Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Istriku...


__ADS_3

"Kudengar, kau tidak juga mendekatinya!" ucap Marco. Rasa lelah Rymi seharian bekerja di kantor seolah belum mengizinkannya beristirahat, Marco datang dan mengkritik segala yang tidak sesuai dengan rencananya.


"Jangan memata-mataiku!" sergah Rymi, menambah kesal dan rasanya ingin sekali Rymi melawan Ayah angkatnya itu.


"Bukankah tidak benar jika aku melakukannya." ejek Marco.


"Daddy, aku tidak akan bersabar tentang semua ini, hentikan!" pekik Rymi.


"Memangnya kau siapa? Berani memerintahku! Jadilah anak yang berbakti, aku tidak ingin menyakitimu Rym!" sahut Marco tak kalah garang.


"Daddy menggenggam hidupku dan Ayaz, keterlaluan, tolong hentikan, Daddy tau Rangga adalah orang yang begitu berarti untuk Ayaz, tapi Daddy juga mengabaikan segalanya. Daddy bertingkah seolah Ayaz tidak pernah mengatakan itu."


"Karena dia begitu melindunginya, maka aku juga semakin bersemangat untuk menyakitinya." tantang Marco.


"Apa jika dia orang yang berarti bagiku, Daddy juga akan menyakitinya?" tanya Rymi.


"Kenapa? Apa kau sudah jatuh cinta dengannya?"


"Inilah alasanku untuk tidak pernah mau dekat dengan siapapun, karena hidup mereka yang berada di dekatku, aku pasti akan membuat mereka terluka, tersakiti, karena aku mempunyai Daddy yang tidak punya hati sepertimu!" sahut Rymi.


"Kurang ajar! Plakk!" Marco lagi-lagi hilang kesabaran karena Rymi tidak mendukung rencananya.


"Ini, kali ke tiga Daddy menamparku, aku masih menunggu hingga tangan itu terbiasa menyentuh pipiku seperti ini, terimakasih telah menunjukkan siapa Daddy sebenarnya, seharusnya dari dulu aku memang tetap pada pendirianku tentang dirimu!" Rymi menatap nyalang Marco, yang bisa Marco lihat bahwa di balik mata itu ada kekecewaan yang mendalam.


Marco menatap telapak tangannya yang telah tanpa sengaja menampar pipi putrinya, meski hanya anak angkat tapi Marco benar-benar sangat menyayangi Rymi.


"Apa yang..." ucapnya terbata.


Air mata Rymi sudah mengalir, bukan sakit karena tamparan itu, tapi sungguh ia kecewa pada Marco.


"Kau harus melakukannya, kau tidak bisa membantahku, kau harus melakukannya, lakukan... LAKUKAN!!!" teriak Marco.


"Daddy, mengapa Daddy menjadi monster seperti ini, aku mohon aku akan menuruti apapun permintaan Daddy, tapi jangan melanjutkan misi ini, hentikan, aku tidak akan sanggup melihat Daddy dan Ayaz saling menjatuhkan!" mohon Rymi sekali lagi, wanita itu tampaknya belum letih berharap.


"Dia yang meninggalkanku!" sahut Marco.

__ADS_1


"Ayaz pergi karena Daddy yang meminta, Daddy yang menyuruhnya untuk pergi malam itu."


Marco terduduk lemas, mengingat lagi tentang Ayaz , mengapa rasanya dada ini begitu sesak, melihat punggung Ayaz yang semakin menjauh malam itu membuatnya begitu tersiksa.


Marco seperti kehilangan dirinya sendiri untuk kedua kalinya, setelah dulu ia pernah dikecewakan melihat punggung Nindi yang semakin menjauh meninggalkannya, malam itu ia juga melihat punggung Ayaz yang semakin menjauh darinya, mengapa? Mengapa rasa itu sama sakitnya?


"Dia, seharusnya tidak pergi, meski aku mengusirnya, dia seharusnya tetap bersamaku, meski aku memintanya pergi, dia seharusnya memohon padaku untuk tetap mempercayainya, dia seharusnya tidak membangkangku, dia seharusnya tetap menjadi yang berguna untukku!" lirih Marco, ada sesal saat dirinya mengatakan itu.


"Tapi dia pergi, tapi dia tetap menjauh, kau tau... Itu menyakitkan sekali!" Marco memegangi dadanya sesak, pria itu masih duduk meratapi kepergian Ayaz, anak buah yang paling dirinya sayangi.


"Bukankah Daddy seharusnya sudah bisa menyadari, betapa sulitnya kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kita, lalu bagaimana bisa Daddy masih berpikir untuk memisahkan Rangga dengan Ayaz?" ucap Rymi lagi, berharap bada secercah harapan untuk melunakkan hati Ayah angkatnya itu.


Aku juga, rasanya tidak bisa harus menjadi musuh bagi Ayaz, aku tidak akan sanggup Dad, tolong mengertilah!


"Kau tidak tau Rym, kita akan dipandang saat kita punya kekuasaan, harta yang banyak, kau pikir aku bisa menyekolahkanmu, bisa memberimu kehidupan itu semua karena apa, karena aku berkuasa!" ucap Marco. Baginya begitulah kehidupan, Marco sudah pernah merasakan betapa sakitnya tidak dianggap, antara dirinya dan orang kaya itu, Nindi... Sudah jelas memilih siapa yang bisa menunjang hidupnya.


"Daddy, satu kali ini saja, pikirkan Ayaz, kalau Daddy benar-benar tidak mau kehilangannya, maka hentikan ini, kita cari caranya sama-sama untuk membalaskan dendam Ayaz tanpa menyakiti Rangga, aku rasa Rangga juga bukan suatu yang penting bagi Donulai, dia hanyalah anak angkat, dan..."


"Dia memang tidak terlalu penting, tapi dia akan menjadi satu-satunya penghalang." sahut Marco.


"Temui Ayaz, biarkan aku bicara padanya satu kali lagi." titah Marco.


...***...


"Kau nampak dekat dengan wanita itu?" ucap Yaren.


Ayaz sedang mengutak-atik flashdisk yang dikirimkan Rymi pagi tadi. Sebuah bukti yang bisa saja menjeratnya, Ayaz menghela napas dalam, memejamkan matanya dan mencoba berpikir keras bagaimana bisa lolos dari kasus yang menjeratnya.


"Dia adikku!" ucap Ayaz.


"Adikmu?" ulang Yaren.


"Apa... Pria paruh baya dengan jambang tipis waktu itu, adalah Ayahmu?" tanya Yaren antusias. Akhirnya ia bisa mengetahui sedikit informasi tentang keluarga Ayaz.


"Bukan!" jawab Ayaz.

__ADS_1


"Ah, benarkah?" tanya Yaren lagi, sebenarnya ia cukup heran, karena meski sekilas Yaren bisa melihat begitu jelas kemiripan antara Ayaz dan pria paruh baya itu.


Saat Marco datang di pernikahannya waktu itu, Yaren sudah menebak pastilah pria paruh baya itu adalah Ayahnya Ayaz. Namun sayangnya tidak, tebakannya salah.


"Siapa dia?" tanya Yaren lagi, ia begitu penasaran.


"Apa perlu kau tau sejauh itu?" tanya balik Ayaz, pria itu menatap genit istrinya.


Satu hal yang menurut Yaren sungguh berubah dari seorang Ayaz, meski Yaren menanyakan ini dan itu, tapi pria itu tidak sedingin dulu, tidak juga menatap tajam dirinya, yang sekarang adanya malah genit atau bahkan begitu ramah.


"Eh..."


"Dia seseorang yang menyelamatkanku!" jawab Ayaz pada akhirnya.


"Menyelamatkanmu?" heran Yaren. Menyelamatkan dari apa pikirnya.


"Dia sepertinya cukup dekat dengan Rymi, aku bahkan mengira mereka adalah orang tua dan anak, dan saat kau menyebutkan Rymi adalah adikmu aku pikir mereka berdua benar-benar keluargamu." jelas Yaren menjabarkan pemikirannya.


"Jangan tau banyak tentangku Yaren!" ucap Ayaz tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Kau curang, kau begitu banyak mengetahui tentangku, bagaimana keluargaku, kehidupanku, tapi aku ini tidak mengetahui apapun tentangmu." dengus Yaren kesal.


"Istriku..." panggil Ayaz, Yaren melotot tidak percaya bagaimana bisa Ayaz lagi-lagi bersikap lembut padanya.


Dengan tanpa paksaan Yaren mengangguk menyahuti panggilan Ayaz.


Ayaz bangkit dari sofa kemudian menuju ranjang mendekati Yaren, ia menatap Yaren intens, kemudian memeluknya.


"Satu hal yang tidak bisa aku ubah tentang diriku, aku bukanlah orang baik, jika kau mendengar berita betapa jahatnya aku nanti, aku tidak akan melarangmu untuk percaya, percayai saja apa yang kau dengar, mungkin karena memang sudah takdirku hidup dalam kegelapan." ucap Ayaz sembari membelai puncak kepala Yaren.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2