
“Ini sebuah persaingan bisnis!” ungkap Marco, saat ini dirinya dan Ayaz sedang berada di markas, menyusun sebuah rencana.
“DN Company! Kau pernah dengar?”
“Perusahaan baru?” tanya Ayaz.
“Tidak, sebuah kenyataan, perusahaan ini sudah lama berdiri, namun berpusat di Itali, sementara di Negara ini hanya salah satu cabangnya.”
“Tapi aku jarang mendengar nama perusahaan itu?” ungkap Ayaz.
“Misterius, aku dengar perusahaan itu berganti nama, namun tidak ada yang tau apa nama perusahaan sebelumnya.”
“Bukan perkara sulit, pekerjanya kan masih orang yang sama.”
Marco menggeleng pelan, “Semua pekerja di situ termasuk orang baru, tugasmu, masuk ke perusahaan itu dan dekati petingginya. Kau dan Rymi, aku percayakan pada kalian!”
“Siap Bos!” ucap Ayaz dan Rymi serentak.
Marco menghidupkan rokok, “Rymi, aku sudah mengurus di bagian mana posisimu, sementara Ayaz kau yang akan melakukannya kali ini!”
“Siap Bos!”
“Ya sudah, kalian bisa pergi, pastikan semuanya aman!”
Ayaz dan Rymi pergi, malam ini sepertinya Ayaz akan menginap di kediaman Rymi, besok pagi-pagi sekali mereka akan melakukan tugas mereka masing-masing.
“Siapa dia?” tanya Rymi, dengan kerlingan mata menggoda Ayaz.
“Bukan siapa-siapa!” jawab Ayaz.
“Bukan siapa-siapa tapi tinggal bersama, aku tidak yakin!” kekeh Rymi.
“Rym!” tegas Ayaz.
“Aku hanya bertanya, kau pastinya akan butuh bantuanku suatu hari nanti, jangan terlalu sombong wahai anak muda!” dengus Rymi kesal. Namun mau bagaimana lagi, Ayaz selalu saja tertutup untuk perihal asmara.
“Jangan kau ikuti jejak Bos, tidak bisa berhubungan dengan wanita, jadi jomlo abadi, kan ngenes! Kamu jangan yah!” ejek Rymi.
Wanita itu selalu tampak ceria, namun jika sudah serius dia akan berubah menjadi garang dan bringas.
“Rym, dia sama sepertimu, hanya seorang teman!”
“Heh, aku tidak percaya, akan aku buktikan pengakuan kamu ini salah!”
“Mau minum?” tanya Rymi.
“Game?”
“Okay, I accept!”
Rymi dan Ayaz masuk ke rumah, menuju halaman belakang.
“So?”
“Yang kalah, harus buka pakaiannya.” jawab Ayaz.
“Heh, dasar modus!”
“Nggak berani?” tantang Ayaz menatap remeh Rymi.
__ADS_1
“Akan aku buat kau menunjukkan isi celanamu! Hahaha.” Rymi tergelak membayangkan tubuh polos Ayaz.
Terakhir waktu itu saat dirinya hampir saja mengalahkan Ayaz di olahraga karate, Rymi hampir saja benar-benar melihat tubuh polos Ayaz, beruntungnya karena tiba-tiba Marco datang, dan Ayaz langsung saja menceburkan diri ke kolam berenang.
Entah mengapa waktu itu Ayaz memilih mengalah dengannya, apa Ayaz tidak tertarik dengan tubuh polosnya, entahlah.
“Heh, jangan mengalah lagi.” Ucap Rymi.
“Hah, memangnya siapa yang akan mengalah!”
Rymi mendekat, mensejajarkan posisinya di hadapan Ayaz, sangat dekat. “Hari itu, jangan kau lakukan lagi, sebaiknya kita ganti saja taruhannya, aku takut sekali melihat tubuh berhargamu, hahahaha!”
“Aku tidak akan mengalah, aku sungguh penasaran, tidak peduli meski ada yang bilang, lekuk badan siapa tak doyan namun kecerdasan bikin penasaran, karena isi kepala ada-ada saja, tapi isi celana itu-itu saja! Hahahaha!”
“Ayaz sialan!” umpat Rymi.
Ayaz tersenyum smirk,
Maafkan aku Rym, aku hanya ingin lihat bagaimana tubuhku bereaksi jika melihatmu polos nanti, aku harus meyakinkan sesuatu.
Apa aku dan Yaren, benar-benar hanya hasrat, atau aku memang memiliki perasaan terhadapnya.
...***...
“Sebenarnya, di mana aku bisa menemukan petunjuk keberadaannya?” gumam Sam. Orang kepercayaan Donulai sudah dirinya kerahkan untuk mencari keberadaan Ayaz, namun sayangnya belum juga ada tanda-tanda Ayaz berada di Negara yang sama dengannya.
Sam bahkan tidak tau, apakah Ayaz masih hidup atau sudah tiada.
“Desa itu, apa aku harus pergi ke desa tempat Ayaz diasingkan dulu!”
“Tidak, tidak. Desa itu wilayah kekuasaan Sian, tidak mungkin Ayaz kembali ke desa itu.”
“Hemmm!” Sam memejamkan matanya, dalam hening dirinya berpikir keras.
“Perusahaan ini sudah berganti nama, dengan pengaruhnya yang begitu besar, aku yakin Sian pasti akan menawarkan kerja sama dengan perusahaan ini.”
“Aku sudah tidak sabar melihat wajah busuknya itu, akan kubawa dia ke neraka.”
Sam mengepalkan tangannya, wajah Sian yang dilihatnya membuat Ayaz menjadi buta dan menyiksa dirinya dan Ayaz di tempat pengasingan masih terbayang di ingatannya, kalau bukan karena keluarga Donulai yang membantunya meloloskan diri, mungkin saat ini Sam sudah tinggal nama.
Sam bangkit menuju dapur, mengambil susu dingin di kulkas, kemudian menuangkannya di gelas, memanaskannya di microwave.
Hidupnya sungguh menyenangkan dengan fasilitas yang ada.
Diingatnya sebuah percakapan antaranya dan Tuan Donulai.
Flashback.
“Kau tidak bisa mengungkap siapa dirimu jika tugasmu belum selesai, jangan menjadi bangga karena sebuah status, ingat itu dan tanamkan dalam hatimu, bawa dia ke hadapanku hidup-hidup, aku sendiri yang akan membunuhnya!”
“Dan juga anak itu, kau harus membawa kabar baik tentang anak itu, temukan dia!”
“Iya Ayah!” sahut Sam.
Sam berjalan dengan pelan meninggalkan Tuan Donulai, sudah ada beban berat yang tertampung di pundaknya.
“Tuan Muda!” ucap salah satu orang suruhan Tuan Donulai.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Sam.
__ADS_1
“Sudah, Tuan Muda bisa berangkat sekarang.”
Sam mengangguk, dia harus kembali ke negara yang begitu banyak membuatnya menderita.
Flashback off.
“Tinggg.” Suara microwave membuyarkan lamunan Sam. Pemuda itu gegas bangkit mengambil susu hangatnya di microwave.
Menenggaknya pelan, dia masih memikirkan cara bagaimana baiknya untuk memulai kerja sama dengan perusahaan Sian, meski dirinya juga yakin Sian pasti tertarik untuk mengajukan kerja sama terlebih dahulu pada perusahaannya.
...***...
Bugh, bugh.
Ayaz dan Rymi masih saling beradu kekuatan, keduanya sama-sama terlatih, sama-sama juga belum mau mengalah.
“Menyerah saja!” ejek Rymi di sela-sela permainannya.
“Hahaha, tidak semudah itu Baby!”
Bugh bugh,
Hampir satu jam berlalu, namun tidak ada tanda-tanda keduanya akan berhenti.
Tap!
Tiba-tiba tangan Rymi dan Ayaz saling memegang, napas keduanya memburu.
“Kau kalah!” ucap keduanya serempak.
“Heh!”
“Byurrrr!” Ayaz menarik tangan Rymi, menjatuhkan tubuhnya dan Rymi pada kolam berenang.
“Ayaz gila! Aku belum kalah, dasar!”
Malam ini Ayaz gagal, dirinya kembali mengalah dan memilih menyudahi permainan. Dirinya tidak tega jika harus melihat Rymi melepas seluruh pakaiannya, kedekatannya dan Rymi sudah bagai saudara, jika pun ada perasaan di antara mereka namun tidak seharusnya dirinya memanfaatkan Rymi, apa lagi jika Ayaz tidak memandang Rymi sebagai seorang wanita yang disukainya, hal itu sungguh brengsek bukan.
Karena sudah tercebur ke kolam berenang, baik Ayaz maupun Rymi memilih untuk menikmati dinginnya air kolam, membasahi tubuh mereka sambil sesekali melemparkan tawa.
“Bagaimana pencarian Ayah kandungmu?” tanya Rymi. Setengah badannya dan Ayaz masih berada di air, sementara tangannya bertumpu pada tepian kolam.
“Mungkin setelah misi ini aku akan berangkat ke Itali, mencari keluarga Ibuku!” jawab Ayaz.
“Itali?”
“Ya!”
“Kau, dari mana kau tau keluarga Ibumu berada di sana?” tanya Rymi.
“Tuan Marco bilang begitu, dia menyuruh anak buahnya untuk mengumpulkan informasi terkait Ibuku, katanya almarhumah nenekku adalah anak yang terbuang, karena menikahi pria biasa di negara ini. Ah, sudahlah, silsilah keluargaku terlalu rumit, namun Marco bilang Nenekku sudah berada di Itali cukup lama, mungkin saat suami beliau meninggal.” Jelas Ayaz.
“Apa Marco tau siapa nama-nama keluargamu?” tanya Rymi penasaran.
“Sayangnya tidak, cukup rahasia, Marco belum selesai mengusutnya, petunjukku hanya Nindi Rowans, nama almarhumah!” terang Ayaz lagi.
Rymi mendesah berat, cukup rumit dan malang segala yang dialami sahabatnya itu.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...