
"Ini gila!" pekik Amla.
Tangannya sudah diborgol, diseret secara paksa untuk memasuki sel tahanan. Amla masih tidak percaya bahwa mengapa dia bisa terlibat dalam kasus kematian suaminya, sedang dirinya tidak pernah melakukan apapun. Namun tidak ada satupun wajah yang mempercayainya, ini sungguh pelik, ia benar-benar difitnah.
"Lepaskan aku! Hei kalian akan menyesal, bukan aku yang melakukannya, bukan aku!" berangnya semakin keras.
"Ayaz Diren, Ayaz Diren lah pelaku yang sebenarnya! Kalian menuduh orang yang salah!"
"Nyonya, sekali lagi anda bicara maka kami tidak akan segan-segan melakukan tindakan!" ancam sipir penjara memberikan peringatan.
"Heh, aku akan mengatakan yang sebenarnya, kalian telah tertipu, telah dipermainkan, bahkan aku meragukan kinerja kalian sebagai seorang polisi, mana mungkin bisa melepaskan penjahat begitu saja, hahahaha!"
Amla menatap penuh kebencian pada pihak kepolisian di hadapannya itu.
"Ayaz Diren lah yang melakukannya, kalian sungguh benar-benar menjadi permainannya!"
"Dan lalu anda... Apa?" tanya ketua penyidik yang menemuinya lagi, dia mendengar kegaduhan dan baru saja sedikit berbincang dengan rekannya mengenai tentang Ayaz Diren, jadi dia langsung menuju ke sel tahanan Amla untuk mengatakan sesuatu.
"Heh!"
"Apa anda hendak melimpahkan kesalahan pada orang yang telah tiada, supaya anda bisa bebas? ketahuilah, anda tidak akan bisa dengan mudah lolos dari sini!"
"Pengacaraku akan mengurus ini, aku akan melayangkan tuntutan untuk instansi kalian!" ancam Amla.
__ADS_1
Amla benar-benar marah, selama ini tidak ada yang bisa memperlakukannya dengan begitu buruk seperti ini, pria itu meksipun sudah mati namun masih saja bisa membuatnya kesal seperti ini, umpatnya tentang Ayaz.
"Silakan!" ketua penyidik menjeda ucapannya, menatap mata penuh kebencian Amla lamat, mengapa wanita itu sama sekali tidak menyadari kesalahan, sungguh wanita yang kuat biasa, seolah melakukan tindak kejahatan adalah hal yang biasa.
"Kasus orang tuanya Tuan Rangga, Erra dan Romi, mereka sudah memberikan keterangan, mereka mengatakan telah di sekap selama empat tahun lamanya oleh almarhum Tuan Sian dan anda!" ungkap Penyidik.
"Apa?" Amla sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, mengapa bisa seperti itu, bukankah Erra dan Romi adalah senjata terakhirnya, tapi mengapa keduanya pun tiba-tiba mengkhianatinya? Bukankah Erra dan Romi saat ini sedang mengalami gangguan mental, mengapa mereka bisa mengungkapkan fakta yang sebenarnya? Pikir Amla keras.
"Apa ada masalah Nyonya?"
"Bagaimana bisa? Dia, dia tidak bisa mengatakan itu tanpa bukti, gelandangan itu mulutnya tidak bisa dipercaya!"
"Tapi mereka mengatakan siap bersaksi!" sahut penyidik.
"Ada apa? Apanya yang tidak mungkin? Apa ada sesuatu?"
Amla menggeleng, tangannya dengan erat memegang jeruji besi itu, "Apa yang mereka katakan adalah kebohongan!"
"Ah ya? Mengapa kiranya anda begitu yakin?"
"Karena itu tidak mungkin terjadi, mereka tidak bisa mengatakan itu!"
"Karena mereka mengalami gangguan mental? Begitu?" tebak ketua penyidik yang semakin membuat Amla terkejut.
__ADS_1
Alma bahkan mundur karena saking tidak percayanya, "Apa..."
"Apa maksud saya? Bagaimana saya bisa mengetahui hal itu? Anda berpikir tidak mungkin kedua orang yang menjadi tawanan anda itu bisa mengatakan hal yang akan merugikan anda? Karena selama empat tahun lamanya anda memberikan mereka narkoba untuk membuat mental keduanya terguncang?"
"Apa saya baru saja membeberkan fakta yang sebenarnya?"
"Apa anda terkejut?"
"Sama! Saya juga, karena benar-benar tidak menyangka bahwa kenyataannya ada orang segila anda!"
"Kau..."
"Tidak akan ada siapapun pengacara yang bisa menolong anda dengan catatan kasus demikian!"
"Kematian saudara Dale Adrie, kematian Tuan Sian Atlas Huculak, penahanan terhadap dua orang yang dengan sengaja telah anda buat mengalami gangguan mental, anda pikir saya main-main mengatakan ini? Hidup anda bahkan tinggal menghitung hari, karena saya... Dengan kesalahan-kesalahan yang anda perbuat ini, tidak ada yang lebih pantas dari hukuman mati yang akan kami berikan pada anda!"
"Aapaa..."
"Merenunglah, setidaknya di sisa-sisa hidup, anda bisa menyadari betapa besar kesalahan anda!"
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
__ADS_1