
"Ayaz..." Yaren mengurai pelukan Ayaz, ia hendak melihat wajah suaminya itu dengan jelas.
"Ayaaz..." Yaren meraba wajah itu, wajah yang masih sama seperti terakhir kali Ayaz menghabiskan malam bersamanya setelah paginya ia tidak lagi menemukan Ayaz. Sekaligus wajah yang juga sangat dirinya rindukan.
"Mengapa bisa? Kau, kau tidak ada luka apapun di sini, mengapa bisa?" tanyanya heran, pagi tadi ia bahkan mengantar kepergiaan Ayaz dengan wajah yang tidak bisa lagi dirinya kenali saking hancurnya.
"Aku Ayazmu!" ujar Ayaz, ia kembali memeluk Yaren, "Sudah kukatakan aku tidak mungkin meninggalkanmu!"
Yaren menangis saat Ayaz mengatakan itu, kemarin bahkan dia masih meratapi Ayaz, mempertanyakan sebuah janji yang Ayaz katakan padanya, bahwa pria itu tidak akan pernah meninggalkannya.
Lalu, Yaren menghapus air matanya, dengan menggebu ia berkata, "Ayaz maafkan aku, aku tidak menangis, kau jangan kesal padaku, kau jangan pergi lagi, aku berjanji aku tidak akan menangis!" ucapnya terbata di sela isaknya.
"Tidak apa sayang, aku tau kau sangat menyayangiku, kau sangat takut kehilanganku, maafkan aku yang telah membuatmu menangis, maafkan aku Yaren!" ucapnya.
Keduanya kembali berpelukan lagi, Rymi langsung saja diambil alih oleh Marco, wanita itu ditarik paksa oleh Marco untuk segera masuk ke rumah sebelum merusak moment haru Ayaz dan Yaren.
"Apa sih Daddy?"
__ADS_1
"Kau jangan cemburu karena tidak ada Samudra di sini, Daddy sudah tau kau tidak akan menyukai drama budak cinta, jadi lebih baik menghindar, jangan rusak acara saling rindu mereka." jelas Marco.
"Ih, siapa juga yang mau ganggu? Daddy ini selalu berprasangka buruk!"
"Jangan pikir Daddy tidak tau Rymi, Daddy bahkan tidak bisa mempercayainya kalau kau bisa terharu menyaksikan itu tanpa tidak ada niatan untuk mengganggu!" ucap Marco, dia sudah waspada, karena sedari tadi di mobil Rymi tidak berhenti menggoda Yaren.
"Daddy ini ternyata lebih memihak Yaren dari pada aku? Aku mau berhenti saja jadi anakmu!" Rymi menghentakkan kakinya kesal, ia memilih untuk segera menuju kamar, padahal itu adalah kamar satu-satunya di rumah itu.
"Rym itu kan kamar Ayaz!" cegah Marco setengah berteriak.
"Memangnya aku peduli, suruh saja anak dan menantu Daddy yang sangat Daddy sayangi itu tidur diluar!" jawabnya sembari melongos pergi, Rymi bahkan mengunci pintu kamar Ayaz, dia lelah karena seharian beraktifitas, hanya ingin langsung beristirahat supaya besok bisa kembali segar untuk menjalani hari.
Tapi apalah daya, Sam memang belum saatnya mengetahui kalau Ayaz masih hidup.
"Jo!" seru Marco saat melihat Jovan yang keluar dari dapur.
"Ada apa?" tanya Jovan.
__ADS_1
Jovan memang ikut dengan Ayaz, dia juga berencana untuk menginap di rumah hutan ini nantinya, dia melihat Marco hanya sendiri ke mana gerangan Rymi, dan bagaimana keadaan Yaren saat sudah bertemu dengan Ayaz, mengetahui kalau Ayaz masih hidup.
"Mana Rym?" tanyanya lagi.
"Dia marah!" jawab Marco.
"Marah kenapa?"
"Haaahh!" Marco menghempaskan napasnya berat, "Biasalah, drama wanita hamil, seperti hanya dia saja yang pernah hamil!" gerutu Marco.
Jovan mengangguk, "Lalu bagaimana Yaren?" tanyanya.
"Mereka sedang berpelukan, ayo kita turun lewat jalan belakang saja, harus memindahkan beberapa barang yang ada di mobil." ajak Marco.
Jovan mengangguk lagi, kemudian mengikuti langkah Marco.
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....