
"Nona!" pelayan menyapa lagi Yaren yang tampak termenung, jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Yaren masih belum tidur, dia akan menunggu kedatangan suaminya.
Dalam hatinya selalu saja berharap, Ayaznya akan pulang, Ayaznya akan kembali dan menanyakan mengapa dirinya tidak tidur.
"Aku berjanji, tidak akan bertanya apapun saat kau datang! Aku tidak perlu tau kau dari mana? Mengapa pulang selarut ini, tidak Ayaz... Aku berjanji tidak akan menanyakannya! Aku hanya minta kau pulang, kita tidur bersama, aku ingin memelukmu!"
"Aku tidak bisa tidur Ayaz, aku ingin bermanja denganmu!"
"Ayaz..."
"Nona, sebaiknya Nona tidur, Tuan tidak akan menyukai ini!"
"Tidak apa! Aku suka berdebat dengan Ayaz, suamiku itu pasti akan memaklumi jika aku bilang aku merindukannya!" jawab Yaren, matanya tidak berhenti menatap pintu utama, berharap Ayaz akan datang.
Namun, jangankan Ayaz, baik Marco maupun Rymi tidak ada yang pulang ke rumah itu. Yaren benar-benar merasa sesak, mengapa semakin ia menunggu maka rasanya semakin akan menemui kekecewaan.
"Nona!"
"Kalau kalian ingin tidur, tidur saja! Aku akan menunggu suamiku pulang!" ucap Yaren lembut, matanya memang sudah memanas karena mengantuk, namun sebisa mungkin ia tahan karena Ayaznya harus pulang.
"Bagaimana ini?" tanya pelayan pada rekan lainnya.
"Aku tidak berani menghubungi Tuan Marco!"
__ADS_1
"Kau pikir aku berani?"
"Nona Rymi?"
"Itu lebih mengerikan!"
"Ya Tuhan, aku tidak tau bagaimana harus menghadapi Nona Yaren, dia benar-benar keras kepala!"
'Jelas saja keras kepala, kalau aku jadi dia juga akan melakukan hal yang sama, kalian tau bagaimana sakitnya kehilangan' seorang suami? Hampir..."
"Kau bilang apa? Hei dengar, suamiku masih hidup, mengapa kau mengatakan aku kehilangan suami? Sebentar lagi dia pasti pulang, lebih baik kau yang pergi, sana!" usir Yaren, suasana yang sepi membuat telinganya mudah terusik, dengan jelas ia mendengar pelayan itu mengasihaninya.
"Maafkan saya Nona!" ucap sesal pelayan itu.
"Maafkan saya Nona!" diiukuti oleh pelayan lainnya.
"Kalian tidak dengar! Pergi!" usir Yaren lagi.
"Izinkan kami untuk tetap menemani Nona, kami berjanji tidak akan bicara lagi!" ucap salah satu pelayan.
Tidak ada sahutan dari Yaren, matanya kembali menatap pintu utama, benar-benar berharap Ayaz akan pulang.
Sementara itu, Marco yang baru saja dikabari oleh orang suruhannya kalau ternyata Yaren sudah mengetahui tentang kematian Ayaz, langsung melaporkan semua itu pada Jovan, mereka sedang mengurus sesuatu jadi tidak mungkin untuk pulang ke rumah, dan berharap Jovan bisa menanganinya sebentar untuk membantu, lagi pula Jovan adalah kakak kandung Yaren, jadi Marco bisa mempercayai itu. Tak lupa dirinya juga meminta maaf pada Jovan karena kelalaian para pekerja di rumahnya. Mendengar itu Jovan menggerutu kesal sembari langkahnya dengan cepat menuju mobil untuk segera menemui Yaren di mansion.
__ADS_1
Jovan sampai di mansion Marco sekitar jam setengah tiga dini hari, baru saja penjaga membukakan pintu dirinya sudah melihat Yaren keluar dari mansion sembari dipegangi oleh pelayan.
"Lepaskan, aku hanya ingin menemui suamiku!" samar Jovan mendengar teriakan yang membuat hatinya sungguh sakit.
Segera ia memarkirkan mobilnya, langsung turun dan menemui Yaren. Jovan memeluk adiknya itu, mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
"Kakak... Kakak... Apa kakak juga mendengarnya, katakan padaku bahwa semua itu bohong!"
"Kak Jovan, aku mohon padamu, katakan padaku bahwa semua itu bohong!"
"Yaren, kau harus tetap tenang dan tegar, aku mohon!" Jovan menciumi puncak kepala Yaren, "Tenangkan dirimu! Ini Kakak sayang, peluk Kakak, menangislah kalau kau mau!"
"Kakak... Aku sedang menunggu Ayaz pulang, tapi mengapa suamiku tidak juga pulang, Kakak... Katakan padaku, Ayaz pasti akan pulang! Hiks hiks, Kak Jovan, katakan suamiku itu pasti pulang kan!"
"Yaren... Tenang sayang, tenangkan dirimu!" Jovan menggendong tubuh Yaren ala bridal style, ia akan membawa Yaren ke kamar.
"Kakak, jangan ke kamar, aku ingin menunggui Ayaz!" ucapnya di sela tangis.
"Iya, kita ke kamar, kita tunggu di kamar saja!" pinta Jovan mencoba menenangkan.
"Kakak, benarkah? Apa itu artinya Ayaz akan pulang?" ucap Yaren bagai mempunyai secercah harapan saat mendengar ucapan Jovan yang menyuruhnya menunggu di kamar saja.
"Yaren, maksudku..."
__ADS_1
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....