
"Apa sejauh ini anda sudah mengerti Nyonya Amla?" tanya penyidik itu.
Amla yang masih merasakan emosi menguasai hatinya itu pun enggan menyahut. Ia benar-benar kesal, tunggu saja sepulang dari sini, Wana berencana akan memberikan pelajaran berharga untuk para pengawalnya itu. Tidak ada gunanya lagi bertanya dan mencari siapa pengkhianatnya, karena ternyata semuanya terlibat.
"Lalu apa yang akan anda lakukan jika hasil otopsi jasad suamiku keluar?" tanya Amla.
"Kami akan menganalisa dan tentu saja memastikan kebenarannya, jika hasil otopsi itu memang benar maka kami akan mengikuti bukti mana yang lebih akurat."
"Jika aku bisa memberikan bukti bahwa hari itu aku tidak mengunjungi villa tentu saja kalian harus mempertimbangkannya bukan?"
"Tepat sekali Nyonya! Di sini kami sebagai penyidik juga menelaah terlebih dahulu bukti mana yang lebih mendekati kebenaran."
"Tapi foto itu... Aku berani bersumpah kalau foto itu bukanlah fotoku!" Amla mencoba meyakinkan pihak penyidik lagi.
"Kami hanya akan melihat bukti nyata Nyonya, bukan hanya pengakuan, pengawal anda mengakui kecurigaannya juga berdasarkan beberapa bukti yang dirinya berikan, bukan hanya sebatas kata yang disambung menjadi kalimat lalu dilontarkan pada kami."
__ADS_1
Amla menghempaskan napasnya kasar, "Aku ingin tau bukti apa saja yang pengawal itu berikan?"
Ketua mengawal itu menatap Amla, mencari keseriusan atas kata-katanya, "Anda yakin?"
"Bagaimanapun aku harus tau apa saja yang telah pengawal itu berikan pada kalian, bagaimana jika semua yang dia berikan itu tidak benar, hanya fiktif?"
Lalu penyidik itu memberikan beberapa rekam video yang menunjukkan rekaman gerak Amla memasuki villa itu. "Ini Nyonya?" tanya penyidik.
"Tidak itu bukan aku, bagaimana bisa? Jelas-jelas ini video penjebakan, ini fiktif!"
"Lalu apa lagi?" tanya Amla, ia sungguh tidak senang.
"Selain pengakuannya dan video ini, sebenarnya tidak ada lagi bukti yang ditunjukkan pengawal anda. Namun barang bukti ini semakin kuat keasliannya jika ditambah dengan adanya barang bukti yang kami temukan di villa lama keluarga Huculak pada saat penyidikan sore itu." jelas penyidik.
"Apa maksud anda barang-barang yang anda bawa waktu itu, tali tambang dan barang-barang lainnya?" tanya Amla, ia juga sebenarnya penasaran bagaimana kelanjutan barang bukti yang diambil oleh pihak penyidik waktu itu. Belum hilang saja rasa terkejutnya mengapa tiba-tiba ada ruangan seperti itu di villa mereka.
__ADS_1
"Benar, apa anda siap mendengarkannya?" tanya pihak penyidik lagi.
"Apa yang terjadi? Mengapa anda bertanya begitu?" tanya Amla, ia benar-benar tidak sabar. Mengapa penyidik itu mengatakan kalau bukti palsu yang diberikan oleh pengawal itu bisa diperkuat dengan adanya bukti yang penyidik itu temukan di villa mereka. Apakah bukti-bukti itu saling berhubungan, sebenarnya Amla sungguh merasa kasus ini semakin pelik, bagaimana bisa dia yang tidak mengetahui apapun terancam menjadi tersangka pada dua kasus pembunuhan. Yah meskipun kematian suaminya belum benar-benar bisa dinyatakan sebagai kasus pembunuhan karena hasil otopsi yang belum keluar.
"Di tali tambang itu dan juga sobekan kain berwarna putih itu, serta kursi yang kami bawa nyatanya terdapat sidik jari tuan Huculak." ungkap penyidik.
"Aa... Apa?" Amla sungguh terkejut, bagaimana bisa? Jadi vidio yang beredar, siaran langsung yang menyudutkan namanya itu bagai sudah seperti prediksi yang seolah tinggal menunggu kebenarannya.
Ini gila, ini benar-benar gila, dia tidak mengetahui apapun, bagaimana bisa... Amla benar-benar takut, Vidio siaran langsung itu tiba-tiba saja menghantui pikirannya, ia sudah menyadari mungkinkah Ayas ingin menjebaknya di sini, menjadikannya sebagai tersangka utama pembunuhan suaminya sendiri, tidak... Ini tidak boleh terjadi, Amla membatin, dalam hatinya ia mengutuk Ayaz tanpa ampun, dalam hatinya ia akan bertekad untuk mencari barang bukti untuk membela diri dan mengungkapkan kebenaran bahwa ia benar-benar tidak bersalah.
"Tidak cukup sampai di situ, adanya noda darah di sobekan kain dan juga yang ada di tali tambang, kami sudah memeriksanya dan memang benar darah itu adalah darah tuan Sian." tambah penyidik yang semakin membuat Amla merinding, seketika tenggorokannya tercekat, Amla seperti orang yang kesulitan bernapas.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1