Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Penyidikan.


__ADS_3

Sam mengepalkan tangannya, buku-bukunya memutih, sungguh tidak percaya akan kata yang baru saja keluar dari mulut Rymi. Tidak peduli sama sekali, sebenarnya mengapa wanita ini bersikap seperti itu pikirnya.


Jika di hadapannya ini adalah wanita normal, mungkin Sam sudah akan dinikahkan karena harus bertanggung jawab telah meniduri anak orang, sangat jarang sekali pria yang mencari wanita setelah semuanya terjadi. Namun Rymi, wanita itu terang-terangan berkata tidak peduli, bahkan meski orang tuanya pun tau.


"Merve, kau tau apa yang terjadi semalam?" tanya Sam, kali saja wanita ini perlu diingatkan lagi.


"Ya!" datar Rymi.


"Lalu?"


"Lupakan, saya benar-benar tidak apa Pak Rangga, anggap saja itu sebuah ketidaksengajaan, saya tidak akan memperpanjang masalah." sahut Rymi, tegas sekali.


"Bahkan meski... Kau hamil nanti?" tanya Sam, melihat wajah Rymi, tidak ada tanggapan yang spontan, wajah wanita itu masih datar, begitu sulit ditebak.


"Saya bisa memastikan hal seperti itu tidak akan menyulitkan Bapak di kemudian hari."


Astagah, aku terlalu memikirkan perasaannya, hingga nekad ke sini dan bertingkah seperti pengemis, tapi lihatlah dia...


"Ya, kalau kau sudah berkata seperti itu." ucap Rangga, tidak kalah tegas, mencoba mengimbangi Rymi, ia tidak bisa lagi terlihat memohon. Lagi pula untuk apa mempedulikan wanita itu, yang dipedulikan saja cukup santai.


"Terimakasih atas pengertiannya." ucap Rymi.


Sungguh menyebalkan! Sam, pria itu tanpa basa-basi langsung saja menuju pintu keluar, Rymi memang berhasil membuatnya setengah gila.


...***...


Penyidikan berlanjut di hotel ternama milik Ali Yarkan sendiri, kamar hotel itu Ayaz pernah menempatinya, dan di situlah terdapat bukti yang memberatkannya.


Ayaz menyimak secara rinci serangkaian prosesnya.


"Sejauh ini, kalian sudah bekerja keras."


Ayaz melangkah menuju kamar, hari sudah mulai malam, ia mengambil mantelnya dan akan mengunjungi suatu tempat.


Ayaz mengendarai mobilnya cepat, baginya waktu tidak lagi bisa ditunda, ia sudah muak mendengar nama itu selalu dikaitkan dan menjadi satu-satunya yang bersalah.


Setelah sampai, Ayaz tersenyum smirk, memakai kaca mata hitam serta topi lalu keluar dari mobil.


"Selamat malam." ucapnya.


"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu." sahut resepsionis tersebut ramah.


"Saya ingin menghadiri investigasi kasus Ali Yarkan, bisa tolong di konfirmasi terlebih dahulu." ucap Ayaz.

__ADS_1


"Baik! dengan Bapak siapa?" tanya resepsionis tersebut. Tangannya dengan lincah menekan nomor telepon menghubungi atasannya.


"Dean Aries." jawab Ayaz.


Ada keterkejutan terlihat dari raut wajah resepsionis tersebut, namun ia tetap profesional.


Ternyata, Dean Aries yang diusung-usung akan menjadi tersangka kasus ini mengapa begitu tampan dan memiliki pesona, apa iya dengan wajah seperti itu adalah seorang kriminal, sungguh tidak percaya.


Ayaz dibawa ke sebuah ruangan, menunggu pihak kepolisian menemuinya, ia bagaikan seseorang yang telah suka rela menyerahkan diri, namun Ayaz tidak akan semudah itu menerima.


"Selamat malam Pak Dean." sapa kepala penyidik.


"Malam." sahut Ayaz datar, tidak seramah ia menyapa resepsionis dibawah tadi.


"Bagaimana hari anda?"


"Langsung saja." ucap Ayaz, ia tidak punya hal yang bagus untuk dibincangkan tentang hidupnya, langsung pada permasalahan inti menurutnya lebih bisa menghemat waktu.


"Apa yang ingin anda sampaikan?" tanya penyidik itu lagi.


"Kesaksian saya. Silakan tanya apapun, sebisa mungkin saya akan kooperatif."


"Anda, adalah satu-satunya orang yang menemuinya di cafe tersebut, benar begitu?"


"Sejauh ini tidak ada, tapi, bagaimana botol racun itu bisa ada di kamar hotel yang anda tempati? Bisa anda jelaskan?"


Ayaz menarik napasnya dalam sebelum berucap, "Apa jika anda seorang pembunuh, meniatkan targetnya untuk dihabisi, apa akan bertindak seceroboh itu?" tanya Ayaz, matanya penuh kilatan kebencian.


"Jelaskan saja!" titah kepala penyidik itu.


"Apa yang harus saya jelaskan, anda tidak akan mau mendengar kan jika saya mengatakan saya tidak mengetahui hal itu." ucap Ayaz.


"Bagaimana mungkin anda tidak tau?"


"Bagaimana mungkin pertanyaan anda seolah memaksa saya untuk mengakui?"


"Pak Dean!" berang pihak kepolisan.


"Saya mencoba bersikap kooperatif, namun jika anda menganggap kedatangan saya ke sini hanya untuk menyerahkan diri, anda salah."


"Jelaskan!"


"Mengapa saya harus membunuh orang?"

__ADS_1


"Apa anda sudah menyelidiki latar belakang kehidupan saya?"


"Apa tujuan saya membunuh Ali Yarkan?"


"Apa keuntungannya?


"Pertanyaan simpel seperti itu, seharunya anda sudah menyiapkan catatannya."


"Jika saya ingin membunuh, mengapa harus meninggalkan jejak semudah itu? Bukankah saya begitu ceroboh?"


"Katakan bagaimana kejadiannya? Apa yang anda lakukan saat itu di kamar hotel?" tanya penyidik, "Jangan bertele-tele, anda terlihat lebih mencolok."


"Baiklah, saya akan jelaskan."


"Setelah dari cafe tersebut, kami pulang menggunakan mobil masing-masing, saya mengendarai sendiri karena saya memang tidak pernah menggunakan jasa sopir pribadi, Pak Ali jelas diantar sopirnya."


"Menuju hotel miliknya, saya tidak tau ternyata setelah sampai di sana saya yang baru saja akan memesan kamar, rupanya sudah disiapkan satu kamar hotel berkelas VIP di sebelah kamar hotel yang ditempati Pak Ali."


"Setelah itu, saya tidak pernah lagi bertemu dengan Pak Ali, hingga ada kabar menyebutkan bahwa Pak Ali tewas di kamar hotelnya."


"Anda yakin, anda tidak keluar barang selangkah pun dari kamar hotel anda?" tanya penyidik.


"Waktunya cukup singkat, setelah memasuki kamar hotel itu, aktivitas saya hanya mandi, bahkan cukup kaget saat seorang pihak kepolisian menggeledah kamar saya waktu itu, bukankah salah satu rekan anda mengetahui waktu itu saya bahkan masih berbalutkan handuk?" tanya Ayaz.


"Saya pikir masalah ini sudah selesai, karena anda bahkan mengatakan terimakasih pada saya saat penyelidikan waktu lalu di kantor anda."


"Jawaban anda sama sekali tidak berubah dari waktu lalu? Apa ada yang ingin anda tambahkan?"


"Kejadian seperti ini, mungkin bukan hanya sekali anda tangani, seharusnya anda bisa belajar dari kasus-kasus sebelumnya." jelas Ayaz. Argumennya kali ini, Ayaz yakin sekali bisa membuatnya membalikkan keadaan.


"Anda jangan menyulitkan penyidikan!"


Ayaz menggelengkan kepalanya, "Anda sungguh tidak adil Pak Polisi, seharusnya anda juga menyelidiki orang-orang terdekat Ali Yarkan, bahkan yang paling dekat dengannya."


"Semuanya sudah ditanyai, itu menjadi urusan kami." sahut penyidik tidak senang.


"Apa anda juga menekan kata-kata yang seolah-olah harus mengakui perbuatan ini pada mereka, seperti yang anda lakukan pada saya?" tanya Ayaz, ia memiringkan sudut bibirnya.


"Dalam bisnis, bahkan anda pun mungkin tau, orang terdekat adalah musuh yang paling berbahaya." ucap Ayaz.


"Mengenai botol itu, anda pasti menyimpannya, lihat baik-baik dan bahkan kenali sidik jari siapa yang ada di botol itu, bukankah waktu itu anda mengatakan saya bersih." tambahnya.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2