
'Nindi Rowans'. Nama itu, menghiasi makam yang aku kunjungi pagi ini. Sendiri, supaya tidak ada yang tau betapa menyedihkan kondisiku saat ini.
Laki-laki kuat tidak akan mudah menangis, namun kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku.
Aku kira dia bahagia, aku kira dia benar-benar bahagia meninggalkanku dan menikahi pria itu, namun apa? Kenyataan membawaku ke sini, melihatnya hanya tinggal nama membuatku lemah tidak berdaya.
"Aku di sini Nindi, kau seharusnya tidak meninggalkanku." aku seakan menyiksa diri, bayangannya terus saja berputar-putar di kepalaku, senyumnya, tawanya, tidak ada lagi kebencian seperti yang selalu aku usahakan untuk melupakannya selama ini.
"Aku di sini, aku di sini." aku menepuk-nepuk dadaku yang sebak.
"Aku seharusnya menjemputmu lebih awal."
"Tidak peduli anak siapa yang kau kandung, entah itu anakku atau bukan, biar aku yang bertanggung jawab, aku rela..."
"Seharusnya kau datang, mengadu padaku, biar aku hajar, akan aku habisi dia yang sudah membuatmu begini. Kau tau kan, siapa yang bisa mengalahkanku? Aku cukup kuat jika hanya untuk melindungimu."
"Jawab aku Tuan Putri, anak siapa Ayaz? Apa dia anakku? Anak kita?"
"Padahal jika kau mau sekali saja datang menemuiku, tidak akan sulit untuk membujukku, aku hanya pernah jatuh cinta satu kali, dan orang itu adalah kamu, akan aku lakukan apapun untukmu."
__ADS_1
"Aku di sini Nindi, masih di tempat yang sama, di sampingmu."
Aku menghapus air mata yang membasahi pipi, sedikit yang jatuh namun sesaknya begitu menyiksa di dada.
Mengapa Nindi harus berkorban, jika Ayaz adalah anakku, mengapa Nindi tidak pernah datang menemuiku, apa dia juga tidak sudi aku mendampinginya, seperti yang pernah terlontar dari mulutnya saat di detik-detik dia memutuskan hubungan denganku saat itu.
Kini, aku hanya harus membuktikan sesuatu, jika kenyataannya benar maka bagiku harus ada yang bertanggungjawab untuk semua ini, siapapun yang bersalah, termasuk diriku jika benar memang begitu.
Kugenggam bongkahan tanah kering di makam Nindi, erat sekali seakan aku tidak rela melihat hidupnya harus berakhir seperti ini, aku bahkan belum bisa membahagiakannya. Namun seakan sama seperti cintaku untuk Nindi, semakin erat aku menggenggamnya, maka perlahan-lahan tanah kering itu jatuh meluruh dari sela-sela jariku, dan pada akhirnya aku tetap tidak bisa menggenggamnya.
"Akan aku balaskan, semuanya... Sian, pria itu orang pertama yang harus bertanggungjawab." di samping makam itu aku berucap, aku benar-benar akan membalaskan semuanya demi Nindiku, sudah kubilang tidak ada yang berhak membuat Nindiku bersedih, apa lagi sampai membawanya ke dalam kematian. Tidak terbayangkan bagaimana menderitanya Nindi berjuang, melihat dendam di mata Ayaz, aku bisa mengerti bahwa yang membawa Nindiku menuju kematian bukanlah karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya, namun karena batin yang tersiksa, kewarasan yang sulit dirinya jaga.
Dan, Sian, pria itu masih bisa bernapas sampai detik ini, itu semua juga karena Nindiku, jika saja aku mengetahui ini, jika saja Nindi memberitahuku, maka hanya ada kematian jalan satu-satunya yang terbentang untuk dirinya melangkah. Memberinya siksaan yang tidak akan ada habisnya, membuat Sian berharap dia akan lebih baik mati dari pada hidup di dunia lebih lama lagi.
Kutarik langkah kakiku yang terseok menuju mobil, sudah cukup menenangkan diri jika hanya untuk menerima kenyataan, meski aku berteriak pada langit pun, tidak akan bisa mengembalikan Nindiku pada dunia ini, karena pada akhirnya, kenyataan pahit ini benar-benar harus kutelan bulat.
Rindu ini, biarlah menjadi tanggung jawabku, duka dan luka biarlah aku juga yang menanggungnya, Nindi sudah bahagia di sana, aku harap di sana dia bisa mencapai ketenangan, aku berjanji akan membahagiakan Ayaz bagaimanapun nantinya, entah dia bisa menerimaku atau tidak.
Hembusan angin, membuatku ingin menitipkan salam pada sang pencipta, bisakah kelakuanku yang terlihat menyedihkan ini sampai pada penglihatan Nindi, atau kabarkan saja padanya, supaya dia tau aku di sini, dan masih tetap di sini, meski tidak ada lagi alasan untukku menunggunya, namun dia harus tau, tidak ada yang bisa menggantikannya. Di hati, ataupun di sisiku.
__ADS_1
"Apa kau menyesal?" tanya Marco, pria itu memeluk Nindi erat di pembaringan, sedikit takut dan menyesal telah melakukannya dengan Nindi, namun saat melihat seulas senyum dari bibir Nindi membuatnya menarik nafas lega.
Nindi menggeleng, "Tidak, jika itu bisa membuktikan bahwa aku benar-benar menyukaimu, aku tidak akan menyesal."
"Maafkan aku." ucap Marco.
"Hei, aku melakukannya karena aku juga ingin, aku sangat menyukaimu Marco, sungguh!" tatapan yang bagai anak kucing, membuat Marco melemah seketika.
"Shuttt... Kau tidak perlu mengatakannya lagi, atau jangan katakan, mulai saat ini hanya aku yang boleh mengatakan itu padamu, akan aku katakan setiap hari, setiap waktu... Aku mencintaimu Nindi, aku cinta kamu, aku menyayangimu... Yah, setiap hari, ku harap kau tidak bosan."
Keduanya tertawa riang, bahagia, meski baru saja melakukan dosa atas dasar suka sama suka, bisa dibayangkan betapa bahagianya Marco saat itu. Seolah berada di taman bunga, harum semerbak sebanyak mata memandang indah pada kuncup yang bermekaran.
Dengan menyatunya dirinya dan Nindi, Marco rupanya terlalu berharap bahwa perasaan antara mereka akan kekal tanpa adanya aral suatu hari nanti, namun kebahagiaan nyatanya tidak bisa mereka dapatkan, entah hidup begitu kejam untuk Nindi, ataukah untuk Marco, namun yang pasti mereka tidak bisa memaksakan diri mereka untuk hidup bersama, tidak akan ada yang senang hati melihat tawa mereka, terutama keluarga Nindi Rowans, Nindi yang bagai putri raja nyatanya bagaimana mungkin bisa bersanding dengan gelandangan, siapapun yang masih waras pasti akan menentang hubungan keduanya.
Aku selalu mengingat hari itu, hari di mana aku dan kamu bisa tertawa lepas, untuk hal buruk yang pernah kita lalui, kau tenang saja, aku pasti sudah melupakannya.
Jika waktu itu aku yang berharap banyak tentang hubungan kita, maka hari ini... Maafkan aku jika aku melakukannya lagi, kau tetaplah kekasihku, pasanganku, hanya saja aku berharap di kehidupan ke dua, kau bisa mendampingiku, Nindi... sampai kini pun, aku hanya menginginkan dirimu, tidak satu orang pun.
Jika benar Ayaz adalah anakku, terimakasih untuk hadiah yang sudah kau titipkan, aku yakin pertemuanku dengan Ayaz yang tanpa sengaja mungkin adalah sebuah takdir Tuhan. Nindi, meski dia akan membunuhku suatu hari nanti, meski aku harus mati ditangan anak kita, aku tidak akan pernah menyesal menjadi Ayahnya. Aku pernah mendengar ada beberapa orang yang mengatakan wajahku begitu mirip dengan Ayaz, maafkan aku yang nyatanya baru menyadari itu, sekali lagi... Jika itu benar, terimakasih untuk hadiahnya sayang, dia sudah besar, sangat tampan, dia mewarisi sifatku... Tak terkalahkan, selama ini ku rasa hanya kau yang bisa mengalahkanku, aku mencintaimu Nindi, sangat mencintaimu!
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...