Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku sudah tau!


__ADS_3

"Sayang..." Ayaz memeluk mesra istrinya itu dari belakang, mengecup telinga dan leher Yaren berkali-kali, aroma harum khas istrinya ini akan selalu ia rindukan nantinya.


"Ada apa?" tanya Yaren heran sembari menahan geli.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ayaz, ia membalikkan tubuh Yaren menjadi menghadapnya, "Apa kau sedang bahagia?" lanjutnya.


"Ayaz... Ada apa?" balik tanya Yaren, mengapa suaminya tiba-tiba menanyakan itu.


"Tidak apa, aku hanya bertanya, kau cantik sekali!" ucap Ayaz seolah tidak mau berhenti memuji Yaren.


Yaren tersenyum, "Kau ini!" mengacak gemas rambut Ayaz, lalu memeluk suaminya itu dengan sayang.


Namun, Yaren merasakan keanehan kala Ayaz mengeratkan pelukannya bahkan ketika Yaren ingin mengurai pelukan itu Ayaz seolah tidak mengizinkannya.


"Seperti ini saja! Aku hanya ingin memelukmu lebih lama dari biasanya!" gumam Ayaz pelan.


"Sayang, are you ok?" tanya Yaren was-was.


"Aku baik-baik saja!" jawab Ayaz.


"Tapi..."


"Aku hanya ingin memelukmu Yaren, aku ingin menghirup aroma tubuh istriku ini, kau selalu berhasil menjadi canduku!" sahut Ayaz tidak membiarkan Yaren bertanya.


Yaren mengangguk dalam pelukannya, "Ya baiklah, kau boleh memelukku sepuasmu!"


"Apa kau ingin tidur?"


"Ayaz, tapi ini belum terlalu malam!" jawab Yaren.


"Aku ingin tidur! Maukah kau menemaniku?"

__ADS_1


"Ayaz, kau ini bicara apa?" wajah Yaren memerah karena perkataan yang dilayangkan Ayaz.


"Istriku yang cantik..." Ayaz mengurai pelukannya lalu membawa Yaren ke sisi ranjang, "Bisakah, kau berjanji satu hal dariku?" tanya Ayaz saat mereka sudah duduk.


"Apa?"


"Aku hanya ingin tidur lebih lama hari ini, rasanya setelah seharian bekerja, aku hanya ingin ditemani istriku ini!" adu Ayaz.


"Ayaz... Ya sudah, kalau begitu ayo kita tidur, aku akan menemanimu!" jawab Yaren.


"Kau harus berjanji, kau tidak akan kemana-mana!" pinta Ayaz.


"Hemmm, ya aku berjanji!" ucap yakin Yaren.


"Memangnya siapa juga yang akan pergi, hatiku sudah bertaut padamu!" ucap Yaren yang baru pertama kali mencoba menggombal.


Terbitlah seulas senyum dari bibir Ayaz, ia lagi-lagi membelai lembut pipi istrinya, seolah ingin lagi dan lagi.


"Aku juga Ayaz, aku juga..." balas Yaren.


Wajah Ayaz semakin mendekat, lalu dengan pasti bibir keduanya pun bertemu, Ayaz ******* lembut candunya itu, menahan tengkuk Yaren untuk memulai ciuman yang lebih dalam dan menuntut, mereka berciuman begitu lama, Ayaz memejamkan matanya, melepaskan seluruh beban pikiran yang melandanya, kini hanya ada Yaren, dia milik Yaren seutuhnya.


Ayaz membaringkan tubuh Yaren di ranjang, dikungkungnya tubuh itu dengan bibir yang masih bertautan, Ayaz mulai menjam*hi Yaren, memberikan kepuasan dan kenikmatan untuk istrinya itu.


Tunggu aku, sebentar lagi... Aku hanya butuh kepercayaanmu, percaya bahwa aku akan kembali untukmu...


Setelah mengucapkan itu dalam hati, Ayaz benar-benar larut dalam pergulatannya bersama Yaren, keduanya tampak menikmati olahraga malam itu.


...***...


"Rym... Aku sudah mempersiapkannya, apa kau sudah melakukan tugasmu?" tanya Marco tiba-tiba datang menemui Rymi di kamar.

__ADS_1


"Aku sudah, semuanya sudah ku atur sesuai posisi!" jawab Rymi, ia masih mengamati pergerakan Dean Aries yang asli yang baru saja menempati apartemen yang lumayan mewah itu.


"Kapan mereka akan mengadu?" tanya Marco lagi.


"Sudah mengadu?" jawab Rymi.


"Apa?"


"Yah, mereka sudah mengadu, dan saat ini Ayaz Diren sudah resmi menjadi buron! Hanya media saja yang belum mengekspose itu!"


"Aku sedang memantau setiap pergerakan dan perkembangannya!"


"Apa mereka baru saja mengadukan?"


"Ya, Dean Aries bahkan baru saja pulang dari kantor polisi!"


"Cepat sekali, aku harus mengamankan Yaren, aku akan meminta para maid untuk jangan pernah menghidupkan televisi ataupun membicarakan seputar kasus Ayaz ini!" ucap Marco.


Rymi mengangguk, "Cepatlah Daddy!" pinta RI sembari matanya masih berfokus pada laptop.


Marco pergi dari kamar Rymi, ia mengisyaratkan orangnya untuk mengumpulkan para Maid di mansionnya itu secara diam-diam, namun saat ia ingin mengambil sesuatu dari kamarnya, langkahnya terhenti kala berpapasan dengan Ayaz.


"Ayaz..." serunya...


"Aku sudah tau!" jawab Ayaz cepat, pria itu sudah memakai mantelnya dan menutup wajahnya dengan masker, memakai topi dan sedikit membalut wajahnya dengan perban.


Marco mengangguk, membiarkan Ayaz berlalu dari penglihatannya.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....

__ADS_1


 


__ADS_2