Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kencan!


__ADS_3

"Kau serius?" ucap Sam memastikan.


"Menurutmu?" tanya balik Rymi.


"Yah, akan kusiapkan segalanya." sahut Sam antusias.


Rymi tersenyum manis, pesona seorang Rymi... Jangan salahkan dia, ini hanya bagian dari pekerjaan. Yah, setidaknya.


"Jadi Merve, bolehkah aku bilang ini adalah hari pertama kita?" tanya Sam.


Rymi menyunggingkan senyumnya, wanita itu bangkit dan mulai mendekati Sam. "Apa kau bercanda?" ucapnya.


Sam tampak murung, pria itu tertunduk diam, sepertinya ia terlalu bersemangat berpikiran seperti itu.


"Aku pikir hari pertama kita adalah saat Bapak mencoba mendekatiku, sayang sekali... Aku sepertinya sedikit kecewa!" ungkap Rymi, wajahnya sengaja ia buat seakan-akan begitu menyedihkan.


"Oohh, tidak tidak, bukan begitu maksudku... Yah kau benar, hari pertama kita, yah!" Sam menjadi semakin antusias. Pria itu menjadi salah tingkah karena ucapan Rymi.


Rymi berjalan menuju jendela, melihat ke arah bawah di mana begitu banyak kendaran berlalu lalang, ada beberapa pengamen yang tertangkap dalam penglihatannya. Sekilas Rymi mengingat masa kecilnya, hatinya terenyuh.


"Kalau begitu, aku akan pergi dulu." ucap Sam. Pria itu tidak sabar untuk kencannya malam nanti.


...***...


"Kencan?" tanya Yaren.


"Ya, seperti makan malam lalu kita menikmati waktu berdua, apa kau pernah berkencan sebelumnya? Maaf, aku tidak tau caranya." tanya Ayaz, ia jujur saja tentang masa mudanya.


Yaren menggeleng pelan, sama seperti Ayaz, dirinya pun juga tidak pernah merasakan bagaimana berkencan.


"Tidak apa, kita bisa memulainya dengan jalan bersama." ucap Ayaz.


"Ya baiklah." sahut Yaren.


Keduanya kemudian berkemas, Ayaz sebenarnya bingung harus melakukan apa untuk sebuah kata yang bernama kencan itu. Ini adalah hal baru baginya.


Lima tips kencan pertama dengan gebetan.


1. Usahakan dengan maksimal, guna memberikan kesan baik di mata gebetan,


2. Ciptakan obrolan yang seimbang,


3. Jangan memainkan ponsel,


4. Kenali berbagai batasan,

__ADS_1


5. Tunjukkan sikap ramah.


Sesuatu yang dianggap Ayaz berguna baru saja selesai ia baca dari laman pencarian di ponsel pintarnya. Sedikit canggung, namun untungnya ia dan Yaren sudah sah menjadi suami istri jadi tidak ada ketakutan untuk Yaren menolaknya.


Ayaz sengaja memilih kesan yang santai di kencan pertamanya dan Yaren kali ini, kurangnya pengalaman membuatnya sudah waspada akan segala hal.


Dia pernah mengantar Rymi kencan dengan target mereka dulunya, ia ingat waktu itu Rymi memilih kencan sederhana seperti yang akan dirinya lakukan dengan Yaren saat ini.


"Sudah siap?" tanya Ayaz.


"Iya!" jawab Yaren.


Keduanya lalu benar-benar pergi kencan, jika dulu ia melihat Rymi berkencan menggunakan mobil namun kali ini Ayaz lebih memilih menggunakan motornya saja.


"Kita ke mana?" tanya Yaren.


"Ke suatu tempat." sahut Ayaz, sedikit meninggikan nada bicaranya karena mereka sedang berkendara.


Yaren mengangguk, entah kencan seperti apa yang akan dirinya jalani bersama sang suami.


Lima belas menit berlalu, sampailah keduanya pada pasar malam yang ternyata diadakan di sebuah desa. Ayaz pernah ke tempat seperti ini saat masih kecil dulu bersama Ibunya, hidup dalam kemewahan namun dalam keterbatasan membuat Ibunya hanya bisa membawanya ke tempat hiburan seperti ini saja.


"Kau suka?" tanya Ayaz.


Yaren tersenyum manis, tempat ini baginya adalah kenangan bersama sang Mama, saat masih kecil Yaren sering sekali mengunjungi tempat seperti ini. Bersama kedua orang tuanya, namun semenjak Mamanya meninggal dunia kehidupan Yaren sungguh dalam keterbatasan, apa lagi semenjak Papanya menikah lagi. Raisa dari saat kecil, adik tirinya itu selalu saja iri dengannya.


"Benarkah?" tanya Ayaz.


"Yah, dulu sekali."


Ayaz menggenggam tangan Yaren, membawanya ke salah satu kedai yang berada di tempat hiburan itu.


"Kita makan?" tanya Ayaz.


Yaren mengangguk karena dirinya juga sudah merasakan lapar.


Ayaz melihat sekeliling, tempat itu begitu ramai pengunjung, membuat Ayaz harus mencari bangku kosong untuknya dan Yaren tempati.


"Di sana." tunjuk Ayaz, lalu menuntun Yaren untuk mengikutinya.


...***...


Marco nampak senang mengetahui Rymi sudah mau menuruti perintahnya, anak gadisnya itu kini tengah bersiap-siap untuk kencan pertama dengan Rangga Donulai.


"Besar sekali pengaruh Ayaz, kau tidak akan mengkhianatiku kan?" ucap Marco.

__ADS_1


"Daddy mengharapkan seperti apa?" tanya Rymi.


"Rym, apa yang Ayaz katakan padamu?" tanya Marco.


"Tidak ada, dia hanya menyuruhku untuk mendekati Rangga, sama seperti Daddy." dusta Rymi, yah meski tidak sepenuhnya berbohong.


"Benarkah?" selidik Marco.


"Daddy maunya seperti apa? Aku sudah menurut, apa harus aku batalkan kencannya?" ancam Rymi.


"Eh, tidak tidak... Anak gadis sensitif sekali." ejek Marco.


"Sudahlah Daddy, aku malas berdebat." ketus Rymi.


"Siapa yang mengajakmu berdebat? Aku tanya baik-baik Rym."


"Eh, sebagai anak yang penurut, aku minta, kau harus benar-benar membuatnya jatuh cinta padamu, membuatnya bergantung denganmu, dengan begitu kau bisa dengan mudah menguasainya."


"Daddy, bukankah aku sudah pernah katakan, Rangga hanyalah anak angkat, pewaris utamanya adalah Ayaz, biarkan Ayaz bekerja menurut kehendaknya. Aku yakin Ayaz akan memberikan apa yang Daddy minta." ucap Rymi, ia masih kurang setuju untuk memanfaatkan Rangga.


"Tapi tetap saja dia cukup berguna, lagi pula dia bisa jadi penghalang kapan saja."


"Daddy begitu ambisius, Dad... Kau sudah kaya bahkan jika kau mati hari ini pun tujuh turunanmu akan aman bergelimang harta tanpa harus bekerja." ucap Rymi, namun sejurus kemudian ia tertawa renyah karena menyadari kondisi Ayah angkatnya itu.


"Kau!" berang Marco.


"Ah iya, maaf... Maafkan aku Dad, aku lupa kalau Daddy tidak punya keturunan, hahahaha!" gelak tawa Rymi tidak bisa lagi terhindarkan.


"Sudahlah Rym, apa kau baru saja menyumpahiku untuk mati lebih cepat? Dasar durhaka!" delik Marco.


"Dad, aku hanya bercanda!" sahut Rymi santai.


"Justru itu Dad, aku rasa Daddy sudah cukup kaya saat ini, lalu apa lagi yang Daddy kejar? Harta tidak akan dibawa mati Dad, dan sayangnya kalau Daddy mati maka aku yang akan kaya mendadak." ucap Rymi sembari masih tertawa renyah.


"Kau, beraninya!" berang Marco. Namun dalam hatinya tersenyum geli.


"Cepatlah mati Dad, aku sepertinya mengharapkan itu." ejek Rymi.


"Yah yah, harta ini memang akan jatuh ke tanganmu, maka dari itu berbaktilah sebagai anakku, anggap saja penghormatan-penghormatan terakhirmu." ucap Marco santai, bukannya marah karena perkataan Rymi, mungkin karena terlalu sayang dengan anak angkatnya Marco malah menganggapnya santai saja.


Sehat selalu Daddy, entah kenapa aku tidak bisa kehilanganmu...


"Hei, anak gadis! Kiranya... Apa kau tidak berniat untuk menikah Rym?" tanya Marco tiba-tiba, "Aku sudah semakin tua, mungkin sudah saatnya, carilah seseorang yang bisa membahagiakanmu... Jangan menjadi sepertiku yang tidak percaya akan pernikahan. Kalau kau, aku yakin kau bisa bahagia. Yang terpenting, jangan memandang seseorang karena harta, asalkan dia bisa menyayangimu dan mau berjanji akan selalu bersamamu sampai akhir, itu cukup saja." ujar Marco yang sepertinya mulai serius.


"Hah?"

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2