
Harun mengetahui kalau Raisa pingsan dan sedang mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit. Untuk mendapatkan kembali citranya ia pun harus menguatkan langkah kakinya menuju ke sana.
Mau tidak mau, meski tanpa cinta dan benar-benar terpaksa namun Raisa adalah istrinya, masih menjadi istri dari seorang pengusaha sukses bernama Harun Aji Suryono.
Banyak wartawan berkerumun di depan ruang rawat Raisa, Harun memejamkan matanya, ia sudah bisa membayangkan sebentar lagi dirinya pasti akan menjadi sorotan.
Harun menuju kerumunan itu, dengan langkah pasti ia mendekat dan benar saja, keberadaannya langsung saja disadari oleh para pencari berita.
"Tuan Harun!"
"Tuan Harun, bisa minta waktunya sebentar?"
"Tuan Harun beri kami sedikit tanggapan, apa anda benar-benar mencintai Nona Raisa?"
"Apa benar pernikahan anda dan Nona Raisa hanya pernikahan bisnis?"
"Apa saat ini Nona Raisa sedang hamil?"
"Apakah anda tau permasalahan besar pada keluarga Argantara? Tolong berikan tanggapan?"
"Tuan Harun..."
"Tuan Harun..."
Langkah kaki Harun berhenti, orang-orang ini tidak akan berhenti jika dia terus saja mengabaikan. Harun mencoba tersenyum menanggapi dan berkata, "Saya ingin melihat keadaan istri saya terlebih dahulu!" Harun mengatupkan kedua tangannya, "Masalah yang terjadi kali ini bukan hanya tentang keluarga Suryono, tapi tentang dua buah keluarga, jadi sebelumnya saya harus minta maaf, saya tidak bisa memberikan klarifikasi apapun, karena masalah ini bukan hanya menyangkut tentang saya."
Harun lalu meninggalkan kerumunan dan masuk dengan tenang menuju ruang rawat Raisa.
Terdengar hingar dari luar karena ketidakpuasan wartawan dengan jawabannya. Namun, mau bagaimana lagi, Harun memang harus mencari aman.
Ia melihat Raisa yang terbaring di ranjang rumah sakit, gadis itu sebenarnya manis tapi percayalah wajah semacam itu bukan lagi seleranya, Raisa baginya lebih tepat menjadi seorang adik.
Harun mendekat, diirnya harap Raisa cepat sadar, sehingga ia bisa membicarakan sesuatu pada gadis itu.
__ADS_1
Tak berselang lama, Raisa menggeliat, Harun akan mempersiapkan diri untuk kondisi yang canggung nantinya.
"Asshhh..." Raisa memegangi kepalanya yang masih terasa sakit, "Padahal aku tidak berharap akan bangun." gumam Raisa yang masih belum menyadari keberadaan Harun.
"Kau sudah sadar! Baguslah!" ucap Harun. Ia duduk dengan santai di sofa dekat ranjang.
"Oo oomm!" gagap Raisa.
Ia tidak tau harus memanggil Harun apa, tadi saat di pernikahan mereka, keduanya bahkan jarang sekali terlibat pembicaraan, Raisa hanya diam karena kesedihannya harus menikah dengan Harun dan meninggalkan harapannya pada Jovan, sementara Harun, ia yang memang seakan terpaksa menikah itu bahkan tidak peduli sama sekali.
"Hei, aku tidak setua itu ya!" protes Harun, wajahnya yang terawat ini apa iya harus rela saja dipanggil Om, apa lagi yang memanggilnya itu sekarang adalah istrinya, yah meski mungkin sebentar lagi juga akan dirinya ceraikan.
"Ahh maaf, maksudku..."
"Panggil Tuan!" titah Harun.
"Tuan?" heran Raisa, apa pria ini sudah tidak waras, istri sendiri harus memanggil sang suami dengan sebutan Tuan, dan juga apa dia serendah itu harus memanggil orang lain dengan sebutan semacam itu, ini gila, mati saja kau! Batin Raisa memberontak.
"Harun!" ucap Raisa acuh, ia tidak peduli jika Harun marah padanya, dia tidak akan hormat, jika Harun tidak mau dipanggil Om, seharusnya pria itu tidak protes dia memanggilnya dengan nama.
"Sudahlah perihal panggilan saja berdebat, lagi pula apa kau tidak sadar umur, kau itu sudah tua meski masih perjaka tapi kau itu tetap saja sudah bangkotan!" ketus Raisa, ia benar-benar tidak peduli.
"Dasar bujang tua!" umpat Raisa bergumam.
"Kau... Jal*ng!" mulut Harun ini, seharusnya tidak diragukan lagi akan kepedasannya, itu sudah sangat paten.
"Kau.. " Raisa balas memberang, pria tua itu benar-benar menaikan emosinya, apa lagi dengan kondisi dirinya yang sedang kelaparan ini, Harun benar-benar mau mengajaknya bergelut.
"Aku berkata kenyataan, kalau bukan ja*ang, lalu kenapa kau bisa hamil tanpa suami seperti ini?" skak! serangan mulut yang benar-benar tepat sasaran.
Raisa ingin menjawab, namun ia tidak tau harus menjawab apa, ia mengalihkan pandangannya... Begitu malas menatap wajah menyebalkan Harun.
"Mau apa kau ke sini?" tanya Raisa langsung. Nadanya ketus sekali.
__ADS_1
"Yang jelas bukan untuk berdebat denganmu, dasar gila!" umpat Harun lagi.
"Sudahlah, aku tanya, mau apa kau datang ke sini?"
"Aku bisa membebaskanmu, tapi dengan satu syarat!" Harun juga, ia langsung to the point tujuannya menemui Raisa.
"Apa?" tanya Raisa, meski ia tidak yakin, namun bukankah dirinya juga tidak memiliki cara lain, otaknya benar-benar mengalami kebuntuan dalam berpikir, jika ia tidak segera keluar dari sini maka kematian akan lebih cepat menemuinya.
"Kita harus bercerai, kau harus membersihkan namaku, kau katakan pada semua orang kalau keluargamu lah yang menjebakku! Lagi pula, bukankah aku berkata sebenarnya, bukankah apa yang terjadi pada kita adalah karena aku di jebak." jelas Harun.
"Sialan!" Raisa menatap sengit Harun, jadi tujuan pria tua ini ke sini hanya untuk membuat keadaannya semakin terpojokkan. Dasar licik! Batin Raisa.
Tidak, aku tidak bisa melakukannya, bagaimanapun pengakuan semacam itu akan membuat Papa semakin sakit, aku tidak bisa, meski pun aku bisa melakukannya tapi tidak, aku bahkan belum bertemu dengan Papa, belum sempat mengatakan maaf padanya, dan apa ini? Aku sudah mau menambah sakit dk hatinya.
"Bagaimana Nona Raisa Kharunia?"
"Apa anda bersedia?"
Harun dengan senyum devilnya, dia sudah berjanji pada keluarganya, akan mengembalikan nama baik yang sudah susah payah keluarganya bangun itu, tidak akan ia biarkan hancur hanya karena pernikahan konyolnya dengan Raisa.
"Aku bisa membawamu keluar dengan tenang dari rumah sakit ini, lalu kau harus membuat klarifikasi dalam bentuk sebuah vidio, bahwa keluargamu adalah biang masalahnya."
"Katakan pada dunia yang kejam ini, kau... Dan keluargamu, yang merancang pernikahan konyol ini, katakan bahwa keluarga kami adalah korban penipuan, bagaimanapun kau harus menjadi tumbalnya, nama baik keluargaku harus kau kembalikan!" ucap Harun dengan seringainya.
Raisa menggeleng, tidak... Dengan membuat klarifikasi semacam itu, justru akan semakin menghancurkan hidupnya, hidup keluarganya akan hancur saat itu juga. Raisa menyesali mengapa waktu itu ia tidak bertekad untuk menggagalkan rencana pernikahan ini, jika sudah begini siapa yang akan bertanggung jawab, sungguh Raisa tidak mampu jika dibebankan dengan masalah yang begitu berat seperti ini.
"Buat klarifikasi, atau... Pernikahan konyol ini akan menjadi ternding topik karena aku yang terpaksa harus melaporkan keluarga kalian pada pihak kepolisian!"
"Tidak, jangan... Jangan lakukan itu, jangan... Jangan lakukan, aku mohon!" seketika Raisa langsung saja menatap Harun penuh harap.
"Heh, seharusnya kau bersyukur aku masih memberikanmu pilihan semacam ini, jadi... pikirkan baik-baik dan kuharap kau tidak menyia-nyiakan kebaikanku ini!" ucap Harun terdengar acuh dan mengerikan.
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...