Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Pengakuan Raisa.


__ADS_3

"Jadi, apa Samudra?"


"Ada sesuatu yang ganjal, aku sedang menyelidikinya saat ini." ucap Marco.


"Kau menyelidikinya?" tanya Ayaz heran.


"Kenapa?" tanya balik Marco.


"Tuan tidak perlu bertindak sampai sejauh ini."


"Ayaz, aku ini tidak punya pekerjaan, ku rasa membantumu kali ini juga tidak buruk." ucap Marco beralasan.


"Apa... Jika itu karena darah yang aku donorkan, sungguh itu bukan apa-apa, sejujurnya aku lebih senang jika kau tetap bersikap seperti biasa, tidak suka peduli akan sesama." ucap Ayaz. Matanya menangkap keanehan pada diri Marco, beberapa hari ini Marco rasanya memang berbeda.


.


"Aku tidak bisa..." lirih Marco pelan, sebenarnya tanpa sadar ia mengatakan itu, tiba-tiba saja dadanya menjadi begitu sesak saat Ayaz menolaknya.


"Ya? Kenapa?" tanya Ayaz.


Marco tertunduk, "Di dunia ini, ada kalanya kita harus melakukan kesalahan meski kita tidak ingin, atau tanpa kita sadari! Aku hanya tidak ingin menambah daftar kesalahanku lagi tentang apa yang seharusnya aku perjuangkan!" ucapnya, masih lirih, dalam hatinya Marco begitu kacau, takut saja Ayaz benar-benar tidak bisa menerimanya.


"Mengapa kau berubah sensitif? Tidak biasanya! Hei Bung, kau membingungkan!"


"Apa kentara sekali?" tanya Marco.


"Apanya?"


"Hemmm, tidak apa! Ah ya, orang itu berada di markas saat ini, dia mengatakan istrinya Sian yang menyuruhnya melakukan itu, dia ingin membunuh Samudra, bukan kau!" jelas Marco lagi, kembali ke topik, karena jika masalah perubahan dirinya dipermasalahkan, bisa-bisa Ayaz akan mengetahui kalau dirinya adalah ayah kandung anak itu hari ini.


"Kau bilang apa? Membunuh Samudra? Tidak masuk akal!"


"Masuk akal! Kita tidak pernah tau apa yang sudah terjadi selama empat tahun ini!"

__ADS_1


"Apa menurutmu..."


"Aku akan mencari tau, dan juga... Sian, akan kau apakan dia?" tanya Marco. Jika saja Ayaz menyuruhnya untuk membunuh pria itu, ia akan sangat senang hati melakukannya.


"Kau tau, aku sedikit lemas untuk bermain-main, biarkan saja dia, berikan dia makanan basi jika dia lapar!" jawab Ayaz.


"Hemmm!" Marco mengangguk.


...***...


Rymi merasakan letih di seluruh tubuhnya, menyetir selama lima jam rasanya begitu melelahkan.


Ya, dirinya bahkan tidak sempat menjenguk Ayaz saat pria itu dinyatakan bangun, baginya bukan saatnya merayakan bahagia atas bangunnya Ayaz, ia tidak tau apa yang akan terjadi beberapa hari atau bahkan jam kemudian, Ayaz... Nyatanya pria itu masih tetap kekurangan darah.


Mungkin tubuh itu terlalu kuat, mungkin jika orang lain yang menghadapi kondisi seperti Ayaz, bolehkh Rymi sungguh yakin tidak akan ada yang bisa bertahan seperti Ayaz? Ya, bagi Rymi, Ayaz sudah bekerja keras menaruhkan kesehatannya, jadi Rymi tidak akan menyia-nyiakan itu.


Matanya meneliti setiap bangunan, ia sudah sampai di komplek perumahan yang terletak di sebuah desa, desa ini cukup ramai meski belum seramai kota, sepetinya komplek perumahan ini adalah komplek yang diperuntukkan untuk para pekerja pabrik, mungkin semacam perumahan subsidi, ada sebuah pabrik mebel yang cukup besar di desa ini, Rymi hanya menebak mungkin saja begitu.


Rymi memberhentikan mobilnya tepat di depan bangunan itu, ia akan turun untuk bertanya pada orang di sekitar, siapa saja yang barang kali bisa membantunya.


"Permisi... Apa rumah ini kosong?" tanya Rymi. Pada seorang pemuda yang sedang berjalan hendak melewatinya.


"Apa kakak dari kota?" tanya balik pemuda itu.


"Eh!" Rymi canggung, lalu menjawab, "Iya!"


"Apa Kakak adalah orang yang akan membeli rumah ini?" tanyanya lagi.


"Ahha, bukan bukan, saya ke sini ingin menanyakan apa benar pemilik rumah ini adalah Dennis Aksan, saya sedang mencarinya?"


"Oh begitu! Memang benar. Tapi, Pak Dennis baru saja pindah sekitar dua minggu yang lalu, dan rumah ini memang rencananya akan Pak Dennis jual, saya pikir Kakak adalah orang yang akan membeli rumah ini."


Rymi tampak murung saat mendengar itu, tatapan matanya kosong, seolah dihempas batu besar di dadanya, haruskah harapannya hancur begini?

__ADS_1


"Kak..." panggil pemuda itu. Seketika menyadarkan Rymi dari termenungnya.


"Ya!"


"Apa Kakak benar-benar ingin bertemu Pak Denis?"


Rymi mengangguk, "Apa kau tau dia pindah ke mana?" tanyanya.


"Saya tidak tau, tapi saya punya nomor ponselnya, Kakak bisa menghubungi Pak Dennis jika benar-benar sangat butuh." ucap pemuda itu.


"Ya, saya benar-benar membutuhkannya, sungguh!" ucap Rymi antusias, semangatnya kembali menyala.


Lalu pemuda itu memberikan nomor ponsel orang yang bernama Dennis Aksan tadi pada Rymi, mereka juga berkenalan, pemuda itu tak lupa mengatakan kalau Rymi cantik dan meminta nomor ponsel Rymi, Rymi terpaksa harus memberikannya, dia terlalu senang dan menganggap dia sudah berhutang budi pada pemuda itu. Setelah pemuda itu pergi, Rymi bergegas menelpon seseorang yang bernama Dennis Aksan itu, baginya ia harus segera mengadakan janji temu.


...***...


"Aku, tidak tau siapa ayah dari bayi ini Pa!" jujur Raisa. Ia sudah mau sedikit terbuka, meskin Argantara juga masih sedikit bingung dengan penjelasan putrinya itu.


"Raisa, jujur saja, Papa hanya ingin tau Nak, perutmu semakin hari akan semakin membesar." ucap Argantara lembut, Raisa kembali terisak, Wana di sampingnya mengusap pelan lengan putrinya untuk membuatnya tenang.


"Raisa, Raisa tidak ingat Pa, saat paginya aku sudah berada di kamar hotel, aku begitu berantakan, kepalaku sangat berat, tapi pakaianku masih utuh saat itu." jelas Raisa, hari itu adalah hari yang paling mungkin yang menyebabkan dirinya bisa berakhir berbadan dua seperti ini. Saat itu dirinya juga merasa sedikit sakit di bagian intinya, namun sayang sekali dia membiarkan itu, dan pulang dengan tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Kau tidak mengecek cctv?" tanya Argantara.


Raisa menggeleng pelan, "Maafkan aku Pa!" ucapnya, hanya itu yang bisa dirinya katakan.


"Apa nama hotelnya, kamar nomor berapa, tanggal berapa malam itu?" tanya Argantara cepat.


"Aku tidak ingat Pa! Aku hanya ingat, malam itu aku diajak oleh Tiffany ke sebuah klub, tapi aku rasa aku tidak meminum alkohol malam itu, dan aku juga tidak tau entah kenapa aku bisa berakhir di kamar hotel itu? Paginya saat kuhubungi, dia mengatakan malam itu aku tidak enak badan dan pamit pulang duluan!" jelas Raisa.


"Kurang ajar!" umpat Argantara, ia ingin menyalahkan Raisa, tapi sayangnya tidak bisa, mungkin saja putrinya itu juga dijebak, tapi siapa yang berani melakukan itu pada putrinya.


"Ini jelas-jelas sebuah jebakan!" Argantara sangat marah, ia menoleh lagi pada putrinya, "Kau! Entah terbuat dari apa otakmu itu, bagaimana bisa kau tidak tau, tidak merasa, bagaimana bisa kau sebodoh itu, bagaimana haaaahhh?" tanya Argantara berteriak.

__ADS_1


__ADS_2