
Yaren tidak berani bicara lagi, dia terlalu takut untuk mendengar kalimat itu lagi dari Marco, jelas-jelas dia yang mengantar kepergian Ayaz tadinya, lalu mengapa tiba-tiba Marco mengatakan suaminya itu masih hidup.
"Dia diam lagi Daddy!" ujar Rymi, ia memandang lekat Yaren, menyedihkan batinnya.
"Itu karena mulutku yang tidak bisa diam itu, coba saja tadi kau tidak membahasnya!" gerutu Marco.
"Sepertinya dia tidak benar-benar cinta dengan saudaraku!" ledek Rymi.
"Rym..." seru Marco lagi, mengapa juga putrinya itu benar-benar menjadi spesies yang menyebalkan, perasaan dulunya ia mendidik Rymi untuk menjadi tangguh, tapi mengapa kini yang di hadapinya ini lebih ke gila.
"Daddy, aku kan hanya bercanda!" sahut Rymi membela diri.
"Sudah sudah, jangan meledek Kakak Iparmu lagi, dia sudah cukup tertekan!" lanjut Marco.
"Huh, Daddy tidak asik!"
Mereka hampir sampai di rumah hutan, Yaren merasakan mobil Marco berhenti, apa saat ini mereka sudah sampai.
"Turunlah!" pinta Rymi.
Dengan lesu Yaren menurut, lalu saat di turun ia melihat sebuah rumah yang tak asing baginya, namun pencahayaan di sana tampak minim karena hari memang sudah larut malam.
__ADS_1
Rymi menuntun Yaren, dibelakangnya ada Marco yang siap menjaga dua wanita hamil itu.
"Rym, mengapa kita ke tempat ini lagi?' tanya Yaren yang nampak ketakutan, ia takut Rymi meninggalkannya di sini, dan perkataan Marco yang mengatakan Ayaz masih hidup tadi lebih-lebih membuatnya takut, apa maksud Rymi adalah hantunya Ayaz, Yaren mulai parno.
"Sudah! Diam dan menurut saja, kau tau? Aku ini jagonya membuat orang memacu adrenalinnya!" sahut Rymi. Marco lagi-lagi menggeleng di belakang, Rymi ini memang tidak ada habisnya berkelakuan.
"Rym!" tangan Yaren menahan tangan Rymi, langkahnya terhenti, tidak ia tidak mau masuk ke sana, masuk ke rumah itu.
"Apa Yaren?" santai Rymi.
"Kau... Benar-benar tidak akan membunuhku kan, atau kau mau meninggalkan aku di sini?"
"Ya, aku memang mau meninggalkanmu di sini?" Rymi lagi-lagi mengerjai Yaren.
"Daddy, bukannya aku berkata benar, kita kan memang akan meninggalkannya di sini?"
"Iya tapi bukan seperti itu juga..."
"Seperti apa?" sambar Yaren cepat, "Apa maksud Daddy mengatakan 'ya'? Mengapa mau meninggalkan aku di sini?" tanya Yaren, matanya sudah berkaca-kaca karena menahan ketakutan.
"Yaren bukan begitu maksudku!" sangkal Marco.
__ADS_1
"Aahhh Daddy, jujur saja, kan memang benar!" lagi-lagi si ipar laknat memang kompor sejati.
"Rymi kau ini!" geram Marco.
"Sudah, masuk dulu, kami tidak akan meninggalkanmu sendirian!" ucap Marco akhirnya.
Marco mendahului Yaren dan Rymi, ia membuka pintu dan betapa terkejutnya Yaren melihat siapa yang dijumpainya di rumah itu, yang kini tengah menyambut kedatangannya.
"Aaa Aayaazz..." gumamnya terbata.
"Yaren!" seru Ayaz, seolah ingin memberitahu Yaren bahwa ia nyata, bahwa ia masih hidup.
"Baa bagaimana bisa?" tanya Yaren tidak percaya.
"Bukankah Daddy sudah bilang, suamimu yang gila ini masih hidup, mengapa juga kau tidak percaya!" ujar Marco.
"Tapi... Tapi Daddy..."
Lalu, tanpa menunggu Yaren mendekat ke arahnya, Ayaz langsung saja menghampiri istrinya itu, ia memeluk erat Yaren, kerinduan ini, bahkan ia juga sempat takut tidak bisa kembali ke pelukan Yaren saat berjuang untuk menyelamatkan diri dari para musuhnya.
"Ini aku Yaren, ini aku... Aku masih hidup, ini aku..." ucap Ayaz sembari memeluk Yaren. Ia benar-benar merindu.
__ADS_1
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....