
"Hei! Kau pikir dengan tidak adanya orang lain di sini, kau bisa bebas berteriak?" sipir penjaga meneriaki Amla, dia sama sekali tidak peduli wanita yang berada di balik jeruji besi itu pernah menjadi orang kaya nomor lima di negaranya.
"Sialan kau!" Amla memberang, "Kalian semua sudah ditipu oleh Ayaz, baru saja pria itu datang ke sini menemuiku, dia bahkan tertawa atas ketidak becusan kalian menangkapnya!"
"Dia ini bicara apa? Sudah seperti orang gila, orang yang sudah mati di kiranya apa bisa bangkit dan lalu menemuinya?" tanya sipir penjaga yang lainnya.
"Entahlah, mungkin mentalnya terguncang karena tidak bisa menerima kenyataan hidup!" sahut yang lainnya.
"Aku pernah mendengar dari pak kepala, katanya dia ini pernah menyiksa Ayaz Diren, entah ada keterlibatan apa dia ini, menyalahkan Ayaz, padahal Ayaz tidak ada hubungan apapun tentang kematian suaminya!"
"Hei! Apa kalian bilang, beraninya mengatakan itu! Dia itu pembunuh yang sebenarnya, dia memiliki dendam padaku dan juga suamiku!" teriak Amla lagi, ia tidak terima saat orang-orang tidak lagi mempercayainya.
"Entah Ayaz Diren yang mempunyai dendam terhadapmu, atau dirimulah yang mempunyai dendam padanya!" ucap penjaga itu meladeni lagi.
"Sialan kalian! Kalian akan menyesal karena tidak mempercayainya!" kesal Amla.
"Sepertinya kita harus mengusulkan tes kejiwaan untuk wanita ini, aku merasa tidak yakin kalau dia baik-baik saja!"
"Benar! Barangkali dia memang mengalami gangguan mental!"
"Setuju!"
...***...
Ting tong!
__ADS_1
Seseorang mendengar bel yang berbunyi dari luar apartemennya, dengan semangat dia menuju ke sana untuk membukakan pintu.
Jelas saja, perutnya sudah lapar sedari tadi, sejak satu jam lamanya ia menunggu kurir mengantar makanan yang dipesannya via online.
Maklumlah, Wana tidak begitu fasih berbahasa Inggris, jadi dia tidak percaya diri jika makan di luar atau memesan makanan via offline.
Ceklek!
Matanya membulat kala melihat siapa yang datang bukan kurir yang sedari tadi dirinya tunggu melainkan salah satu orang yang sangat dirinya hindari.
Jauh-jauh dia mengungsi ke London hanya untuk bersembunyi, namun sayangnya mengapa keberadaannya bisa cepat sekali di temukan.
"Selamat malam Nyonya Wana?" ujar Harun menyapa dengan bengisnya. Yah yang datang kali ini adalah Harun, sejak beberapa hari ini dia memang menugaskan orang-orangnya untuk mencari keberadaan Wana, wanita yang dianggapnya telah menipu keluarganya, setelah orang suruhannya menemukan keberadaan Wana, tanpa banyak basa-basi lagi dia terbang menuju London untuk menemui sendiri wanita itu. Harun berencana akan menyeret sendiri biang masalah itu.
"Sepertinya anda terkejut? Bukankah seharusnya tidak, dengan uang apapun bisa orang kaya lakukan, termasuk menemukan seekor tikus yang sedang bersembunyi!" sinis Harun.
"Kau tidak bisa menyalahkanku, bukankah kau sendiri yang menyetujuinya?" kilah Wana.
"Oh ya? Namamu sedang viral di negaramu, apa kau tidak berniat menjumpai fans-mu?"
Wana menggeleng, "Bajingan ini!" umpatnya.
"Kau juga pasti sudah mendengarnya, bahkan anakmu itu... Membeberkan sendiri fakta bahwa kau lah yang bersalah, merencanakan perjodohanku dengannya!"
"Tidak! Tidak mungkin Raisa melakukan itu!" sangkal Wana, dia memang mendengar berita itu, namun sampai hari ini pun tentunya ia tidak percaya Raisa bisa melakukan itu terhadapnya.
__ADS_1
"Kau yakin?"
"Apa kau ingin mendengar pengakuannya langsung?" tanya Harun.
"Kita bahkan pernah duduk bersama dalam satu meja makan, bagaimana mungkin kau mengatakan perjodohan itu adalah paksaan?"
"Kau akan menjelaskannya di kantor polisi nanti, aku menunggu sangkalanmu ini di sana, hingga kau benar-benar tidak bisa berkutik lagi, bahwa kau dan Dandi memang benar adalah dalang dibalik penipuan ini?" ucap garang Harun.
"Raisa!" panggil Harun pada Raisa yang teryata juga hadir dirinya bawa.
Raisa berjalan mendekat, memperlihatkan dirinya pada Wana, ia menatap Wana penuh kebencian.
"Raisa! Bagaimana bisa kau melakukan ini pada Mama?" tanya Wana.
"Seperti sebuah permainan, anggap saja kita sedang bertarung untuk bertahan hidup, jika aku tidak memakan Mama, bukankah Mama juga akan memakanku?"
"Mama sendiri yang telah mengajarkan aku bagaimana cara untuk bertahan hidup seperti itu, aku hanya mengamalkan apa yang diajarkan Mama selama ini, apa aku juga patut disalahkan?"
"Raisa, benar-benar kamu!" berang Wana.
"Aku sudah membuktikan apa yang sempat Mama katakan padaku waktu itu..." Raisa menjeda ucapannya, ia melangkah semakin mendekat pada Wana, "Sebelum kita berpisah bukankah Mama pernah meragukan bagaimana aku akan hidup? Bukankah, tidak ada lagi yang tersisa dari diri kami? Beginilah hidupku... Aku bisa membuktikan bahwa aku bisa bertahan, dan pilihanku yang jatuh pada Papa, nyatanya tidak salah!" bisiknya Raisa pelan ditelinga Mamanya.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
__ADS_1