
Disarankan jika anda berpuasa, maka bacalah saat sudah berbuka!
"Maafkan aku Ayaz!" lirih Yaren yang masih menangis sesegukan, berada di pelukan Ayaz meski benci tapi entah mengapa bagi Yaren malah menjadi sedikit menenangkan.
"Haaahh!" Ayaz menghempaskan napasnya kasar.
"Berbaringlah!" titah Ayaz. Kemudian pria itu menuntun Yaren untuk berbaring di ranjang, kali ini perlakuannya lembut tidak sekasar tadi. Mungkin menurut Ayaz, Yaren memang benar-benar ketakutan, sungguh benar-benar polos wanita yang baru saja dinikahinya ini.
Yaren menurut, entah karena masih ada ketakutan melihat tatapan mata Ayaz, atau mungkin dirinya juga terbawa suasana.
Ayaz mulai mengungkung tubuh Yaren, ditatapnya intens mata itu, mata yang tampak sembab karena keegoisannya. Seketika Ayaz merasa bersalah telah menjadi seorang pemaksa.
Tanpa meminta persetujuan Yaren, Ayaz mulai melayangkan ciuman di bibir ranum itu, mel*matnya lembut meski Yaren tidak membalas ciumannya. Pelan tangan itu memasuki ceruk leher istrinya, menahan tengkuk wanitanya, dan saat itu juga Yaren mulai memejamkan mata serta tanpa sadar membuka sedikit mulutnya.
Ayaz tidak membiarkan kesempatan itu menganggur begitu saja, dia semakin memperdalam ciumannya, memberikan sensasi dengan gelenyar-gelenyar yang tidak pernah Yaren rasakan sebelumnya.
Selama ini, saat Ayaz menyentuhnya hanya ada rasa ketakutan yang teramat menguasai dirinya, hingga saat menatap mata Ayaz saja nyalinya sudah menciut.
Yaren hanya memikirkan bagaimana caranya dia bisa lepas dari jerat seorang Ayaz, hingga tidak mengetahui ada hal luar biasa yang ia rasakan jika dirinya disentuh seperti malam ini.
Mata Yaren masih terpejam, badannya mulai menegang memberikan reaksi bahwa dirinya juga menginginkannya.
Ayaz menyusuri tubuh Yaren, memberikan beberapa tanda kepemilikan di hampir seluruh bagian leher jenjang dan da*a Yaren. Sejenak dirinya tersenyum bangga akan hasil perbuatannya.
Yaren menerima setiap sentuhan Ayaz, ternyata melakukan hal seperti ini bagai memabukkan, Yaren menyadari reaksi dari tubuhnya yang bahkan begitu terbuai.
Seharusnya aku menolaknya, bukan malah pasrah begini.
Batin Yaren dengan masih menutup kedua matanya.
Tangan Ayaz dengan lihai menyingkap baju Yaren, dan terlihatlah sesuatu yang baginya sangat menggairahkan.
__ADS_1
Ayaz mulai menyesap kedua gunung kembar Yaren yang pernah dikatainya rata itu, dalam keadaan penuh naf*u seperti ini ternyata ukuran bukanlah suatu masalah.
"Aahhhh!" de*ah Yaren, wanita itu bahkan menjambak kasar rambut Ayaz saking hebatnya sensasi yang dia rasakan, sungguh pengalaman pertama bagi Yaren, ternyata begini rasanya malam pertama.
"Yes Baby!" ucap Ayaz di sela-sela kegiatan panasnya.
Ayaz tersenyum bangga saat Yaren dilihatnya sudah blingsatan, tidak sia-sia selama ini penjelajahannya di dunia perb*kepan, kali ini dirinya bisa langsung mengamalkan ilmunya.
"Ayaz aku mau pipis!" keluh Yaren, membuka sedikit matanya, dilihatnya Ayaz yang masih mer*mas lembut kepunyaannya.
"Pipis saja sayang!" ucap Ayaz, dengan masih terus melancarkan aksinya.
"Tidak-tidak, aku mau ke kamar mandi!" ucap Yaren lagi.
Ayaz tidak membiarkan itu, tangannya beralih ke area sen***if Yaren, dibukanya kain penghalang itu, dan kemudian meraba sedikit bagian bawah Yaren yang ternyata sudah sedikit basah.
Ayaz tersenyum puas, nampaknya benar kalau Yaren memang baru pertama kali melakukan hal seperti ini dengannya, bahkan mungkin Yaren adalah wanita yang sebelumnya tidak pernah tersentuh mengingat begitu polosnya istrinya itu. Ayaz tersenyum puas, itu berarti bukankah dirinya mendapatkan barang yang sangat bagus, original!
"Emmhhh!" Yaren menahan desahannya, kala sesuatu memasuki bagian intinya, tangan Ayaz sudah melenggang masuk saja tanpa permisi pada rumah berharga Yaren.
"Ayaz!" pekik Yaren sedikit terkejut, ukuran yang tidak main-main. Yaren tidak bodoh-bodoh amat tentang sesuatu yang perkasa itu, karena dirinya pernah kuliah dan akan menjadi seorang dokter Obygn jika saja keberuntungan lebih berpihak padanya.
Melihat keterkejutan Yaren, Ayaz menjadi di atas angin, jelas saja kini dirinya tau mengapa miliknya bisa tumbuh berkembang sekekar ini, keturunan Itali memang tidak main-main soal ukuran.
"Mainkan dia!" titah Ayaz.
Yaren meneguk salivanya, bagaimana mungkin.
"Yaren!"
"Ii iya Ayaz."
__ADS_1
Yaren, dengan tanpa melihat Ayaz lagi, wanita itu mencoba memegang sesuatu milik Ayaz, tidak pas dalam genggamannya yang kecil ini, apa benar dirinya harus memasukkan itu ke mulutnya, tidak tidak, apa iya? batin Yaren berkecamuk menentang dirinya untuk melakukan itu.
Namun diluar dugaan, Ayaz menjambak rambutnya, mengarahkan benda itu pada mulutnya, dan dengan tatapannya Yaren tau Ayaz menyuruhnya untuk apa.
Akhirnya, dengan sedikit keyakinan dan lebih banyaknya ketakutan, Yaren berhasil memasukkan benda itu ke mulutnya, hanya setengah dari ukurannya saja yang bisa masuk melenggang di dalam, selebihnya Yaren angkat tangan.
"Aahhh, yes Baby, teruskan sayang!" racau Ayaz saat dirinya memaju mundurkan kepala Yaren dengan rambut yang masih dijambaknya, Yaren dengan wajah yang terpaksa menikmati permen miliknya.
Yaren memegang pinggul Ayaz, air matanya sudah keluar seketika dirinya tersedak karena tidak bisa menahan kesusahannya. Yaren melepas paksa kulu*annya.
"Ayaz, aku tidak kuat!" adu Yaren.
"Sekali lagi sayang, mainkan dia!" pinta Ayaz.
Yaren mengangguk, sudah konsekuensinya jika dirinya memutuskan untuk menikah dengan Ayaz, mau tidak mau hal seperti ini pasti akan sering mereka lakukan.
Dan sekali, Yaren mengulang kulu*annya, meski nampak kesusahan namun Yaren tidak bisa berbuat apapun selain melakukannya.
"Uhukk!" lagi lagi Yaren melepas paksa kepunyaan Ayaz, "Ayaz sudah, aku tidak kuat!" keluh Yaren lagi.
Benda sebesar itu, gila saja harus maju mundur cantik di mulutnya.
Ayaz mengangguk, dirinya menghempaskan lagi tubuh Yaren di ranjang, menarik paksa kedua kaki Yaren dan langsung merentangkannya.
Mengarahkan si perkasa kebanggaannya pada rumah berharga Yaren, Ayaz mengalami sedikit kesulitan kala milik Yaren memang masih begitu semp*t, apa lagi dengan kepunyaannya yang mempunyai ukuran tidak main-main sungguh hal yang bertolak belakang.
Hanya dengan memasukkan si perkasanya setengah saja air mata Yaren sudah mengalir, Ayaz menggelengkan kepalanya untuk mengabaikan kesakitan Yaren, bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini dirinya malah sesak melihat keadaan Yaren yang terlihat begitu menyedihkan.
Pemuda itu berbisik di telinga Yaren, "Aku mencintaimu Yaren, kau sudah menjadi milikku seutuhnya, jangan tinggalkan aku. Sayang, mungkin ini memang akan sedikit sakit, tapi percayalah aku akan membayarnya dengan cinta yang tak terhingga untukmu, tahan sebentar, sakitnya tidak akan begitu lama!" Ayaz mengecupi telinga Yaren sembari bagian bawahnya terus berusaha untuk menerobos masuk sebisanya.
Dan Jleb, meski tidak bisa sepenuhnya namun Ayaz merasa milik Yaren sudah sampai pada batasannya. "Aarrrggghhh!" erang Yaren mengiringi penyatuan keduanya.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...