
"Luar biasa!" ucap Amla, satu sudut bibirnya terangkat saat menonton siaran konferensi pers itu. "Waktu empat tahun ini nyatanya dia cukup baik dalam pembelajaran! Hampir saja mendekam di penjara namun siapa sangka keadaan berbalik dengan sendirinya bahkan tanpa dia menyentuhnya! Wow, it's amazing!"
Amla cukup kagum dengan perkembangan kasus Ali Yarkan, benar-benar tidak menyangka kalau Ayaz Diren selaku Dean Aries bisa lolos dengan begitu mudahnya.
"Dia, seperti sudah biasa hidup di atas penderitaan orang lain." gumam Amla.
Amla tapak berpikir, kasus Ali Yarkan adalah jalan terakhir untuknya mengalahkan Ayaz, dan untuk Samudra, untungnya ia sudah berhasil memindahkan Erra dini hari tadi.
Namun, sudah sedari tadi Amla menunggu pihak kepolisian untuk kembali menggeledah rumahnya, bukankah kemarin ia dengar Samudra akan menggeledah lagi kediamannya ini.
Amla menikmati lagi secangkir teh hijaunya, menghirup segar wangi teh itu, pikirannya juga tertuju pada Sian, entah di mana suaminya itu berada, masih hidupkah atau sudah mati dibunuh Ayaz.
Sebagian anak buahnya juga menghilang, orang kepercayaan suaminya yang pastinya akan dengan senang hati melakukan apapun jika menyangkut tuan mereka.
Namun, semua itu seolah tidak ada kejelasan sama sekali. Sian dan orang suruhannya sama-sama menghilang bagai ditelan bumi.
Benarkah itu semua adalah perbuatan Ayaz? Apa segila itu?
Amla melihat lagi ke arah televisi, dilihatnya Tuan Joshe Yarkan, salah satu kolega bisnis suaminya itu sedang diringkus oleh pihak berwajib, tampak kegelisahan dan penolakan yang terekam di sana, Alma adalah salah satu orang yang mulai mengerti bagaimana sebenarnya kematian Ali Yarkan bisa terjadi, sebelum mereka memutuskan untuk menyerang Ayaz, ia dan sang suami sudah membahas masalah ini, dan rencananya akan memanfaatkan kasus Ali Yarkan ini untuk membuat Ayaz mendekam di penjara.
Namun keadaan sekarang, sungguh di luar dugaan mereka, Ayaz nyatanya mampu lolos dari jerat pidana.
...***...
"Daddy sudah melihatnya?" tanya Rymi, wanita itu sedang sibuk mengutak-atik ponselnya, konferensi pers secara live kasus Ali Yarkan baru saja selesai, ia melirik ke arah Marco meminta jawaban, selanjutnya, apa kiranya yang akan mereka lakukan.
__ADS_1
Sam di samping Rymi berusaha menyimak, apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Ayah dan anak yang sangat berantakan ini.
"Aku mengorbankan Jo! Andai kita bisa lebih cepat!" ucap Marco, dari nadanya ia sedikit menyesali. "Jika waktu itu Ayaz memintamu melakukannya, mungkin Jo tidak akan terlalu merasa bersalah. Diam saja bukanlah hal yang baik saat mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, apa lagi dia yang harus melakukannya, itu... Aku rasa begitu memberatkannya kan?"
Rymi menyela napas berat, benar... Kalau saja Ayaz memintanya untuk melakukan itu, setidaknya ia bisa membuang seluruh rasa kasihan karena hal seperti itu memang sudah biasa dirinya lakukan, namun kali ini Jovan, pria itu tidak terbiasa melakukan kejahatan.
Ayaz, benar-benar sudah kecewa sepertinya hingga enggan melibatkannya dan Marco, pasca mengetahui kebenarannya dan bersikap seolah tidak mengetahui apapun, namun kenyataannya Ayaz memilih pergi dengan pelan-pelan, semakin menjauh dan mungkin juga sedang berharap dilupakan.
"Aku akan menelponnya!" ucap Rymi. Haruskah ia melakukan itu, berakting juga seolah tidak mengetahui apapun. Padahal, kenyataan yang berbalik seperti ini adalah juga sebab Marco yang ikut andil dalam kasus Ali Yarkan itu. Apa Ayaz tau, atau Ayaz sama sekali tidak mengetahui itu.
"Tidak usah!" tolak Marco.
"Daddy, kita tidak bisa seperti ini!" ucap Rymi lagi.
"Harusnya begitu, tapi nyatanya aku seolah tidak memiliki jalan lain, aku terlalu membenci diriku sendiri hingga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada dia."
Setelah melihat mayat yang tergeletak di bagian belakang mobil, dan mengenali itu adalah mayat siapa, Sam sungguh tidak percaya akan betapa kriminalnya wanita yang sempat atau masih juga dirinya sukai ini.
Membunuh seolah menjadi hal biasa bagi pasangan ayah dan anak yang sedang berbincang di belakangnya ini.
...***...
Ayaz memilih pergi, pria itu berjalan tanpa tujuan, untuk saat ini sebenarnya tidak bada tempat yang paling nyaman baginya selain berada di sisi Yarennya. Namun, ia juga tidak bisa memaksakan kehendak, Jovan mungkin saja begitu marah padanya. Ayaz bisa saja melawan dan bersikap membenarkan diri, namun ia tidak mau hubungannya dan Jovan menjadi lebih buruk. Sama sepertinya, mungkin Jovan adalah salah satu orang yang berharga bagi Yaren, setelah mengetahui Jovan adalah saudaranya, Yaren dilihatnya bisa lebih berbahagia.
Ia mengingat lagi kenangannya dan Yaren, saat ia begitu membenci wanita itu, saat ia tidak menganggap keberadaan Yaren sama sekali, dan saat dirinya menakuti Yaren dan tega saja meninggalkan wanita itu sendirian di tengah hutan.
__ADS_1
Masa-masa itu, masa yang membuatnya semakin dekat dengan Yaren, setiap kali menyakiti wanita itu, baik fisik maupun batinnya, Ayaz selalu saja didera penyesalan, Ayaz selalu saja merasa hatinya tidak baik-baik saja.
Bahkan dengan gilanya ia ingin membuktikan perasaannya pada Yaren dengan melihat tubuh molek Rymi yang tanpa sehelai benangpun. Ia merasa selama ini hanya Rymi lah wanita yang dekat dengannya, jadi jika akan tertarik dengan seorang wanita maka seharusnya ia lebih dulu tertarik akan pesona seorang Rymi.
Namun, untunglah ia tidak melakukannya, ia masih mempunyai kesadaran waktu itu.
"Aku terlalu banyak menyakitinya, mungkinkah ini hukuman untukku, harus berpisah darinya, harus dari mana aku memulainya."
"Setiap tawanya dan juga kepolosannya, aku tidak yakin bisa bertahan lama untuk jauh darinya."
Ayaz masih bergumam, langkah kakinya terus berjalan, membawa tubuhnya mengikuti hembusan angin, di mana ia akan singgah nantinya, Ayaz bahkan belum memikirkannya, ia terus berjalan semakin jauh.
Tidak memedulikan air mukanya yang mungkin saja terlihat sangat kusut, tidak peduli lagi akan pandangan orang-orang yang berlalu lalang sesekali menatapnya dengan iba, yah Ayaz sebenarnya bisa merasakan itu, namun tentu saja ia tidak ingin memedulikan hal yang baginya tidak begitu penting.
Semakin jauh ia berjalan, langkah kakinya terhenti kala matanya mendapati sebuah tempat duduk di sekitar taman, namun tempat duduk itu letaknya memang tidak jauh dari jalan, di samping taman itu ada sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal. Ayaz masih sangat sadar meski hatinya sungguh didera kerapuhan.
Ia ingin beristirahat di kursi taman itu, menghela napasnya berulang kali untuk menghilangkan rasa sesak yang teramat di dadanya.
"Brakkk!" tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan seseorang, Ayaz mendongak dan melihat beberapa makanan milik pria itu tampak jatuh berceceran.
Namun, bukan Ayaz namanya jika harus peduli akan hal seperti itu. Ia cukup santai, bangkit lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju kursi taman yang memang diincarnya.
"Hei!" pekik pria itu tampak marah.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...