Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Jadi bagaimana dia?


__ADS_3

"Kau bilang apa? Hamil? Apa kau sudah memastikannya dengan benar?" tanya Marco pada Mike, ia menatap tajam dokter kepercayaannya itu, seolah menegaskan kalau sampai kabar yang disampaikan Mike kali ini tidak benar maka tamatlah riwayatnya.


Mike mengangguk, "Aku yakin sekali, dan juga aku memang sudah memeriksanya dua kali." ungkap Mike.


Marco menatap Ayaz, pria itu bertanya dengan heran, "Tapi anak siapa?"


Ayaz mengangkat kedua bahunya, "Tanya saja pada yang punya badan!" jawab Ayaz sekenanya.


"Anak itu..."


Tak ada raut kesal dilayangkan Marco, ia memang menyadari kalau dulunya bahkan ia pernah menjual Rymi pada pria hidung belang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiahnya. Marco sudah menerima jika suatu hari nanti hal seperti terjadi.


Namun, yang ia herankan Rymi tidak pernah bercerita tentang apapun padanya dengan siapa ia berhubungan dalam waktu dekat ini, dan juga mengapa Rymi bisa tidak memakai kontrasepsi, anak angkatnya itu pasti sudah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Bukan anakmu kan?" sergah Marco, ia juga mencurigai Ayaz, karena selama ini Ayaz cukup dekat dengan putrinya itu. Bahkan, Ayaz sudah sering melihat Rymi telan*ang, bukan tidak mungkin kan.


"Kau gila?" Ayaz tidak terima, ia menatap tajam Marco.


"Aku hanya bertanya, kalau bukan ya katakan saja bukan, mengapa marah, bukannya kalian memang dekat, siapa yang tau kalau ada suatu kejadian di mana kalian tidak menyadari..."


"Stop!" bentak Ayaz, "Aku tidak sebejat itu harus melakukannya pada Rymi, dia adikku!" Ayaz langsung saja memotong ucapan Marco, karena ia yang tidak senang.


"Lalu anak siapa?"


"Apa kau tidak menerimanya?"


"Hemmm, tidak juga, malahan aku senang karena sebentar lagi akan mendapatkan cucu, tapi aku hanya heran putriku bisa hamil itu, dia mengandung anak siapa?" ucap Marco, yah dia memang tidak mempermasalahkan Rymi hamil di luar nikah, tapi setidaknya rasa penasarannya ini juga bisa menemukan jawabannya kan.


"Tidak tau! Mungkin anaknya Samudra!" jawab Ayaz, hanya ada satu nama itu yang terlintas di pikirannya, yah kalau bukan Samudra dia tidak bisa memikirkan siapa lagi ayah dari janin yang dikandung Rymi.


"Aku juga berpikiran begitu, tapi kan mereka tidak dekat, Rym... Jika aku tanya bagaimana tentang Samudra dia selalu acuh seperti biasanya, jadi bagaimana bisa anak itu?" sahut Marco.


"Akan aku resepkan obat untuk Rymi, untuk sekarang ini mengingat usia kandungannya masih rentan, jadi aku harap Rym tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat, aku yakin kau bukan Daddy yang kejam!" sindir Mike.

__ADS_1


Marco menoleh, "Kau mau mati hah?" ancam Marco.


"Kalau memang bukan ayah yang kejam seharusnya tidak berteriak begitu kan!" Mike menyindir lagi, hari ini Mike bisa melihat wajah Marco yang tampak begitu senang dan bersemangat, jadi ia menganggap perkataannya ini hanya akan dianggap angin lalu oleh Marco.


"Hemm..."


Marco mengajak Ayaz keluar, menjenguk Rymi yang berada di ruang perawatan, putrinya itu belum juga sadar dari pingsannya.


Saat ingin masuk, Ayaz melihat Sam yang tengah duduk di kursi dekat ruang rawat, "Kau duluan saja, aku ingin bicara padanya!" ucap Ayaz pada Marco.


Marco mengangguk kemudian berlalu untuk mengunjungi putrinya.


Sementara Ayaz,


"Bagaimana?" Ayaz menepuk pelan pundak Sam.


"Mansion ini, kalian menyulapnya seperti rumah sakit, aku lihat semua peralatannya lengkap, apa kau waktu itu berada di sini saat tertusuk oleh ayahku?" tanya Sam. Ia menatap kagum pada mansion mewah milik Marco yang di beberapa lantainya terlihat mirip sekali dengan rumah sakit ternama.


"Ya!" jawab Ayaz, "Kenapa?"


Ayaz tersenyum, "Ah ya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu!" ucap Ayaz kemudian.


Sam menghentikan kekagumannya, mendengar Ayaz ingin mengatakan sesuatu, ia jadi bersikap sangat serius.


"Apa? Apa ini tentang Rymi? Ah ya, jadi bagaimana keadaannya? Apa demamnya parah? Dia sampai pingsan karena muntah-muntah? dia tidak keracunan kan?" tanya Sam bertubi-tubi, sungguh karena rasa khawatirnya menbuatnya tidak sadar menjadikannya orang yang sungguh banyak bicara.


"Dia tidak apa..." jawab Ayaz mencoba menenangkan.


"Aaahhh... Syukurlah!" Sam menghela napasnya, seolah ada beban yang terlepas di dadanya.


"Jadi, bagaimana dia?"


"Sebenarnya aku ingin bertanya bagaimana hubungan kalian selama ini?" tanya Ayaz langsung. Ia tidak mau menunda lagi, hanya Sam lah satu-satunya orang yang dirinya curigai, meski begitu jika kenyataannya memang benar, bagi Ayaz itu lebih baik ketimbang adiknya dihamili orang lain. Ada sedikit pemakluman jika orang itu Samudra.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kau bertanya begitu?" tanya balik Sam, yang sepertinya juga sudah ketularan Rymi, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya.


"Aku perlu memastikan sesuatu!" jawab Ayaz.


"Apa?" tanya Sam lagi.


"Aku tanya, apa hubunganmu dengan Rym?" tanya Ayaz sekali lagi dengan bahasa yang semakin mudah dimengerti.


"Kami..." Sam tidak bisa melanjutkan ucapannya, jangankan Ayaz, dirinya saja bahkan bingung menggambarkan hubungannya dengan Rymi seperti apa.


"Apa kau pernah tidur dengan Rym?" tanya Ayaz.


Sam terkejut karena Ayaz yang bertanya seperti tanpa beban, jika Ayaz memiliki hubungan khusus dengan Rymi seharusnya pria itu marah saat menanyakan hal sevulgar itu.


"Aku..."


"Katakan!"


"Kami tidak begitu dekat untuk bertindak sejauh itu!" jawab Sam pada akhirnya, bayangan Ayaz yang menatap Rymi dengan penuh cinta membuatnya merasa harus menjaga jarak. Tapi yang Sam tidak mengerti jika Ayaz mencintai Rymi mengapa sahabatnya itu malah menikah dengan wanita lain.


Apakah Ayaz seorang peselingkuh?


"Hemmm..." Ayaz merasa Sam melakukan kebohongan, "Mau ku kenalkan dengan istriku?" tanya Ayaz berbasa-basi setelah tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari mulut Sam.


"Istrimu? Memangnya dia ada di sini?" tanya Sam.


"Ya, di lantai atasnya lagi, kau belum pernah menemuinya kan, dia sangat cantik, tapi dia milikku!" jawab Ayaz, lagi dan lagi mulutnya ini tidak bisa untuk tidak memuji istrinya itu di hadapan orang lain. Menegaskan kalau Yaren adalah miliknya, kepunyaannya.


"Benarkah?"


Sam merasa perkataan Ayaz begitu tulus saat memuji sang istri, jadi pemikiran Sam benar-benar dilanda dilema, sebenarnya bagaimana hubungan Rymi dan Ayaz, kakak dan adik, tapi mereka tidak sedarah... Apa iya bisa sedekat itu?


Sam mengikuti langkah Ayaz, mungkin pria itu akan membawanya ke lantai atas, pemikirannya menjadi tidak karuan, cemburu dan tidak punya keyakinan, jadi Sam seakan sudah menyerah dahulu sebelum berperang. Karena baginya, lawannya kali ini setidaknya harus dirinya bahagiakan, Sam merasa dirinya harus merelakan jika nantinya Ayaz dan Rymi mengatakan benar memiliki sebuah hubungan percintaan yang dianggapnya rumit itu.

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2