Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Yang benar saja!


__ADS_3

"Aku?" Rymi tidak percaya, lagi? Lagi, dirinya harus ditugaskan mengurus Sam, apakah dunia tidak bisa membiarkannya menikmati hidup? Oh ya Tuhan! Dia, lagi-lagi menghancurkan acara liburanku!


"Kau bercanda?" tanya Rymi. Matanya menatap tidak suka pada Ayaz.


"Tidak!" jawab Ayaz yakin.


Rymi nyengir kuda, menampilkan deret giginya, senyum tidak berkelas dan tampak dipaksakan itu seharusnya Ayaz mengerti bahwa dia tidak setuju.


"Kau terlalu bersemangat! Baiklah, kuserahkan dia padamu!" ucap Ayaz, pemuda itu menyeret tubuh Sian untuk dirinya bawa ke mobil, tidak peduli dengan Rymi yang sepertinya hendak melayangkan protes. "Cepatlah Rym!" serunya.


Rymi menghela napas berat, baiklah! Ini yang terakhir, lagi pula rasanya Rymi tidak setega itu untuk membiarkan Samudra berada diambang kematian seperti ini.


"Jika mau mati, ya mati saja, tapi jangan di hadapanku, aku kan juga manusia biasa, kadang hendak membunuh semut saja aku harus begitu banyak pertimbangan, aku bukan orang yang kejam, kau tau? Dasar!" Rymi menggerutu, bagaimanapun, sebenarnya ia tidak ingin terlibat dengan urusan Sam lagi.


"Hei Nona, berhentilah bermuka dua, kau bahkan baru saja membunuh orang!" ucap Ayaz, pria itu tersenyum mengejek.


...***...


"Jadi, kau mau melihat bagaimana dia memperlakukanmu sebenarnya?" tanya Jovan, hari ini Yaren memintanya bertemu, dan Jovan dengan senang hati mengunjungi kediaman adiknya itu.


"Bukankah sangat tidak berdasar jika aku tidak melihatnya." ucap Yaren.


"Membuktikannya, yah kau benar, kadang sesuatu yang dikatakan itu memang harus didasari dengan bukti, seperti tuduhan misalnya, kau tidak menganggap aku menuduhnya kan?"


"Ahh, bukan begitu Kak, eemmhh..."


"Sudahlah Yaren, aku hanya bercanda." ucap Jovan lagi.


Yaren tersenyum lega, setidaknya ia tidak berada di situasi canggung berdua dengan pria yang ternyata adalah Kakak kandungnya itu.


Bagaimana ia harus membuktikan pada Yaren bahwa Argantara bukanlah orang yang baik. Sedang saat ini, yang dilihatnya saat ia mengawasi pria paruh baya itu, Argantara tampak seperti menunggu kehadiran Yaren, dan mungkinkah pria itu sedang menyesali tindakannya pada Yaren.


Jovan takut, Yaren akan terpengaruh dan berbalik menatap Argantara, atau yang lebih parahnya lagi, tidak mempercayainya dan menganggap ia hanya membual.


"Tapi, bagaimanapun, kau harus meminta persetujuan Ayaz untuk hal semacam ini, aku tidak mau punya masalah dengannya!"

__ADS_1


Yaren mengangguk, mendengar Jovan yang berkata demikian, Yaren jadi ingin menanyakan sesuatu.


"Kak Jovan!" serunya.


"Ya!"


"Apa Kakak takut pada Ayaz?" tanya Yaren langsung.


Mata Jovan membulat, "Aku!" pekiknya tidak percaya, bagaimana bisa Yaren menanyakan itu.


"Kakak tidak bisa membuat masalah dengan suamiku?"


"Hahahaha, aku? Yaren, aku tidak takut padanya, aku hanya menghargainya." jawab Jovan beralasan.


"Benarkah?"


"Ya! Memangnya apa lagi?"


"Yaren mengangguk, "Kalau begitu, bagaimana Kakak bisa bertemu dengan suamiku itu? Dia sepertinya tidak menyukai Kakak, dan Kakak pun sama, tapi kalian berdua seperti dua orang yang terpaksa harus mencoba bersama, apa ada yang kalian sembunyikan?" tanya Yaren penasaran.


"Apa... Kalian, sedekat itu?" tanya Yaren ragu, mengapa tiba-tiba dirinya tersentuh akan kata-kata Jovan. Apa lagi, Yaren juga tiba-tiba teringat perbincangannya dengan Ayaz kemarin,


Jovan, aku yakin, dia bisa menjagamu dengan baik nantinya.


Pandangan Ayaz saat itu, sepertinya begitu tulus saat menyebutkan nama Kakaknya ini, seakan rasa kepercayaan yang tidak akan bisa ditukar dengan apapun.


"Tidak juga!" jawab Jovan.


"Ayaz, menitipkan aku padamu." ucap Yaren lagi, ia ingin melihat reaksi Jovan saat mendengar perkataannya itu.


Hening,


"Bukankah sudah seharusnya, kau adalah adikku, aku pikir Ayaz memikirkan orang yang tepat!"


"Apa kau juga tau? Apa itu artinya, kau juga tau, dia bilang 'nanti', apa kau sebenarnya tau apa maksudnya?" tanya Yaren, dirinya sungguh penasaran akan hidup seperti apa yang sebenarnya dijalani Ayaz.

__ADS_1


"Apa Ayaz pernah bilang, dia akan menceritakannya padamu?" tanya balik Jovan.


Yaren mengangguk, air matanya sedikit menggenang di pelupuk.


"Ya, setidaknya dia bilang suatu hari nanti." jawab Yaren, kepalanya tertunduk, lalu tangis itu akhirnya meluruh.


"Mengapa aku tidak diizinkan untuk mengetahui apapun? Dia membuatku seperti orang bodoh yang bertanya-tanya, ke mana dia? Apa yang dia lakukan? Tidakkah kami sudah membuat hubungan yang aku kira sudah kusimpulkan erat, namun nyatanya... Dia bisa pergi kapan saja tanpa mengabariku, dia bisa datang saja tanpa menyapaku, apakah aku tidak berarti baginya, tolong tanyakan apa artinya aku baginya?" Yaren meratap di sela-sela tangisnya.


"Yaren..." lirih Jovan. Dia tidak pernah tau, ada batas yang nyatanya masih tidak bisa ditembus oleh Ayaz, dan sayang sekali batas itu harus menyakiti adiknya.


"Mengapa? Aku sudah mencoba bersabar, namun nyatanya tidak bisa, tetaplah bersabar Yaren, tunggu saja saat waktu itu tiba, tapi... Tapi mengapa rasanya begitu sulit?" lirih Yaren lagi, seperti mendapatkan kekuatan saat Jovan berada di sampingnya, ia bisa menumpahkan seluruh rasa kecewanya terhadap Ayaz pada Jovan.


"Aku tidak tau bagaimana hubungan kalian sebenarnya, tapi... Yakinlah, Ayaz pasti punya alasan untuk melakukan itu." ucap Jovan, pria itu mengusap lembut pipi adiknya.


"Kau tau, aku merasakan bahagia sekaligus sakit saat bersamanya." ucap Yaren lagi. Yaren mengusap air matanya, "Dia mengikatku, tapi dia juga sulit sekali untuk kugapai."


"Yaren, kau pasti kuat!" Jovan langsung saja memeluk Yaren, tidak ada Ayaz di dekatnya, jadi bukan masalah kan jika ia melakukan itu, untuk sekedar memberikan kekuatan pada adiknya.


"Dia, sedikit berbeda, menikahimu juga butuh banyak pertimbangan sebelum dia memutuskannya, aku tidak bisa menceritakan bagaimana Ayaz, karena aku tidak berhak menceritakan kisahnya, biarlah dia sendiri yang menceritakannya padamu, seperti katanya, suatu hari nanti." ucap Jovan, berharap Yaren akan menerima perkataannya.


Aku tau, Ayaz tidak ingin kau mengenalnya dengan keburukan itu, meski betapa buruknya dia, betapa hitam hidupnya, dia tidak ingin kau percaya hanya dengan melihat dan mendengarnya, saat ini mungkin dia sedang berusaha menjadi yang terbaik di hadapanmu.


Kenali dia, maka kau tidak akan melihat sisi lain dari dirinya selain kebaikan, aku sudah merasakannya, bahkan meski kami bertengkar setiap hari pun, aku masih tetap menganggapnya orang baik.


Tunggu saja Yaren, aku berharap... Kau bisa menunggu sedikit lebih lama, sedikit lebih lama...


"Apa kau memikirkan sesuatu?" tanya Yaren, melihat tatapan kosong Jovan, Yaren lekas saja bertanya.


"Tidak ada!" jawab Jovan cepat.


"Apa kau memikirkan Ayaz?" tanya Yaren lagi, ia sedikit penasaran, bukankah tadi mereka sedang membahas Ayaz.


Jovan membulatkan matanya, "Apa? Bagaimana bisa? Kau tau, pria tidak memikirkan pria lainnya! Aisshh, yang benar saja!" jawabnya kesal.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2