memang pantas melakukan ini padaku dan aku pantas menerimanya." ucap Ayaz.
Lalu tangannya beralih mengambil tangan Jovan, "Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan, kau harus ikut denganku!" pinta Ayaz.
Jovan menatap tajam Ayaz, namun langkah kaki itu akhirnya tetap saja mengikuti.
"Bisa lepaskan tanganmu? Aku merinding!" tanya Jovan sembari matanya menangkap tangannya yang masih juga dipegang oleh Ayaz.
Spontan saja Ayaz melepaskan genggamannya, lalu pria itu melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil. Jovan mengikuti, ia juga sedikit penasaran apa yang akan dikatakan Ayaz, dan juga tadi ia begitu yakin kalau Ayaz benar-benar mendengar percakapan terakhir antaranya dan Marco, namun mengapa bisa Ayaz bersikap seolah tidak terjadi apapun.
"Cepat katakan?" titah Jovan saat ia sudah duduk di samping kemudi.
"Aku ingin kau melupakan apa yang baru saja kau dengar!" ucap Ayaz.
Jovan tersenyum miring, benar dugaannya Ayaz memang pasti sudah mendengarnya tadi.
"Ada apa? Kenapa?"
__ADS_1
"Lakukan saja apa yang kuperintahkan ini!" sahut Ayaz.
"Apa ini bagian dari pekerjaan, apa hal pribadimu juga termasuk urusanku? Kurasa tidak!" ucap Jovan tak kalah tegas.
"Kau akan melakukannya!" ucap Ayaz lagi, matanya menatap lurus ke depan, sebenarnya ia juga tidak ingin melalukan ini, namun baginya mungkin ini adalah satu-satunya cara supaya ia bisa menunda kebenciannya terhadap Marco. Walaupun meski dengan cara membohongi dirinya sendiri.
"Ya ya, memangnya siapa aku?" ucap Jovan kesal, lagi dan lagi, mengapa ia yang pada akhirnya tetap saja harus menurut.
Hening,
Jovan memejamkan matanya, entah mengapa saat mendengar sebuah kenyataan antara Ayaz dan Marco sebagai salah satu orang yang berada di sekitar mereka rasanya untuk diam saja saat ini bukanlah hal yang baik.
"Apa selanjutnya?" tanya Jovan berlanjut.
Ayaz menghela napas, "Aku bahkan tidak bisa menatap wajahnya." sahut Ayaz.
"Ini pelik, dan menurutku tidak akan bertahan lama." ucap Jovan lagi.
"Kau, bukankah hanya mengulur waktu?" Jovan menatap ke arah Ayaz, mata itu masih betah menatap kosong pada rerumputan di depan sana.
"Sudah kukatakan, aku tidak menyukai perubahan darinya, orang seperti dia tidak akan mudah melakukan perubahan tanpa suatu alasan yang jelas."
"Dan pada akhirnya, kau juga mengetahui alasan itu kan!"
"Aku rasa, aku lebih baik tidak pernah mengetahuinya." Ayaz, pria itu benar-benar menolak jika Marco adalah ayah kandung yang ia cari selama ini dan ia targetkan untuk dibunuh suatu hari nanti, mengapa? Mengapa harus Marco.
Tangan Jovan terangkat, ingin mengusap punggung pria brengsek yang sayang sekali adalah adik iparnya itu, namun urung ia lakukan, karena tiba-tiba hatinya bertanya, bukankah mereka tidak sedekat itu? Dan lagi pula tadi baru saja ia sangat membenci Ayaz, sungguh perasaan yang konyol jika detik ini ia sudah merasa kasihan, dewa perasaan mengapa selalu tidak tepat sasaran dalam menempatkan situasi dan kondisi.
"Pada akhirnya, hari itu datang juga, kau selalu menantikannya tapi setelah hari itu datang kau bagai menyesal mengapa bisa tidak sesuai dengan yang kau harapkan!"
__ADS_1
"Itu membuatku sesak!" ucap Ayaz, ia memegangi dadanya, "Mengapa bukan orang lain, dari seluruh pria di dunia ini, mengapa harus Marco?" ucap Ayaz sesal.
Jovan mende*ah berat, ia juga berpikir mengapa harus Marco, mungkinkah sebuah pertemuan tanpa sengaja antara Ayaz dan Marco empat tahun yang lalu mungkin adalah kehendak Tuhan, semua sudah menyangkut takdir. Bukan begitu?
"Mungkin karena dia orang yang tepat!" jawab Jovan, ah apa iya? Tapi jika ditelusuri, Marco adalah orang yang membawa Ayaz dalam kehidupan yang layak, meski keras dan tidak mengenal ampun namun Ayaz menjadi tangguh juga berkat didikan Marco, Ayaz bisa seperti sekarang adalah karena Marco, Jovan rasa Tuhan memang cukup adil.
"Tidak usah membunuhnya jika kau tidak bisa Ayaz!" ucap Jovan.
"Kau tau, bahkan itu adalah hal yang sangat ingin kulakukan!"
"Anggap saja dia adalah Marco, bukan ayah kandungmu yang kau cari selama bertahun-tahun, meski kenyataan itu tidak bisa diabaikan begitu saja, tapi anggap saja dia Marco, hanya Tuan Marco, bukan sebagai orang lain."
"Apa setelah mengetahui kenyataannya kau masih bisa bersikap sama? Bukankah kau juga tadi mengetahui, aku bukan tidak mengetahui dia adalah ayahku, hanya saja aku menunda waktu untuk tau, bukan, lebih tepatnya menunda untuk benar-benar membencinya." ucap Ayaz.
"Dia yang menyelamatkanmu!" ucap Jovan lagi.
Ayaz tampak berpikir, memang benar Marco adalah orang yang sudah sangat berjasa untuk kehidupannya, haruskah ia melupakan segala dendam itu dan menerima Marco begitu saja.
"Aku tau ini berat, tapi mau bagaimana lagi, kehidupan ini seperti mempermainkan kalian, jika kau sudah tenang nanti mungkin kau bisa memulai dari berbicara padanya, hanya kau dan dia, tanyakan mengapa dia melakukan itu, emmm maksudku, meninggalkan Ibumu?"
"Aku tidak yakin bisa, menatap matanya saja aku tidak sanggup."
Jovan turut prihatin, jangankan untuk berbincang menanyakan mengapa alasan Marco melakukan itu, sementara dia yang waktu itu secara tiba-tiba harus menjelaskan pada Yaren kalau ia dan Yaren adalah saudara kandung satu ibu saja, Jovan sesak bukan main, tubuhnya gemetar takut saja kalau Yaren tidak akan menerimanya sebagai saudara, hanya saja Jovan merasa lebih beruntung karena nyatanya Yaren bukan orang yang seperti itu.
Lalu kali ini, Ayaz dan Marco, keduanya sama-sama batu yang tidak akan mudah melunak, mungkin Marco bisa saja mengalah, namun apa Ayaz bisa? Sementara selama ini Ayaz selalu saja memproklamirkan bahwa pria itu akan membunuh siapapun Ayah kandungnya, dan sayangnya saat mengatakan itu Ayaz tidak menyebutkan Marco sebagai pengecualian.
Bagaimana jika Ayaz bertindak diluar batasnya, bagaimana Ayaz tidak bisa menahan api kemarahannya, Ayaz bukanlah orang yang baik dalam menahan rasa sabar, Ayaz tidak punya hati seluas samudra, ia tau itu, suatu keberuntungan saja saat Ayaz membiarkannya tetap hidup waktu itu.
"Marco pasti punya alasan saat melakukannya, satu-satunya cara untuk bisa menentukan keputusanmu hanya mengajaknya berbincang mengenai masa lalumu!" ucap Jovan pada akhirnya.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...