
"Aaa... Aaaku..." gagap Amla, bagaimana bisa dirinya menjawab, sedang yang ada di hadapan matanya ini sungguh begitu mengejutkannya.
"Aapaa maksud kalian?" tanya Amla gugup, dirinya benae-benar seolah kehabisan kata-kata.
"Maksud kami? Maksud kami, mengapa dua orang ini bisa berada di sini?" tanya penyidik.
"Tim, hancurkan gemboknya, karena kalau bertanya lagi kunci padanya pasti dia akan mengatakan tidak tau!" ketua penyidik memerintahkan timnya.
"Entah apa jawabannya ini, tidak ada yang diketahuinya atau memang berpura-pura tidak tau, sudah kami katakan Nyonya Amla jangan sekali-sekali berbohong, memberikan pengakuan palsu, lihatlah... Bahkan kami bisa membuktikannya!"
"Kalian!" berang Amla, ia melihat ke arah jeruji besi, gembok itu dibuka paksa oleh senjata api salah satu tim penyidik.
Dan keluarlah dua orang yang awalnya memang menjadi tawanan Sian dan dirinya, tapi Amla benar-benar tidak habis pikir, mengapa dua orang yang sudah dibebaskan itu kini malah kembali ke sana, dan yang lebih parahnya harus memakai kondisi yang begitu menyedihkan.
Tidak masalah! Aku masih punya senjata untuk meloloskan diri, dua orang gila ini tentunya akan mengatakan Samudra-lah dalang dari penyekapan ini, aku tinggal mengarang sedikit untuk membuat ceritanya menjadi lebih menarik.
Amla tersenyum smirk, baginya nasibnya itu terlalu beruntung, tidak sia-sia dulunya dirinya dan Sian membuat Romi dan Erra mengalami gangguan mental. Nyatanya hari ini tindakan mereka jualah yang akan menyelamatkannya.
__ADS_1
"Keluarkan mereka dari ruangan pengap ini!"
"Bawa Nyonya Amla, kita akan membicarakan ini diluar, bawa segala macam bukti, kalian urus semuanya dokumentasikan ruangan ini." titah ketua penyidik.
"Apa istrimu sakit?" tanya ketua penyidik itu pada Romi.
Romi mengangguk, "Ya dia sudah tidak makan berhari-hari, kami sudah lama sekali bertahan dan mungkin tinggal menunggu kematian, oohh sungguh istriku yang malang, entah apa salah kami pada sang penguasa hingga mereka dengan tega memperlakukan kami sekejam ini!" ucap Romi dramatis.
"Berikan dia makan, dan berikan penanganan cepat untuk istrinya!" teriak ketua penyidik.
Mereka keluar dari ruangan bawah tanah itu, hanya tinggal beberapa orang yang berkepentingan saja yang masih harus mengambil dokumentasi dan mencari beberapa barang bukti untuk hasil temuan mereka yang masih berada di sana.
"Kau bilang apa? Kau melibatkan kedua orang tuaku!" ucap Sam tidak percaya pada apa yang baru saja dikatakan Rymi.
"Bagaimana bisa?" panik Sam.
"Aku harus ke sana!" Sam segera mengambil ponselnya dan langsung saja hendak menuju kediaman Sian Huculak.
__ADS_1
"Eeiitts, tunggu dulu!" cegah Rymi, ia menarik paksa tangan Sam.
"Rym, jangan kira karena aku mencintaimu jadi kau bisa bertindak sesukamu, apa lagi dengan orang tuaku, mereka belum sembuh total Rym!" ungkap kesal Sam. Wanita yang sayangnya juga sangat dicintainya ini benar-benar selalu bertindak semaunya.
"Tunggu lah sebentar lagi, jika kau pergi ke sana maka akan menyulut kecurigaan, tunggu sebentar lagi, aku yakin sebentar lagi pihak penyidik pasti akan menghubungimu, mengabarkan keadaan kedua orang tuamu!" jelas Rymi memberi pengertian.
Samudra tampak berpikir, dan yah memang benar apa yang dikatakan Rymi.
"Mengapa selalu saja bertindak semamumu, tanpa pernah memberitahuku, menanyakan bagaimana pendapatku, Rym... Tolong jangan seperti ini lagi, aku ingin marah padamu tapi tidak bisa, dan sayangnya saat ini aku sungguh kesal!" gerutu Sam.
"Sayang..." manja Rymi.
Yah, dirinya tau, semua berjalan sesuai rencana, Ilham memang benar-benar bisa diandalkan. Dan, tidak apalah jika hanya membuat Sam terkejut sedikit, yah hanya sedikit... Bagi Rymi, namun sayangnya bagi Sam itu sudah luar biasa.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
__ADS_1
Â