
"Tidak! Pasti hanya sebuah kebetulan, yah berpikir saja begitu." gumam Ayaz, saat ini dirinya sedang berada di toilet, menenangkan diri dari hal yang membuatnya curiga.
"Yah, pasti hanya kebetulan."
"Kau bicara apa?" seseorang mengagetkan Ayaz, menatap heran dirinya.
"Sam!" seru Ayaz.
"Kau berbicara sendiri, kenapa?" tanya Sam.
"Ah, bukan apa-apa?" jawab Ayaz.
"Ayaz, mari kita bicara!" ajak Sam.
Ayaz mengangguk, lalu keduanya menuju kantin rumah sakit, baik Ayaz maupun Sam mungkin ada banyak sekali hal yang perlu keduanya bicarakan.
"Sejak kapan kau mengenal Merve?" tanya Sam langsung. Ayaz cukup heran akan pertanyaan pertama Sam, bukannya menanyakan tentang bagaimana kabar sahabatnya ini, lihatlah malah pria itu menanyakan tentang Rymi terlebih dahulu. Dasar bucin, umpat Ayaz dalam hatinya.
Saat ini keduanya sudah berada di kantin, memilih untuk duduk di kursi pojok, supaya mereka bisa lebih leluasa berbincang.
"Kenapa?" tanya Ayaz.
"Sebenarnya kau siapanya Merve?" tanya Sam langsung, pria itu sungguh penasaran.
Merve, heh! Bahkan kau tidak diperkenalkan nama aslinya, bagaimana bisa kalian benar-benar punya hubungan.
"Tiga tahun yang lalu." jawab Ayaz singkat dan memang seadanya.
"Kau bilang dia adikmu?" tanya Sam lagi, lebih tepatnya mungkin dirinya tengah mengintrogasi Ayaz.
"Iya, adik ketemu gede." sahut Ayaz, sengaja ingin menggoda Sam.
"Kau!"
"Kau menyukainya?" tanya Ayaz.
Sam terdiam, apa dirinya harus jujur pada Ayaz tentang perasaannya, bagaimana jika Ayaz mempunyai kedekatan khusus dengan sekretarisnya itu.
"Kami cukup dekat, aku mengetahui apa saja yang disukai atau tidak disukai oleh Rym... Emmm, maksudku Merve!" ucap Ayaz kikuk karena lagi-lagi salah menyebutkan nama Rymi.
"Benarkah?" tanya Sam ragu. "Sudah dekat, apa benar dia adikmu?"
Hening,
Hening,
Hening,
__ADS_1
"Bwahahahaha!" Ayaz tertawa menggelegar. Dia cukup lucu akan respon yang tergambar di wajah Sam saat ia berakting diam saja setelah pertanyaan Sam barusan.
"Aku sudah menikah Sam, kau tidak perlu khawatir." ucap Ayaz. Ia mencoba menghentikan tawanya, namun tidak bisa.
"Menikah?" tanya Sam. Dirinya juga baru mengetahui kalau sahabatnya itu sudah menikah.
"Iya, aku sudah menikah, dan Merve juga mengetahui itu." aku Ayaz.
Terbesit kelegaan saat mengetahui Ayaz sudah menikah, itu berarti peluangnya untuk mendekati gadis itu masih terbentang luas.
"Ayaz..." seru Sam lagi.
"Ya!"
"Apa kau, tidak berniat untuk mengunjungi Tuan Donulai lagi?" tanya Sam.
Kali ini berhasil, Ayaz benar-benar bisa menghentikan tawanya kala nama Donulai di sebutkan.
"Kenapa harus?" tanya Ayaz.
"Ayaz, kau adalah pewaris satu-satunya."
"Apa yang kalian harapkan?" tanya Ayaz langsung.
"Tuan Donulai ingin kau mengurus semua perusahaannya, namun sebelum itu kau akan diberikan sebuah tanggung jawab untuk mengelola DN Company yang berpusat di negara ini."
"Lalu kau?"
"Heh." Ayaz menyunggingkan senyumnya. Sian, nama itu benar-benar merusak moodnya.
"Aku akan ke Itali." ucap Ayaz. "Katakan padanya, aku ingin menemui Nyonya Daslah, setelah itu barulah aku bisa memastikan bagaimana hidupku, aku akan ikut kalian atau tidak." ucap Ayaz. Yah, setidaknya ia harus memastikan sesuatu terlebih dahulu.
"Baiklah, akan segera aku katakan pada Ayah." ucap Sam antusias.
Lalu, keduanya bicara banyak, mengenai kabar, tentang apa saja yang keduanya lakukan selama tiga tahun ini, tentu saja hanya ada kejujuran yang terlontar dari mulut Sam, sementara Ayaz, pria itu harus menyaring terlebih dahulu apa saja yang bisa dirinya bincangkan pada Sam, perihal kehidupannya selama tiga tahun ini, Ayaz bahkan sedikit banyaknya memilih terjerumus dalam kebohongan.
"Kau yakin hanya hidup sesederhana itu?" tanya Sam memastikan.
"Yah, mau bagaimana lagi, aku tidak punya hal tidak terduga seperti ditemukan keluarga kaya macam Donulai. Hahaha." Ayaz menyahut dengan tawa renyahnya.
"Semua ini milikmu Ayaz." ucap Sam, dirinya juga menyadari para preman itu seharusnya menemukan Ayaz bukan malah dirinya.
"Aku tidak menginginkannya Sam." sahut Ayaz.
"Kenapa tidak, kau bisa hidup nyaman, berkecukupan, mapan."
"Aku ingin hidup sederhana saja dengan istriku, ada dia yang selalu menyambutku pulang, itu sudah cukup bagiku." ucap Ayaz. Sedikit berdusta tapi tidak sepenuhnya. Ia memanglah hidup sederhana, namun jika untuk kekayaannya, tiga tahun bekerja sama dengan Marco pundi-pundi rupiahnya mungkin sudah bisa membuat hidupnya bergelimang harta serta mapan tentunya. Namun, membayangkan hal sederhananya bersama Yaren untuk membangun sebuah keluarga yang harmonis, Ayaz sama sekali tidak berbohong, pria itu benar-benar menginginkannya.
__ADS_1
"Aku jadi penasaran, seperti apa istrimu?" tanya Sam.
Ayaz tersenyum, mengingat wajah Yaren membuatnya kembali merindu wanita itu. "Dia, gadis yang sederhana, aku bahkan tidak tau kapan aku bisa benar-benar mencintainya seperti ini."
"Wah wah, sepertinya lebih dari itu." goda Sam.
"Aku tidak pernah merasakan tertarik akan wanita sebelumnya."
"Oh ya?"
"Di mana kalian bertemu?" tanya Sam antusias. Hari ini bahkan ia memilih libur, berbincang dengan sahabat lamanya itu baginya hal yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.
Ayaz memikirkan kembali pertemuan pertamanya dengan Yaren, entah mengapa bibirnya tidak bisa berhenti untuk menyunggingkan senyuman.
"Aku sungguh penasaran, benar-benar penasaran, wanita seperti apa yang bisa membuat Ayaz jadi tidak bisa berhenti tersenyum seperti ini." ucap Sam.
"Nanti akan aku kenalkan dia."
"Benarkah?"
Melihat bagaimana cara Ayaz memikirkan istrinya, jujur saja hal itu membuat Sam lega, itu berarti Ayaz benar-benar tidak menganggap Mervenya sebagai seorang wanita yang disukai.
"Lalu kau? Bagaimana hubunganmu dengan Merve?" tanya Ayaz.
"Dia, sulit untuk didekati." aku Sam.
"Benarkah?" tanya Ayaz meragu.
Saat dulu pertama kali ia bertemu Rymi, wanita itu cukup banyak bicara, tidak sulit berteman dengan wanita itu, mereka bahkan selalu melakukan hal gila berdua. Bahkan sebelum Ayaz menikahi Yaren saja, Rymi sempat menjadi orang yang paling dekat dengannya.
"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Ayaz.
"Aku? Hehe, bahkan aku sudah pernah menyatakan perasaanku."
Bahkan aku sudah pernah tidur dengannya, yah meski secara tidak sadar sih.
"Lalu?"
"Terang saja dia menolak, entah apa yang membuatnya tidak menyukaiku?" keluh Sam.
"Kau pernah melakukan sesuatu padanya?"
"Maksudnya?"
"Misalnya, membuatnya kesal? Rym... Maksudku Merve, dia tipe wanita yang sensitif, jika orang itu pernah membuatnya kesal ataupun membuatnya tidak suka, ilfeel, meski itu hanya satu kali, maka akan sulit untuk mendekatinya. Dia tidak marah, dia bisa bekerja seperti biasa, karena keprofessionalannya tidak untuk diragukan lagi, namun satu kali saja orang itu membuatnya kecewa maka Merve akan menjadikan hal itu sebagai sebuah tameng, atau ruang pembatas." jelas Ayaz, sebanyak yang dirinya tau tentang Rymi, wanita itu memang begitu. Apa lagi, jika orang yang berbuat salah dengannya tidak segera meminta maaf, maka jangan mengharapkan wajah manis dari seorang Rymi.
"Aku rasa..."
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...