
Rymi berlagak malas saat berjalan menuju markas, padahal dalam hatinya sudah tidak sabar untuk menemui Sam. Ia sudah membayangkan selama di perjalanan tadi, mungkinkah Sam akan mengungkapkan perasaan padanya sekali lagi.
Aahhh, apakah kali ini aku harus menolaknya lagi, emmhh... Aku sangat gengsi jika langsung saja menerima hubungan ini, tidak-tidak... Rym kau harus menjadi wanita yang berkelas!
Wajah cantik ini, siapa yang tidak akan jatuh cinta berkali-kali lipatnya, pesonaku ini... Samudra, kau akan bertekuk lutut padaku...
Rym begitu antusias, dengan senyum yang tertahan ia mulai masuk ke markas.
Dilihatnya Sam yang tengah berbincang dengan kedua orang tuanya, "Tak, tak, tak!" Rymi sengaja mengeraskan langkah yang terdengar dari heelsnya.
Sam menoleh, ia melihat Rymi sudah datang, ia lalu berbicara seperti permisi untuk meninggalkan kedua orang tuanya itu.
"Kau sudah datang?" tanya Sam berbasa-basi.
"Ehhmm!" Rymi bermaksud menetralkan canggungnya, ia mulai memasang wajah angkuh seperti biasanya. "Ada apa?" tanyanya terdengar acuh.
"Duduklah!" Sam mempersilahkan Rymi duduk, lalu ia pun duduk berhadapan dengan wanita yang meski angkuh namun masih juga disukainya itu.
"Cepat katakan ada apa?" tanya Rymi tegas, ia sedang berusaha untuk tidak terlibat tatap dengan pria berkepala plontos namun tampan itu.
"Merve, maksudku Rym... Bagaimana keadaanmu?" tanya Sam yang entah kenapa bisa menanyakan itu. Mungkin suasana canggung sudah membunuh segala keberanian dan kalimat-kalimat pertanyaan yang sudah dirinya susun seperti teks pidato kenegaraan.
Duh, seharusnya bukan itu yang aku tanyakan, singa betina ini pasti akan menyemprotku habis-habisan, sudah tau dia sangat galak.
"Kau menyuruhku ke sini hanya untuk menanyakan itu?" tanya Rymi, ia bersikap tidak peduli padahal dalam hatinya, seperti ada rombongan kupu-kupu yang terbang berseliweran di dadanya. Jantungnya juga, menjadi begitu sangat sulit dikondisikan.
"Aahhh..." Sam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Emmhh, kasus... Yah, kasus itu!" ucapnya seperti terburu-buru, tatapan Rymi yang seperti ingin membunuhnya sungguh membuatnya kalang kabut. Mengatakan menyukai wanita itu dan ingin menjadikan Rymi miliknya, namun di bentak seperti itu saja Sam sudah tidak kuat, apa jika mereka benar-benar bisa bersama maka Sam akan terus kalah dengan Rymi.
Rymi menyeringit heran, kasus? Ia kecewa, mengapa Sam malah menanyakan perihal kasus, setelah begitu lama pergi dari penglihatannya dan sama sekali tidak pernah menghubungi, mengapa mengajaknya bertemu hanya untuk menanyakan kasus. Dasar sialan! Umpatnya dalam hati.
"Iya, kasus, pria yang kita buang itu, mengapa bisa mati dengan alasan racun yang mematikan?" tanya Sam setelah bisa menetralkan rasa gugupnya.
Rymi juga mulai serius, ia juga berpikir perlu menjelaskan hal itu pada Sam, supaya mulut pria itu bisa dijaga dan jangan sampai menyebabkan masalah di kemudian hari.
__ADS_1
"Aku yang merancangnya!" jawab Rymi seadanya.
"Kau? Bagaimana bisa, bukankah jelas sekali ada bekas tembakan tepat di posisi jantungnya?" tanya Sam tidak mengerti.
"Aku memberikan racun itu saat kau membawa orang tuamu ke dalam, dan untuk tembakan itu, tidak akan ada yang mengetahuinya, aku juga sudah mengurus itu." jelas Rymi.
"Tapi, bagaimana mungkin, yang kau permainkan adalah hasil otopsi!"
"Bukannya malah bagus aku menyelamatkanmu? Hei Samudra, jika kau hanya ingin menegakkan kebenaran, mengapa tidak kau akui saja kalau kau yang membuangnya? Kau mau mati konyol di penjara?" desak Rymi.
"Tidak tidak, bukan begitu maksudku, hanya saja aku tidak mengerti!" sahut Sam.
"Kau sudah melewati batas Rym, kalian... Apa sudah biasa melakukan ini?"
Rymi membuang muka, ia lebih tertarik menatap langit-langit berwarna putih di markasnya, "Aku tidak suka berbasa-basi dan menceritakan hidupku pada orang lain, jika kau begitu ketakutan maka usahakan untuk selanjutnya jangan mengikutiku dan Ayaz, karena kau hanya akan semakin terlibat tindak kejahatan!"
"Mau bagaimana lagi, menjadikan orang lain sebagai tumbal, itulah cara kami untuk bertahan hidup."
"Tapi..."
Aku tidak bisa bersama dia, dia terlalu takut untuk menjejali hidup denganku, mengapa tidak ada pria seperti Ayaz yang tidak mempunyai ketakutan akan apapun?
"Memenjarakan Amla? Apa maksudmu?" tanya Sam, ia lebih-lebih didera kebingungan.
"Orang tuamu, kau harus menyadarkan mereka, kau harus membuat mereka menjadi saksi atas kejahatan Sian dan istrinya, dan juga perihal kasus lainnya akan aku buat seberat mungkin." ucap Rymi.
"Rymi, apa kalian tidak takut akan konsekuensinya?"
"Mau bagaimana lagi? Jika aku tidak melakukan ini maka Ayaz dan aku yang akan berada di posisi Amla, bukankah aku sudah bilang, menjadikan orang lain sebagai tumbal adalah cara kami bertahan hidup?" berang Rymi, ia tidak tau mengapa bisa begitu sensitif, baginya Samudra tidak akan pernah mengerti bagaimana menjadi dirinya dan Ayaz, dan ia sungguh kecewa akan itu.
"Katakan apa yang harus aku lakukan?" tanya Sam.
"Kau?"
__ADS_1
"Iya, aku juga ingin terlibat, jadi apa yang harus aku lakukan, perintahkan saja!" tanya Sam, perkataan Rymi yang sepertinya begitu mendukung Ayaz membuatnya tiba-tiba menjadi meragukan apakah dirinya benar-benar sahabat Ayaz atau bukan, ia merasa dibandingkan dengan Rymi, dirinya bukanlah apa-apa, jadi kali ini tanpa ragu ia memutuskan untuk bergabung.
"Heh!" Rymi tersenyum miring, "Kau yakin?" tanyanya dengan nada meremehkan.
"Kau bisa mempercayaiku!" ucap Sam.
"Cukup dengan kau sadarkan saja orang tuamu lebih cepat, maka itu sudah sangat membantu!" ucap Rymi.
"Dan juga, sebisa mungkin membungkam mulutmu, buktikan kalau kau memang bisa dipercaya!" lanjut Rymi.
"Tapi mereka, sampai kini pun masih enggan percaya padaku!" keluh Sam.
"Itu urusanmu! Apa kau baru saja mengatakan keluhan?" sindir Rymi.
"Bukan seperti itu maksudku, tapi..."
"Aku tidak ingin mendengar keluhan, bagaimana bisa kau mengatakan akan berpihak padaku dan Ayaz? Menyedihkan?"
"Baiklah!" Sam menahan rasa ingin mengumpatnya, wanita gila itu selalu saja memandang rendah dirinya. "Akan aku lakukan, sebisaku, semampuku..."
Rymi tidak menanggapi, ia juga sedikit kecewa dengan Sam, karena tidak sedikitpun menyinggung tentang masalah hatinya.
Sam juga, ia terdiam, terlibat canggung, saat ini ia ingin mengajak Rymi berbincang santai, tapi melihat tatapan wanita itu yang sudah bagai hendak menembus jantungnya, membuat Sam mengurungkan niatnya.
"Kau..."
"Kau..."
Tiba-tiba, Rymi dan Sam berucap bersamaan, mata mereka pun tak sengaja terlibat tatap, Rymi tidak berniat memutusnya, semantara Sam apa lagi, ia bahkan mematung tidak bergerak, tidak berani memutuskan pandangan mata itu takut menyinggung perasaan Rymi.
Kondisi itu sangat canggung, jantung Sam berdetak lebih kencang, wanita itu masih saja sangat disukainya meski dirinya tau wanita itu penuh dengan keburukan, sungguh ia menyukai semua yang ada pada Rymi. Mungkin lebih tepatnya ia sudah tergila-gila.
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...