
"Jangan, jangan sakiti aku."
"Jangan sakiti aku!"
"Tolong, bunuh saja aku, bunuh saja."
"Jangan mendekat, pergi..."
Yaren menangkap tangan Ayaz yang tidak berhenti menghalau sembarang, pria itu sepertinya sedang bermimpi. Entah apa yang dimimpikan suaminya itu, namun menurut Yaren pastilah bukan mimpi yang baik.
"Ayaz..." serunya.
"Ayaz ini aku, sadarlah!"
"Haahh haahhh haaahhh." Ayaz bangun dengan nafas yang tersengal, ia mencoba bangkit dan mengedarkan pandangannya.
Melihat Yaren yang memandanginya cemas, Ayaz langsung saja memeluk istrinya itu.
"Kau bermimpi?" tanya Yaren pelan saat Ayaz memeluknya, tidak ada jawaban Ayaz masih menetralkan kerja jantungnya.
Sudah sekian lama saat Ayaz meniduri Yaren, pria itu sudah tidak pernah lagi bermimpi buruk, namun malam ini, mungkin karena pemikirannya yang kacau, begitu banyak peristiwa yang dirinya lewati hari ini, mungkin membuat kondisi tubuhnya tidak baik-baik saja, otak yang dipaksa untuk bekerja lebih membuatnya kehilangan ketenangan.
"Sudah lama, sudah lama sekali." ucap Ayaz.
Setelah pelukan itu terlepas, Yaren segera mengambil air putih yang tersedia di atas nakas, memberikan gelas itu pada Ayaz.
"Kau terlalu lelah, apa kau makan dengan teratur beberapa hari ini?" tanya Yaren, sedikit canggung, namun ia ingin mengalihkan perhatian Ayaz tentang mimpi buruk.
"Aku sudah lama tidak bermimpi buruk." Ayaz tertunduk dalam, tiba-tiba saja ia langsung teringat akan Marco.
"Yaren..." serunya.
"Ya!" sahut Yaren.
"Aku ingin bercerita." ucap Ayaz. Selain Sam tidak ada yang mengetahui keseluruhan cerita bagaimana penyiksaannya di masa lalu, meski Marco dan Rymi tau namun keduanya tidak mengetahui keseluruhan cerita pilu itu.
"Ceritalah, aku pasti akan mendengarkan."
"Aku kehilangan Ibuku saat aku masih kecil, satu-satunya orang yang menganggap diriku ini berarti." Ayaz memulai ceritanya.
Yaren sedikit tercengang, meski ia tau Ayaz sudah menjadi anak piatu, namun mengetahui kenyataan itu entah mengapa Yaren ikut bersedih, mungkin karena nasib mereka sama.
"Dan Ayah yang aku kira adalah ayahku, miris sekali, ternyata bukanlah ayah kandungku."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Yaren tidak percaya.
"Dia tidak pernah menyayangiku, tidak pernah memandangku sebagai keluarga, aku benar-benar orang lain baginya."
"Setelah Ibuku meninggal, dia makin menunjukkan sifat kejamnya." Ayaz mulai mengingat beberapa potong kejadian saat dirinya di siksa oleh Sian dulunya. "Bahkan dia tidak memperlakukanku sebagai manusia. Aku baginya lebih hina dari seorang budak."
"Kau membencinya?" tanya Yaren. Melihat tangan Ayaz yang mengepal sepertinya Ayaz benar-benar tidak baik-baik saja.
"Jika ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana aku begitu membencinya, sungguh rasanya lebih dari kebencian." Ayaz memejamkan matanya, "Meski dirinya tidak lagi menyiksaku saat ini, tapi bayangan itu selalu saja membuatku tersiksa."
"Aku ada di sini, aku akan selalu menemanimu " ucap Yaren, ia tanpa banyak pertimbangan lagi memeluk suaminya itu.
"Kau, sudah menikahi pria yang salah." ucap Ayaz, tubuhnya melemah saat Yaren memeluknya. Ia takut, Yaren tidak bahagia hidup bersamanya.
"Aku bukanlah orang baik Yaren."
"Tidak Ayaz, baik atau tidaknya suamiku, aku yang merasakannya, akan aku kenali dirimu dengan caraku sendiri, jadi aku tidak akan salah menilaimu."
"Yaren, Yaren, dengarkan aku..." Ayaz tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Kau percaya padaku kan?"
Yaren menatap dalam mata yang memandangnya penuh permohonan itu. "Aku tidak berharap kau mengecewakanku, jadi aku bisa selalu mempercayaimu."
"Nanti, kedepannya akan banyak sekali hal tak terduga yang kau temui, apapun yang terjadi padaku... Percayai saja apa yang kau anggap benar."
"Ayaz..." Yaren, setitik air matanya jatuh, mengapa rasanya Ayaz seakan-akan mengatakan kata-kata perpisahan.
"Sialan!" umpat Dokter Amri, pria itu terus saja menatap secarik kertas yang berisikan nomor ponsel yang katanya nomor ponsel suaminya Yaren.
"Sama sekali tidak bisa diandalkan."
Hari sudah semakin larut, Dokter Amri merasakan Jovan benar-benar tidak menepati janji, ia sungguh kecewa.
Menepikan mobilnya di sebuah Bar, mungkin sedikit minum alkohol akan meringankan sedikit beban pikirannya.
Dokter Amri tau, tak sepantasnya ia melarikan dirinya ke tempat seperti ini, mengingat jabatannya yang adalah seorang dokter sangat tidak etis jika dirinya mengabaikan tata cara hidup sehatnya.
Namun, siapa yang akan mengerti dirinya?
Sebenarnya, ia juga akan mendapat penentangan dari keluarganya jika sampai ia ketahuan mencintai sepupunya sendiri, jadi selama ini Dokter Amri hanya bisa menyimpan perasaannya yang begitu dalam ini sendirian.
Ketika ia akan mengungkapkannya dan sudah mantap tidak akan peduli tentang bagaimana tanggapan keluarganya nanti, Argantara sialan itu malah mengusir Yaren yang sampai kini belum bisa dirinya temukan.
"Lihatlah anakmu, apa kau benar-benar merawatnya dengan baik? Heh, Argantara sialan itu nyatanya tidak lebih baik dariku!" ucap seseorang, Dokter Amri menajamkan telinganya, suara itu begitu dekat dengannya namun terhalang oleh suara dentuman musik yang menggema.
__ADS_1
Mendengar nama Argantara di sebut, dirinya juga refleks menggeram.
"Dengar, aku tidak akan menyerahkan Raisa padamu."
Suara itu, bukankah Dokter Amri sedikit familiar, kali ini Dokter Amri benar-benar serius mengedarkan pandangannya.
Matanya menangkap dua orang tengah berdebat di sebuah kursi, seorang pria dikelilingi oleh beberapa wanita malam, sementara seorang wanitanya... Astagah, Dokter Amri mengeram, bukankah itu adalah "Nyonya Wana?" gumamnya tidak percaya.
"Lalu, bagaimana kau menyikapi masalahnya ini? Kau sudah temukan siapa yang seharusnya bertanggung jawab?" pria itu tampak kesal, Dokter Amri bisa melihatnya dengan jelas, jarak antaranya dan Wana tidak kurang dari dua meter, namun terhalang oleh sebuah meja. Dan juga begitu banyak orang di dekat mereka, Dokter Amri bisa menebak seseorang yang ditemui Wana ini bukanlah orang yang begitu berada, dengan ceroboh bisa-bisanya membicarakan aib seperti ini di tengah-tengah keramaian.
"Aku tidak tau, Raisa sama sekali tidak bisa ditanyai, bahkan Argantara sudah bersikap begitu lembut padanya, tapi Raisa tetap saja tidak mengatakan apapun." jelas Wana, wanita itu tampak gelisah.
"Biar aku saja yang mengurusnya."
"Bagaimana bisa?"
"Jika tidak ada yang bertanggungjawab, kita harus bertindak cepat." ucap pria itu.
"Bagaimana caranya, aborsi?" tebak Wana.
"Plakk!" pria itu langsung saja menampar kasar wajah Wana, menjambak rambutnya, dan itu semua tidak luput dari penglihatan Dokter Amri.
"Kau gila, aku jadi tidak yakin kau merawat Raisa dengan tanganmu sendiri selama bertahun-tahun." ucap pria itu marah, Wana tak kalah kesal, awalnya Raisa memang bukanlah anak yang diinginkannya.
"Kau tidak berhak menanyakan itu, dasar sialan, memangnya apa yang sudah kau berikan untuk Raisa?" berang Wana.
Pria itu menjambak lagi rambut Wana, hingga terlihat Warna mengerang kesakitan. "Meski aku tidak pernah memberikan apapun untuk Raisa tapi diasuh oleh Argantara aku yakin dia tidak akan kekurangan apapun. Kau mengatakan aborsi, jelas saja aku marah, jangan-jangan kau memang ada berpikiran seperti itu?"
"Kalau iya kenapa?"
"Kau sama sekali tidak berubah Wana, tidak berperasaan, akal sehatmu lebih buruk dari seekor monyet, aku ini ayah kandungnya... Kau pikir, gila saja seenaknya mengatakan aborsi!"
Dokter Amri, mendengar sebuah kenyataan itu, gelas yang dirinya pegang secara tidak sengaja terlepas dari tangannya, "Prangg..."
Wana mengedarkan pandangannya, suara pecahan itu cukup jelas meski terganggu oleh suara musik.
Dokter Amri dirinya dengan cepat berbalik badan, hendak meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba, "Tunggu..."
Mendengar suara Wana yang menghentikannya, membuat Dokter Amri begitu panik, bagaimana jika dirinya sampai ketahuan?
Berpikir, berpikir cepat!
"Tap!" Saat dikiranya Wana yang semakin mendekat ke arahnya, saat itu juga dokter Amri menarik seorang wanita yang berada tidak jauh darinya itu ke dalam pelukan "Cup!" hal gila pasti telah terjadi padanya.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...