Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ayaz kami tidak ingin memiliki semua ini...


__ADS_3

Ayaz masih melihat wajah terlelap istrinya itu, mereka baru saja bergelut menjelajahi surga dunia. Kali ini, Ayaz memilih untuk berbaring menemani istrinya itu, terakhir saat ia meninggalkan Yaren pergi, istrinya itu mengalami kemalangan yang masih sangat disesalinya.


Ayaz memikirkan kembali pertemuannya dengan Yaren, jika mengingat itu ia masih saja merasa bersalah, Yaren bahkan pernah trauma karena dirinya.


Sungguh kejam, jahat, wajar saja waktu dulu Yaren begitu membencinya, rasanya mencintai Yaren sepenuh hati seperti ini saja tidak cukup untuk membayar perlakuan gilanya terhadap Yaren dulu.


"Aku akan menjagamu, pasti!" gumam Ayaz, ia mengecup puncak kepala istrinya itu.


Ayaz lalu memeriksa ponselnya, ia akan memeriksa perkembangan terkini kasus Ali Yarkan, dan juga setelah kembali ke tanah air dirinya berencana untuk mengurus mayat Sian, ia juga harus mempersiapkan diri untuk itu.


Ayaz mengetahui bahwa Rymi sudah melakukan sesuatu untuknya, jadi kemungkinan saat dirinya kembali, dirinya tinggal mengurus sisanya saja.


Ayaz mengirimkan pesan singkat untuk anak buah Marco yang dipercaya untuk mengurus mayat Sian, ia akan meminta salah satunya untuk melakukan sesuatu di dekat sungai itu.


...***...


"Ada apa?" tanya Rymi. Ia berbicara dengan acuh, matanya masih fokus pada layar ponsel yang dianggapnya lebih menarik.


"Rym!" seru Jovan.


"Bukankah kedatanganmu ke sini hanya untuk mengetahui apa yang sudah kulakukan?"


"Lebih dari itu?"


"Jovan Dirga! Aku tau kau menguasai IT, dan rasanya kau bukanlah orang bodoh, mengapa aku harus bercuap-cuap menjelaskan jika sebenarnya kau sudah mengetahui?"


"Rym, apa kau tidak takut melakukannya!" tanya Jovan.


"Setidaknya jika tidak bisa membantu, maka diammu sangat berharga bagi kami!" sahut Rymi.


"Aku..."


"Aku tau ini sulit bagimu yang awal mulanya adalah orang suci, tapi... Perlu kau ketahui, aku bukanlah Ayaz, aku tidak akan segan-segan menghancurkan Yaren jika kau berani membuka mulutmu itu!" ancam Rymi.


"Kau mengancamku?"


"Aku tidak sedang mengancam, aku berbicara sebenarnya!"


"Kau tidak punya hati!"


"Hei!" Rymi menatap lucu saat Jovan mengatainya tidak punya hati, "Lebih tepatnya sebuah pertahanan diri!"

__ADS_1


Jovan menggeleng saat melihat tingkah Rymi yang terlihat sama sekali tidak merasa bersalah. "Aku sudah salah menilai kalian!"


"Aku tidak butuh penilaian, yang aku butuhkan hanyalah kehidupan, selama aku bisa bertahan hidup maka semuanya sah saja bagiku!"


"Di kehidupan kami, yang lemah maka akan terinjak, siapa yang kuat maka ia bisa mendapatkan segalanya. Aku sudah terbiasa akan hidup seperti itu, jadi jangan mengajariku bagaimana caranya menyikapi hidup, karena aku hanya tau bagaimana caranya bertahan!"


"Kau dan Ayaz, apa kau akan menjadikan Amla Huculak sebagai kambing hitam untuk ini?" tanya Jovan.


"Apa kiranya pertanyaan itu begitu penting, apa aku harus menjawabnya?" tanya balik Rymi.


"Kau tidak akan melibatkan aku?" tanya Jovan lagi.


"Kenapa? Kau takut?"


"Hukum? Kau tau, beberapa orang bilang adanya peraturan itu kadang memang untuk dilanggar, dan aku hanya melakukan prinsip sebagian dari mereka!"


"Jika kau begitu ingin lepas, mengapa tidak berusaha sendiri? Kau takut mati dan minta pengampunan dari Ayaz waktu itu, mengatakan akan melakukan apapun di kemudian hari, bukankah kau sudah tau apa pekerjaan Ayaz, tapi mengapa kau malah menjerat dirimu sendiri?"


"Dengan membuat suatu hubungan dengannya, kerja sama, bukankah sebentar lagi dendammu pada Argantara juga terbalaskan?"


"Jika kau merasa dirimu begitu bersih, mengapa kau harus repot-repot mengotorinya?"


"Bukankah Ayaz juga sudah memberikanmu pilihan, mati... Atau, menjalani hidupmu yang terlihat sangat menyedihkan ini!" Rymi tersenyum smirk menatap Jovan, Jovan menggeleng lagi, ia tidak percaya meskipun ia mempunyai segalanya namun di sini nyatanya ia tak lebih dari seorang budak bagi Ayaz dan Rymi.


"Sayang sekali Tuan Jovan, anda sudah terlibat di dalamnya, maka tidak ada yang bisa anda lakukan selain bertahan hidup, seperti aku dan Ayaz."


Rymi tidak bisa menahan tawanya, dan itu terlihat sangat mengerikan.


"Jika kalian membawa-bawa namaku, maka aku juga tidak akan tinggal diam!" bentak Jovan.


"Ooww, apa aku sedang diancam?" Rymi melayangkan ekspresi pura-pura takutnya.


"Aku tidak sedang mengancam, aku berkata sebenarnya!" ucap Jovan mengulangi apa yang tadi pernah dikatakan Rymi.


"Tepat sekali!" Rymi bertepuk tangan satu kali tepat di hadapan Jovan. "Aku pun sama, tidak menganggap itu sebagai ancaman!"


"Kalian akan menyesalinya!"


"Jangan mengatakan hal yang belum terjadi, karena aku tidak suka berandai-andai! Jika kau ingin berkhayal sebaiknya segera tidur dan dapatkan mimpi yang kau mau! Hahahahaha!"


Rymi menaik turunkan alisnya, ia tau dibalik ancaman Jovan, sungguh terbesit rasa takut yang sedang ditahan mati-matian oleh pria itu.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu Tuan Jovan, kau terlalu munafik, kau menghancurkan lawan bisnismu yang ketahuan curang dengan tanpa ampun, kau bisa bersikap gila di hadapan musuhmu tapi saat kau melakukan kesalahan ternyata kau begitu takut!"


"Jangan pernah ada keraguan, pemikiran yang ganda hanya akan menyesatkanmu. Tentukan pilihanmu, jika pun pada akhirnya itu salah, maka kau hanya perlu membenarkannya, tidak untuk disesali!"


"Semua pilihan ada di tanganmu, jikapun kau ingin menyerah dan membuka mulutmu itu, itu juga hak mu, tapi... Sayangnya aku tidak akan membiarkan itu, mungkin lebih baik kau menghubungi Yaren untuk terakhir kalinya."


"Kalian benar-benar bajingan, terkutuk!"


"Aku mengakuinya!" sahut Rymi tidak keberatan.


"Suatu hari nanti, kalian akan mendapatkan balasannya!"


"Aku mengunggu hari itu tiba!"


"Aarggghhh!"


...***...


Sam menenangkan Tuan Donulai, sejak kepergian Ayaz, Tuan Donulai terus saja merasakan sakit di dadanya.


Sam sudah membelikan obat, dan juga kondisi Tuan Donulai juga sudah diperiksa, namun sayangnya Tuan Donulai enggan dibawa ke rumah sakit.


"Biarkan saja, biarkan aku bertahan dengan keadaan ini, jika saja sakit ini bisa menghukumku maka rasa kesakitan ini bukanlah apa-apa, Ayaz lebih merasakan sakit, ia begitu tersiksa akibat ulah Sian!" ucap Tuan Donulai.


"Ayah, mana bisa seperti itu, kondisi kesehatanmu memburuk, tolong menurut saja dan mau di bawa ke rumah sakit." bujuk Sam lagi.


"Biarkan Sam, biarkan seperti ini!"


"Aku ingin merasai sakitnya."


"Aku ingin merasakan bagaimana sakitnya, kesakitan Nindi, kesakitan Ayaz, mereka begitu ingin terbebas namun tidak bisa, aku harus sesekali menanggungnya." ucap Tuan Donulai mulai meracau.


Kenyataannya, apa yang dikatakan Ayaz tadi begitu mengena di hatinya, bahkan Ayaz, pewaris satu-satunya keluarga Donulai itu tidak sedikitpun menginginkan harta megah mereka, bahkan melihat Donulai pun tidak.


"Ayah, Ayah, Ayah sedang tidak baik-baik saja, aku mohon tenangkan diri Ayah, dan ayo kita pergi ke rumah sakit."


Tuan Donulai menangis, baru kali ini dirinya merasa begitu rapuh, sungguh rapuh.


"Ayaz kami tidak ingin memiliki semua ini..." racaunya lagi.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2