Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Maafkan aku Yaren...


__ADS_3

Raisa merasakan lapar yang tak kunjung mereda di perutnya, semakin sakit dan melilit karena dirinya hanya makan terakhir kalinya pagi kemarin.


Ingin keluar dari ruang rawat itu, namun beberapa kali dirinya mengintip keadaan diluar, para pencari berita seolah betah saja menungguinya.


"Bagaimana ini?" tanyanya bergumam pelan.


Perutnya sudah membunyikan alarm peringatan, bahkan saat ini entah sudah berapa kali dirinya mual-mual karena kelaparan.


"Aku harus keluar, mau bagaimanapun jika aku tetap di sini tidak akan pernah ada yang akan aku dapatkan."


Raisa mulai mengintip keadaan diluar lagi, apa-apaan ini, selama hampir seharian ia berada di ruang rawatnya mengapa tidak ada satupun perawat yang melihat keadaannya.


Ruang rawatnya juga tidak begitu mewah, membuatnya semakin kesal saja.


Raisa mengusap perutnya yang kelaparan, "Kamu sih, kenapa juga harus ada di perutku, aku kan jadi harus berbagi makanan denganmu!" ketus Raisa mengomeli janin yang tidak tau apapun di perutnya.


Ponselnya juga tidak tau ada di mana, Raisa benar-benar menyayangkan hidup sulitnya.


Pelan kakinya melangkah, tangannya mulai terulur membuka pintu meski masih juga dirundung keraguan.


Terlihat beberapa pencari berita sedang asik berbincang, ada yang sedang makan dan ada juga yang sedang sibuk sendiri dengan ponselnya.


Raisa melangkah sangat pelan, ia sedang berusaha membuka pintu tanpa suara. Namun, sekeras apapun dia berusaha nampaknya takdir Tuhan tidak berpihak padanya, ia masih saja ketahuan.


"Itu Raisa!" pekik seseorang.


Semua pencari berita itu langsung saja menoleh ke arahnya dengan tatapan memburu. Lalu, begitu cepat tanpa Raisa sempat menghindar, mereka semua sudah mengerumuni Raisa.


"Raisa, bagaimana tanggapan anda tentang apa yang terjadi dengan keluarga anda?"


"Apa benar anda hamil duluan?"


"Apa benar pernikahan anda dan Tuan Harun hanyalah pernikahan bisnis?"


"Bagaimana hubungan anda dengan Tuan Harun, mengapa Tuah Harun tidak menemui anda di sini?"


"Raisa berikan tanggapan?"


"Raisa, mohon klarifikasinya, berikan komentar?"


Kepala Raisa mulai berdenyut, sampai kini ia belum juga makan apapun, bagaimana ia bisa menghadapi situasi semacam ini.

__ADS_1


Raisa memegangi kepalanya, perlahan penglihatannya semakin blur, tangannya ia rentangkan untuk memapah dinding. Dengan terbata-bata ia berkata, "Bisakah kalian membiarkanku hidup tenang, kalau kalian seperti ini kalian bisa saja tanpa sadar membunuhku." ucap Raisa, terdengar lemah sekali.


"Raisa, apakah anda memang positif hamil?"


"Raisa..."


Namun bukannya menanggapi keluhan Raisa, para pencari berita itu malah semakin menjadi memberondong pertanyaan padanya.


"Tolong..."


"Biarkan aku hidup tenang, biarkan aku pergi dengan tenang..." lirih Raisa yang hampir tidak terdengar karena tenggelam oleh riuhnya pertanyaan demi pertanyaan yang dilayangkan wartawan.


Hingga "Brakkk..." ia tidak bisa lagi menahan denyutan di kepalanya, tubuhnya yang perlahan ringan membuatnya tidak bisa lagi bertahan lama.


...***...


"Sudah?" tanya Yaren, ia dan Ayaz sedang membeli apa saja yang kiranya cocok untuk mereka bawa ke panti asuhan.


"Apa menurutmu sudah? Segini saja apa cukup?" tanya balik Ayaz.


"Ayaz lihatlah, kau sudah membeli banyak sekali barang, bagaimana nanti kita akan membawanya?"


"Tidak usah dipikirkan, aku akan mengurusnya!" sahut Ayaz, tangannya dengan lincah terus saja memilih mainan untuk ia berikan pada panti asuhan yang akan dikunjunginya nanti.


"Sayang, ternyata melakukan hal seperti ini menyenangkan, tapi mereka pasti akan senang mendapatkan barang-barang ini kan?" tanya Ayaz, entah mengapa saat ia bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain dengan menyumbangkan sedikit sekali dari hartanya itu membuatnya tampak begitu senang.


"Apa ini pertama kali bagimu?" tanya Yaren.


"Emmm... Ya!" angguk Ayaz.


Benar, Ayaz memang tidak pernah melakukannya, batin Yaren.


Wajar saja dia seantusias ini, sudahlah tidak apa, bukankah ini manis, suamiku yang tampan sedang memilah-milah mainan anak-anak...


Ehhh, melihatnya seperti itu... Bagaimana nanti jika kami punya anak yah, ahhh tidak-tidak, Ayaz pernah mengatakan kalau dia tidak mau memiliki anak dariku, jadi buang jauh-jauh pemikiranmu ini Yaren, itu tidak akan pernah terjadi.


Tapi aku ingin, aku ingin memiliki anak darinya, pasti wajahnya sangat tampan setampan Ayahnya.


"Yaren... Yaren..."


"Ahhh, ya ya!" Yaren tergugup, Ayaz memanggilnya sedikit keras, sebenarnya sudah berapa lama dirinya ini melamun, duh malu sekali.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya Ayaz.


Tangannya mulai menarik tangan Yaren untuk mengikutinya, ia ingin melihat-lihat selimut di sana, ingin membelikan itu juga untuk ia sumbangkan.


"Tidak... Tidak apa!" jawab Yaren cepat.


"Aku memanggilmu dari tadi, tapi kau tidak mendengarnya, aku mau tanya perlukah kita membeli selimut?"


"Selimut? Emmhh, mungkin sedikit."


"Baiklah, ayo bantu aku memilihnya." pinta Ayaz.


Yaren lalu bergelut dengan tugasnya, membantu Ayaz memilih ini dan itu untuk mereka sumbangkan.


Benar dugaanku saat melihat dia pertama kali, dia ini sebenarnya orang baik, tapi sayangnya ia seolah terpaksa menjadi jahat karena sebuah keadaan.


"Sayang, terimakasih yaaa!" ucap Yaren berbisik, ia memegang lembut tangan Ayaz, matanya menatap mata Ayaz penuh cinta, sungguh meski dulu ia sempat trauma karena betapa kejamnya Ayaz memperlakukannya, namun keadaan sekarang ini berbeda, Ayaz yang dilihatnya... Hanyalah Ayaz yang penuh cinta. Selalu memberikan kebahagiaan, rasa suka, dan yang terpenting selalu bisa menghapus duka, luka dan air matanya.


Bagaimana mungkin ia tidak jatuh cinta lagi dan lagi pada suaminya ini, bagaimana mungkin di hatinya bisa terselip keraguan jika yang dilihatnya Ayaz bisa dan rela saja melakukan apapun untuknya, dan bagaimana mungkin ia tidak memilih pria ini sedang saat ini saja dirinya tau kalau ia tidak bisa hidup tanpa kekasihnya ini, level Ayaz bukan lagi sebagai seseorang yang dirinya sayangi, tapi lebih tepatnya berharga, Ayaz adalah miliknya yang sangat berharga.


Ayaz terkejut, mengapa perlakuan Yaren tiba-tiba saja menjadi sendu, mengatakan itu padanya dengan tatapan yang seperti itu, "Untuk apa?" tanyanya ragu.


"Untuk hari ini, hari kemarin, hari-hari yang telah kita lalui, aku bahagia bisa bertemu denganmu, aku bahagia bisa menjadi sebagian kisah dari hidupmu. Ayaz... Aku hanya ingin kita yang seperti ini, bisakah..."


"Shuttt!" Ayaz langsung saja menghentikan ucapan Yaren, ia tidak sanggup mendengarnya.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Yaren, ia menyangka Ayaz tidak senang akan ucapannya.


"Yaren, bisakah kita jalani saja, aku hanya mencintaimu, selama-lamanya pun hal itu tentu sanggup aku lakukan, tapi... Hanya mencintaimu saja."


Karena untuk terus bersamamu, aku tidak bisa berjanji...


"Apa maksudnya?"


"Bisakah kita lupakan pembicaraan semacam ini?" Ayaz menggenggam erat tangan Yaren, mencoba untuk tetap tenang, ia juga sangat ingin hidup bersama Yaren selamanya, tapi sayangnya ia tidak bisa memastikan itu.


Maafkan aku Yaren...


Maafkanlah pria yang tidak bisa menjanjikan apapun ini, semoga suatu hari nanti kau tidak terlalu kecewa jika kita tidak bisa bersama.


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2