
Jovan masih memantau kasus Ali Yarkan, anak buahnya mengabarkan kalau ada pergerakan yang dilakukan Rymi, wanita yang juga disebutnya sebagai wanita gila itu ternyata sudah bertindak untuk mengamankan nama Ayaz.
Seharusnya ia menyadari bahwa mungkin dirinya hanya terlalu berlebihan tentang menolong ayah. Mereka mempunyai solidaritas yang tinggi.
Orang yang tidak pernah bertindak kejahatan sama sekali seperti dirinya memang rasanya sedikit sulit untuk menerima bahwa nyatanya diri ini sendiri yang melakukan kejahatan itu.
Ada rasa sesal yang teramat namun mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.
Tampaknya Rymi juga akan mengaitkan kasus Ali Yarkan pada kasus hilangnya Sian Huculak. Jovan mengetahui, mungkin sebentar lagi negara ini akan heboh tentang penemuan mayat di sebuah sungai.
Jovan memijit pangkal hidungnya, rasanya penat sekali, kepalanya hampir mau pecah saat memikirkan betapa kriminalnya yang dilakukan oleh Marco, Ayaz dan Rymi. Dan lebih menyedihkannya lagi, dirinya juga ikut andil dalam betapa kriminalnya yang mereka lakukan.
Apa nanti yang akan dilayangkan publik saat mengetahui bahwa pengusaha terpandang sepertinya melakukan hal mengerikan seperti itu.
"Ayaz sialan! Benar-benar sialan, kau sudah membuat hidupku berubah!" berangnya menggerutu.
Ya, harus Jovan akui, semenjak mengenal Ayaz hidupnya benar-benar berubah. Yang semulanya bersih tanpa noda namun kini begitu banyak coretan hitam yang memenuhi hidupnya.
Hidupnya yang semula datar tidak mengenal akan dendam dan selalu saja bisa mengikhlaskan, malah dengan gilanya iya jatuh pada lubang hitam itu.
__ADS_1
Memang tidak sepenuhnya salah Ayaz, tapi Jovan juga mengakui kalau semua itu bisa terjadi karena dirinya yang awalnya melihat hidup dari seorang Ayaz, memicu perubahan pada dirinya, yang tiba-tiba merasa semakin yakin dirinya perlu untuk meyelamatkan Yaren, dan juga membalas dendam.
"Kakak sedang apa?" terdengar suara dari belakang, ternyata Cemir sudah berada tak jauh darinya.
Gadis itu menghampiri sembari tangannya memeluk beberapa buah buku, memandangnya dengan penuh tanda tanya.
"Kapan kau kembali?" tanya Jovan, tadinya adiknya itu sedang tidak berada di rumah.
Jelas saja Cemir menanyakan itu, wajah Jovan yang memang terlihat sangat lelah, pemikirannya terus saja tertuju pada kasus Ali Yarkan, ia terlalu takut bagaimana jika nanti Ayaz sampai ketahuan, dia takut Ayaz akan menyeret namanya dan jika pun Ayaz tidak menyeret namanya, ia juga bingung karena merasakan teramat kasihan pada suami adiknya itu.
"Baru saja! Ada apa?" tanya Cemir.
Apakah Kakak memikirkan Yaren?" Cemir menatap kakaknya itu penuh selidik.
"Sedikit!" jawab Jovan.
Hemmm, Cemir semakin mendekati Jovan, gadis itu duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari Jovan. Ada sebuah pemikiran yang sudah lama dirinya pendam, yang kini begitu ingin dirinya ungkapkan.
"Kayaknya enak ya jadi Yaren, suaminya juga lumayan kaya meski pernikahannya nggak direncanain!" puji Cemir yang memang tidak tau menahu keseluruhan cerita Yaren. Ia benar-benar tidak mengetahui siapa Ayaz dan masih saja menganggap kalau Ayaz adalah orang baik.
__ADS_1
Jovan masih menyimak, pria itu menatap lurus ke depan, berhenti pada sebuah ikan hias yang berenang lembut di aquarium.
"Keturunan Itali, bule ternyata!" lanjut Cemir dengan semangat sekali menyebutkan.
"Aku udah ngerasa sih, pas liat Ayaz pertama kalinya, orangnya baik meski nggak banyak bicara!"
Cemir seolah senang saja berbagi pendapat bagaimana tentang Ayaz pada Jovan, sementara Jovan menatap adiknya itu kasihan.
Cemir tidak tau betapa susahnya Yaren, harus mempunyai suami yang nyatanya adalah seorang buron.
"Apa menurutmu Ayaz begitu?" tanya Jovan.
"Kenapa?" Cemir bertanya balik, melihat tatapan ragu di wajah Kakaknya.
"Tidak baik terlalu memuji!" ucap Jovan.
"Aku tidak memuji, aku berkata sebenarnya!" ucap Cemir tak kalah.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...